Membership
Lupa password?
Anak

Waspada Penyakit Musim Pancaroba
Kamis, 15 Juli 2010
Anak Sakit

Foto: Agus Dwianto

Pergantian musim menjadi ajang merajalelanya penyakit-penyakit tertentu. Cari tahu penyakit apa saja yang berpotensi di musim pancaroba!

Saat pancaroba, tak hanya debu atau banjir yang membuat pusing, penyakit tropik pun berdatangan. Nah, agar lebih waspada akan penyakit-penyakit di musim pancaroba, dr. Adji Suranto SpA., dari RS Usada Insani Tangerang , memaparkan penyakit-penyakit tersebut dan cara mencegahnya.

ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas)

Pada saat peralihan musim penghujan ke musim kemarau, keluhan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) bisa mendadak marak sekali. Mulai dari rhinitis, sinusitis, faringitis, tonsilitis hingga laringitis. Umumnya gejala ISPA dapat berupa demam, batuk, pilek atau bersin maupun sakit tenggorokan.

Menurut Adji maraknya kasus ISPA di awal musim kemarau, memang mengikuti perubahan lingkungan yang merupakan sarana kondusif bagi kuman penyebab ISPA untuk memperbanyak diri. Selain ISPA, penyakit alergi seperti asma atau rhinitis juga sering muncul. Pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau yang berudara dingin dan kering serta banyak debu juga bisa memicu asma kambuh.

Diare

Tingginya volume curah hujan penyebab banjir, kencangnya angin penyebab debu beterbangan, membuat risiko tercemarnya makanan/ minuman oleh kuman atau parasit penyebab diare kian meningkat.

“Apalagi kalau air yang digunakan untuk mencuci peralatan makan kurang higienis, sudah tentu membuat kuman mudah masuk ke tubuh kita,” ungkap Adji.

Infeksi bakteri, parasit, dan virus pada saluran pencernaan yang masuk lewat makanan/ minuman ini kerap diidap anak dan balita karena sistem kekebalan tubuh yang belum optimal.

Jangan meremehkan diare. Bila anak mengalami buang air besar yang terlampau cair terus menerus, sebaiknya perhatikan intake cairan anak. Memberikan minum yang cukup atau cairan oralit sangat banyak menolong penderita, terutama menstabilkan elektrolit tubuhnya dan menurunkan risiko perburukan. Intinya, tetap perhatikan asupan cairan penderita.

Flu

Umumnya diawali dengan gejala seperti demam, batuk pilek, rasa kedinginan (menggigil), nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Berbeda dengan diare, flu dapat ditularkan lewat droplet dari batuk atau bersin orang yang menderita flu, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi virus influenza. Jangan terlalu sering menyentuh daerah mulut dan hidung pada musim tersebut!

Namun virus ini juga dapat dilemahkan oleh sinar matahari, sabun dan desinfektan, sehingga masih dapat ditekan risiko penularannya.

Disentri

Gejala utamanya berupa diare, dengan tambahan lain seperti BAB disertai lendir maupun darah dan biasanya disertai demam. Disentri dapat disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella, E.coli, Salmonella dan Campylobacter jejuni . Selain itu pada anak balita juga dapat disebabkan infeksi protozoa parasit seperti Entamoeba hystolitica .

Pada musim pancaroba, disentri mudah menular melalui makanan/ minuman yang terkontaminasi. Penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi sehingga perlu mendapatkan penanganan dokter sesegera mungkin

Batuk

Batuk pada dasarnya merupakan mekanisme tubuh mengeluarkan benda asing yang berada di saluran pernafasan atas. Salah satunya, bisa disebabkan oleh flu atau ISPA yang menyebabkan terjadinya lendir atau radang saluran pernafasan.

Di musim pancaroba, di mana virus flu dan kuman penyebab ISPA banyak berkembang biak, batuk pun semakin menjadi. Menanganinya, perlu dilakukan penegakan diagnosis dahulu penyebab maupun etiologinya, barulah pengobatan bisa diberikan sesuai dengan penyakit yang diderita.

Tifus dan Paratifus

Kuman Salmonella typhosa ini yang banyak berada dalam air kotor yang tergenang maupun tanah, dapat berpindah ke makanan/ minuman dan masuk ke dalam saluran pencernaan. Kuman ini kemudian menjadi penyebab radang usus halus, menimbulkan gejala demam tinggi, menggigil, rasa lemah/ letih, sakit perut, hilang nafsu makan dan terkadang disertai mual-muntah.

Diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosisnya. Bila positif, sebaiknya segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan secara tepat agar tak terjadi komplikasi penyakit dan berakibat fatal.

Demam Berdarah Dengue

Di musim pancaroba, demam berdarah dengue bisa jadi mewabah kembali. Umumnya pada kantong-kantong endemik DBD, sehingga dipastikan masih ada perkembang biakan nyamuk aedes aegipty .

Di awal infeksi, orang yang menderita DBD akan mengalami demam disertai sakit kepala, sakit perut, dan nyeri sendi mirip dengan gejala flu. Namun bila sudah berjalan beberapa hari, kondisi tubuh penderita biasanya semakin lemah. Dapat muncul perdarahan spontan pada kulit berupa bintik-bintik merah (disebut petekhie ), mimisan, perdarahan gusi dan lain-lain.

Pada hari ke-3 demam, dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap pasien untuk menegakkan diagnosis. Penderita DBD memerlukan intake cairan yang banyak untuk mencegah terjadinya syok serta perburukan yang bisa datang dengan cepat. Sebaiknya bila menderita gejala seperti demam tinggi mendadak, disertai sakit kepala, sakit perut dan tidak memberikan respon yang baik terhadap obat penurun panas, harus segera berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan semenjak dini. Serta jangan lupa untuk selalu banyak minum.

Hepatitis A

Di musim pancaroba, Anda juga perlu mewaspadai penyakit hepatitis A. Virus ini dapat menyebar melalui makanan/ minuman dan menginfeksi organ hati.

Penyakit ini ditandai dengan rasa mual-muntah yang terus menerus, lemah/ letih, serta demam dan dapat menyerang segala usia. Pada tahap lanjut, gejala hepatitis A juga bisa diikuti dengan seluruh kulit, dan sklera mata berwarna kuning. Bila menemukan gejala demam disertai bagian putih bola mata berwarna kuning, sebaiknya penderita segera memeriksakan diri ke dokter.

Cegah dengan Jitu!

Meski seperti bisa diramalkan, penyakit di musim pancaroba masih bisa dicegah, lho! Berikut beberapa caranya.

1. Imunisasi

Cegah beberapa penyakit yang mungkin muncul di musim pancaroba dengan memberikan vaksin semenjak dini. Di antaranya, vaksin untuk demam tifoid, hepatitis A, vaksin campak dan sebagainya.

2. Makan Bergizi

Konsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang terutama yang tinggi kandungan protein, vitamin A, vitamin C sebagai antioksidan dan mineral terutama seng (zinc), agar tubuh memiliki cukup pertahanan.

3. Pelihara Lingkungan

Putuskan mata rantai penyakit dengan menjaga lingkungan tetap bersih. Dan, hindarkan anak-anak dari tempat yang berpotensi menularkan penyakit seperti rumah sakit.

4. Lakukan Kebiasaan Baik

Bersama keluarga lakukan kebiasaan seperti mencuci tangan setiap akan makan dan setelah bepergian, karena terbukti mampu menurunkan angka kematian bayi, diare dan risiko flu burung.

Laili Damayanti

Views : 1701

blog comments powered by Disqus