Senin, 27 April 2009
Tanaman Berkhasiat Obat Buat si Kecil (2)
Namun, Adji mengingatkan, sebelumnya pilihlah wadah berbahan pyrex, keramik, tanah, atau stainless steel untuk merebus semua ramuan obat tadi (infusa dan dekok). Jangan memakai alumunium, sebab logam ini dapat bereaksi dengan tumbuhan obat saat direbus.
Menurut Adji, setiap rebusan obat ini perlu ditambahkan madu. Selain berkhasiat, manisnya madu berfungsi untuk menetralisir rasa pahit, sepat, atau rasa tidak enak lainnya yang dapat muncul dari tanaman obat.
“Untuk anak-anak, rasa (manis) akan sangat berperan agar enak diminum,” saran Adji. Bila tidak ada madu, gula jawa dapat dijadikan pengganti atau penambah rasa manis. Alternatif lainnya, “Bisa ditambah kayumanis, jahe, cengkih, atau papermint agar rasanya lebih segar dan beraroma,” imbuh dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur ini.
Secara umum, lanjut Adji, tanaman obat untuk anak yang biasa dipakai secara turun menurun antara lain jahe, bawang merah, bawang putih, kencur, adas, kunyit, temulawak, asem jawa, jeruk nipis, sambiloto, lempuyang, brotowali, bangle, belingo, dan lain-lain.
Adji juga berpesan, agar obat tradisional ini sebaiknya diberikan untuk bayi berusia 1 tahun ke atas. “Menurut saya, bayi di bawah 1 tahun belum siap untuk diberikan obat herbal. Cukup diberikan ASI eksklusif saja. Kecuali untuk obat luar atau topikal, obat herbal masih boleh diberikan.“
Nah, apakah Anda sudah memiliki sejumlah tanaman berkhasiat obat di pekarangan rumah? Jika belum, ada baiknya Anda mulai menanamnya mulai dari sekarang agar tak pusing dan panik lagi bila Si Kecil tiba-tiba sakit di tengah malam. Tidak sulit, kok, dan tak perlu lahan yang luas. Tanaman-tanaman berkhasiat obat ini bisa juga tumbuh baik meski ditanam di dalam pot. Selamat berkebun tanaman herbal!
Ahmad Tarmizi

