Membership
Lupa password?
Anak

"Kok, Ngiler Terus, Sih?
Minggu, 14 November 2010
Anak 64 2

B ayi ngiler  sering dikaitkan dengan ngidam yang tak kesampaian. Benarkah? Bagaimana pula dengan tumbuh gigi? Hati-hati, lo, ngiler  juga bisa merupakan gejala penyakit.

"Pasti, deh, waktu hamil ngidam nya enggak keturutan.  Makanya, anaknya jadi ileran terus." Begitu, kan, komentar yang sering kita dengar?

Padahal, seperti dikatakan dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A,  tak ada satu pun kepustakaan yang mendukung penyebab bayi iler an adalah ngidam nya ibu yang tak kesampaian. "Masalah ngidam  pun sebenarnya bukan 'masalah internasional', tapi lebih pada kekhasan yang dimiliki kultur Indonesia. Jadi, cuma Indonesia yang mengenal istilah ngidam," tutur dokter spesialis anak pada RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.

Ngidam , menurutnya, mungkin merupakan refleksi bawah sadar yang biasanya dapat dicari solusinya, karena mengidam bisa jadi ada latar belakang psikologisnya. Itulah mengapa, Waldi berpendapat, tak ada kaitan antara ngiler nya bayi dengan ngidam nya ibu yang tak kesampaian. Jadi, Bu-Pak, anggapan tersebut cuma mitos belaka.

TAK TERTELAN

Ngiler , terang Waldi, biasanya disebabkan produksi air liur yang berlebihan. Ini terjadi ketika air liur "terbit" karena kita melihat makanan yang nikmat atau mengundang selera. "Jadi, air liur yang jumlah sebenarnya cuma beberapa ml akan bertambah." Bahkan, secara ekstrem -seperti dalam filem kartun- keluar meleleh di sudut bibir. Hal ini normal saja. Bukankah bila kita melihat makanan yang mengundang selera akan terasa bertambah air liur sehingga timbul rasa lapar?

"Ini sudah terjadi secara otomatis karena salah satu tujuan ngiler  adalah menyiapkan suasana di mulut agar makanan dapat dikunyah dan diproses dengan lebih baik," lanjut Waldi. Tapi ngiler  yang demikian tak berlaku bagi bayi, lo, karena bayi belum memiliki selera. "Bayi cuma punya refleks mengisap dan menelan." Jadi, kalau bayi lapar, ia tak akan mengeluarkan air liur tapi "cengeng". Lapar atau tidak, ia akan langsung mengisap sesuatu yang berada dekat mulutnya.

Refleks ini tergolong refleks primitif untuk membuat bayi tetap bertahan hidup. Dengan demikian, jika bayi ngiler  tanpa sebab, apalagi pada bayi baru lahir, yang harus kita curigai bukanlah dia ngiler lantaran mau makan tapi karena air liur, yang diproduksi oleh kelenjar air liur, jangan-jangan tak dapat melalui jalan semestinya. Karena, terang Waldi, air liur sebenarnya secara alamiah tetap diproduksi dari waktu ke waktu, "tapi tentunya dengan produksi yang tak berlebihan."

Selain itu, air liur yang normal tak akan kelihatan keluar. Bila air liur sampai keluar berarti enggak normal. Dalam bahasa lain, penyebab ngiler yang kedua ialah produksi air liur normal namun tak dapat tertelan sehingga meleleh di sudut bibir. Jadi, waspadalah, Bu-Pak, bila si kecil ngiler  lebih banyak dari biasanya. Jangan-jangan air liur yang diproduksi normal itu tak dapat masuk ke dalam kerongkongannya.

FAKTOR BAWAAN

Pada bayi baru lahir, menurut Waldi, penyebab ngiler yang berbahaya adalah kerongkongan yang tak terbentuk atau tersumbat secara bawaan. "Bila seharusnya air liur diproduksi secara teratur lewat kerongkongan masuk ke lambung namun si bayi tak dapat melakukannya, berarti pada waktu lahir, kerongkongannya enggak beres," jelasnya.

Memberikan minum pada bayi yang demikian bisa membuat air minum masuk ke jalan yang salah dan fatal. Sayang sekali sampai saat ini tak diketahui persis mengapa ada bayi yang kerongkongannya tak terbentuk sempurna, sehingga mustahillah kita mencegahnya. Operasi merupakan jalan terpilih. Bahkan, kadang potongan kerongkongan itu harus disambung dengan bagian tubuh yang lain karena bagian yang tersumbat atau tak terbentuk cukup panjang.

