Rabu, 25 Maret 2009
Cairan Berbau Dari Kelamin Si Upik
dr. Waldi yang baik,
Putri saya (19 bulan) berat badannya 8,9 kg. Agak kurus, ya? Hal ini tak masalah bagi saya. Biar kurus, ia jarang sakit, lho! Tapi yang mengkhawatirkan, asalah vaginanya.
Ketika ia berusia 16 bulan, di popok-sekali pakai-nya ada cairan kuning kehijauan (setiap tidur siang dan malam selalu saya pakaikan popok-sekali-pakai agar tidurnya nyenyak). Saya lalu membawanya ke bidan dekat rumah, tapi bidan tak memberi jawaban apa pun. Bidan hanya memberi obat oles dan puyer yang diminum 1 x 1 hari (saya tak tahu apa nama obatnya).
Cairan yang keluar tak banyak dan hanya terjadi 1 hari saja. Tapi, esok harinya vagina anak saya masih bau. Setelah ia berusia 18 bulan, cairan yang sama saya temukan lagi. Saya lihat di vaginanya memang ada cairan itu.
Cairan yang keluar juga tak banyak dan hanya 1 hari, berwarna kuning kehijauan (seperti keputihan pada orang dewasa). Setiap mandi selalu saya cuci bersih, tapi kenapa kemaluannya masih bau? Bagaimana caranya agar tak bau, dan apa sebenarnya cairan itu? Apakah berbahaya baginya di masa mendatang? Apa mungkin anak sekecil itu keputihan?
Waktu hamil, saya mengalami keputihan. Kata dokter yang memeriksa, keputihan saya disebabkan kandida. Saya juga mengalami pecah-pecah seperti sariawan di kemaluan saat hamil, kata dokter, herpes. Apakah semua ini ada hubungannya dengan kemaluan anak saya yang bau saat ini? Jika cairan itu muncul lagi di vagina anak saya, apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.
Ibu AT - Sungailiat
Ibu AT di Air Kenanga,
Bagaimana kabarnya provinsi baru Ibu di sini? Pembangunannya pesat ya, sejak melepaskan diri dari yang lama? Saya dengar ibu kota baru sedang ditegakkan di sini. Di Jakarta, di Taman Mini Indonesia Indah, juga sedang diselesaikan Anjungan Bangka Belitung bersama beberapa provinsi baru lainnya. Jika sudah selesai, kita mesti melihatnya nanti, untuk meyakinkan isi anjungan itu memang beda dengan anjungan Provinsi Sum-Sel, mantan ibu kandung-nya.
Berat putri Ibu kurang, syukurlah jika perkembangannya bagus. Berapa berat lahirnya? Sebagian anak kita tumbuh dan tetap kecil bukan lantaran sakit tetapi memang berasal dari keluarga yang kecil-kecil. Tak usah minder punya anak mungil, bahkan boleh malu jika punya anak gembrot, sementara orang tuanya ramping sekali. Orang bisa bertanya: anak siapakah gerangan?
Jika masih saja vaginanya mengeluarkan cairan berbau, maka pemeriksaan cairan tersebut di laboratorium sudah sangat diperlukan. Kemungkinan yang terdekat adalah infeksi, bisa bakteri atau jamur. Bukan itu saja, infeksi di daerah kelamin dapat menjalar ke tempat lain: saluran kemih. Bahkan, pemeriksaan urin juga diperlukan untuk menyisir kemungkinan terjadinya infeksi akibat penjalaran kuman tersebut.
Mengapa tak hilang setelah Ibu cuci? Karena yang Ibu bersihkan hanya daerah luarnya saja. Apakah Ibu pernah bawa ke dokter, dan dokter melihatnya dengan cermat keadaan itu? Membawa ke bidan bisa menunda pengobatan karena bidan tidak mahir untuk semua penyakit anak/ bayi.
Tugas utama bidan menolong persalinan normal, bukan mengobati anak/ bayi. Bisa jadi pengetahuan tentang pengobatan bayi/ anak didapatkannya ketika bekerja bersama dokter di rumah sakit/ puskesmas, dan jika tak lengkap pengetahuannya, pengobatannya bisa salah. Untuk pengobatan beliau yang keliru, sulit meminta pertanggungjawabannya karena kita juga yang meminta untuk mengobatinya, dan lebih parah lagi: anak yang minum obat itulah yang menanggung efek obat salah yang diberikan (termasuk efek sampingnya).
Biasanya pada keadaan yang masih baru, pengobatan sendiri dengan antiseptik ringan dapat menghasilkan perbaikan.
Antiseptik ringan yang kuno tetapi masih bagus (karena juga menghilangkan gatal dan ada sedikit antijamurnya) adalah larutan KMnO4 (kalium-permanganat) atau dikenal dengan PK. Walaupun ringan tetapi hati-hati dengan penyimpanan bubuknya, karena menjadi sangat berbahaya bila tertelan.
Antiseptik yang baru (setengah lama?) misalnya povidon (nama dagangnya antara lain Betadine ®). Agar obat bekerja dengan baik, maka merendam bagian pantat/ kelamin anak dalam larutan tersebut (setelah dicampur dengan air) merupakan metode yang sederhana tetapi efektif.
Keputihan yang pernah terjadi pada Ibu tampaknya bukan penyebab mengapa kelamin anak Ibu bermasalah saat ini. Saat ini Ibu tak lagi keputihan, bukan? Tentang apakah Ibu pernah terinfeksi herpes atau bukan, saya tak berkomentar lebih jauh. Jika benar herpes (herpes simpleks, bukan herpes zozter) maka persoalan (untuk Ibu) bisa lebih serius karena bisa menyangkut hal-ihwal penyakit kelamin.
Pada anak kecil, herpes (jenis herpes simpleks) baru sangat kita takuti bila tertular semasa janin dalam kandungan (terutama saat awal mula kehamilan Ibu), atau bila herpes menyerang susunan saraf pusat.



Twitter
Google
Lintas Berita
Facebook