Disamping faktor bawaan, anak yang mengalami gangguan saraf pusat juga akan sering mengiler karena refleks menelannya tak baik. Biasanya terjadi pada anak yang juga menderita retardasi mental. "Koordinasi otot mulut yang tak baik mengakibatkan refleks menelan yang seharusnya otomatis teratur jadi terganggu, sehingga membuatnya sering ngiler ," terang Waldi. Umumnya ngiler  pada anak retardasi mental akan terbawa hingga dewasa.

Lain hal bila si anak tak mengalami retardasi mental namun ngiler, berarti ada sebab lain yang harus dicari. Soalnya, tutur Waldi, produksi air liur yang berlebihan sebenarnya jarang terjadi. "Seringnya malah penyakit yang menyebabkan berkurangnya air liur." Misalnya, orang yang mengidap penyakit mumps  atau gondongan. "Gondongan menyerang kelenjar air liur di pipi dan menimbulkan peradangan yang mengganggu aliran air ludah. Akibatnya, mulut jadi kering. Jadi, jumlah air liurnya malah berkurang."

RADANG DAN SARIAWAN

Pada bayi, terang Waldi lebih lanjut, ngiler  bisa terjadi karena ada radang di tenggorokannya, yang membuatnya merasa sakit bila menelan. Akibatnya, menelan merupakan proses yang menyakitkan buatnya sehingga air liurnya pun keluar, jadilah ngiler.  "Jadi, kalau bayi sakit tenggorokan, ia tak akan mau menelan air ludahnya.

Nah, kalau air ludahnya saja sudah tak mau ditelan, apalagi minuman dan makanan yang disuapkan kepadanya," tuturnya. Hal yang sama juga akan terjadi bila bayi mengalami sariawan. Baik radang tenggorok maupun sariawan, penyebabnya infeksi. Khusus sariawan, bisa juga karena terluka.

Namun pada bayi, sariawan karena terluka jarang terjadi, lebih sering menimpa anak yang lebih besar; misalnya, karena sikat gigi atau lidahnya tergigit sehingga timbul luka yang lalu menyebabkan sariawan. "Pada bayi, sariawan lebih banyak disebabkan infeksi jamur," terang Waldi kemudian. Misalnya, pemakaian dot kurang bersih sehingga jamur yang ada di dot pindah ke mulut, atau karena pemakaian obat antibiotika yang lama.

Terjadilah apa yang disebut sebagai oral thrush , yaitu sariawan besar-besaran, yang tak menyerang satu tempat tapi menyeluruh. "Otomatis bayi tak bisa minum dan makan karena seluruh bagian mulutnya sakit. Bayi pasti rewel karena kelaparan dan kesakitan." Jadi, Bu-Pak, kalau si kecil ngiler  terus sampai ogah minum dan makan, ini merupakan tanda rawan. Segeralah periksakan ke dokter, mungkin ia mengalami sariawan atau malah radang tenggorokan.

TUMBUH GIGI

Tentu saja, tak semua ngiler  berarti ada penyakit, lo. Misalnya, bayi yang sedang masanya mengigit-gigit segala macam barang, otomatis akan sering ngiler . "Menggigit mainan secara otomatis akan mengeluarkan air liur karena ia mengunyah. Gerakan otot rahang akan membuat air liurnya berlebih," jelas Waldi.

Jadi, normal saja. Begitupun kala bayi tidur dengan posisi miring atau tengkurap dan mulutnya terbuka, ia akan mengiler. Jangankan bayi, orang dewasa juga begitu, kan? Tapi dalam hal ini, ingat Waldi, yang perlu diwaspadai pada bayi bukanlah ngilernya melainkan tidur dengan mulut terbuka, karena bisa saja hal itu menunjukkan bayi mengalami masalah di hidungnya. Apalagi, bayi biasanya tidur dengan mulut tertutup.

Nah, masalah yang paling sering terjadi yang membuat mulutnya terbuka adalah pilek atau influenza. "Bagaimana bisa bernapas dengan enak kalau hidung tersumbat penuh ingus?" ujarnya. Memang, lanjutnya, bayi akan bernapas melalui mulut, tapi pilek, kan, juga membuat semuanya terganggu; bayi akan rewel karena sulit minum sambil bernapas lewat mulut. Keluarga pun uring-uringan. Namun ngiler  yang paling sering terlihat ketika bayi tumbuh gigi, karena gusinya terasa gatal.

"Ini merupakan suatu mekanisme yang alamiah. Bukankah apapun yang merangsang mulut, termasuk gatal, biasanya akan memproduksi air liur? Jadi, normal saja kalau si bayi ngiler ," jelas Waldi. Apalagi, biasanya bayi akan mencari sesuatu untuk digigit karena rasa gatal tersebut, sehingga ngiler nya makin menjadi-jadi. Nah, sekarang sudah lebih paham, kan, Bu-Pak?

Faras Handayani    

Views : 6958

blog comments powered by Disqus