Membership
Lupa password?
Anak

Kok Anakku Sakit-Sakitan, Dok?
Jumat, 19 November 2010
anak1

O rang Tua mana yang tak cemas dan pusing melihat anaknya yang sering sakit. Minggu ini sakit, tiga minggu kemudian terkena lagi. Apa yang salah dan bagaimana mengatasinya?

Adi (3 tahun) sudah dua hari ini batuk disertai demam. Tak hanya kali ini Adi mengalami hal tersebut. Hampir setiap bulan ia mendapat "jatah" sakit. Sampai-sampai sang ibu mengeluh, "Sakit, kok, langganan, ya? Tapi, kalau selalu ke dokter apa juga enggak ada dampaknya, ya?" Neneknya, saudara-saudara dan para tetangga beranggapan sama, "Ah, anak kecil, sih, biasa begitu. Nanti juga sembuh. Makin besar dia makin jarang sakit." Akhirnya sebagai langkah penyembuhan ibu Adi langsung memberikan obat penurun panas begitu anaknya demam. Biasanya dua tiga hari kemudian Adi sudah sehat kembali.

Apa benar anak kecil sering sakit itu wajar? Sebetulnya, kenapa anak sering sakit-sakitan seperti yang dialami Adi? Menurut dr. Kishore R.J., Sp.A, kalau anak sakit tiga bulan sekali memang masih wajar. "Orang dewasa pun kadang-kadang tiga bulan sekali terkena flu," ujar spesialis anak di RSIA Hermina Podomoro ini. Tapi, tidak berarti karena wajar, lantas orang tua bisa cuek bebek.

Misalnya, tidak menganggap serius padahal anaknya bolak-balik sakit. Bahkan, dalam sebulan bisa beberapa kali terkena pilek. Yang penting diketahui, ada anak yang sakit-sakitan karena memang menderita kelainan bawaan sejak lahir dan ada anak yang lahir sehat tetapi sering sakit-sakitan. "Anak yang menderita gangguan imunologis sejak lahir memang akan gampang terserang penyakit. Daya tahan tubuhnya memang rendah sejak lahir, sehingga ia sering infeksi." Jadi, daya tahan tubuh anak memang sudah rentan dari sananya. Selain itu, anak dari ibu yang mengidap HIV positif, misalnya, juga bisa sakit-sakitan, karena daya tahan tubuhnya menjadi rentan.

"Mungkin ia sudah tertular, sehingga daya tahan tubuhnya rendah." Nah, orang tua penting mengetahui penyebab seringnya si anak sakit. Apakah karena bawaan atau karena hal lain. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan langkah-langkah tepat dalam pengobatan. Jadi, bukan dengan menganggap wajar belaka. Yang jelas lagi, Bu-Pak, setiap anak yang sakit, umumnya nafsu makannya pun akan turun. "Kalau nafsu makan turun, otomatis daya tahan tubuhnya turun, sehingga sering terkena infeksi. Kalau sering infeksi, anak kemudian enggak mau makan, sehingga daya tahan tubuh menurun. Akhirnya sakit lagi. Begitu terus lingkaran setannya," lanjut Kishore.

FAKTOR PENYEBAB

Selanjutnya, Bu-Pak, seperti yang telah disinggung di atas, kita perlu tahu penyebab anak sakit-sakitan. Pada anak yang lahir normal tanpa kelainan bawaan, ada beberapa faktor yang membuatnya sakit-sakitan. Yang pertama, karena adanya infeksi kronis. Di Indonesia yang paling sering adalah TBC. "Anak mungkin melakukan kontak dengan penderita TBC, sehingga kemungkinan bisa tertular," ujar Kishore.

Nah, seringkali hal ini tidak disadari orang tua. Umumnya kita langsung mengklaim sebagai keluarga sehat, kan? Padahal bisa saja penderita TBC itu bukan orang rumah, tapi berada di sekitar rumah entah tetangga atau teman sebaya anak. Karena anak juga bersosialisasi dengan lingkungan, kan? Faktor lain, pergantian cuaca. Anak yang punya riwayat alergi dalam keluarga, otomatis akan sering batuk pilek karena pergantian cuaca. Awalnya, memang tidak timbul demam, tapi kalau dibiarkan akan timbul infeksi. "Jadi, udara pun bisa mencetuskan gejalanya." Bila anak sudah punya riwayat alergi sebaiknya cobalah diatasi dengan cara menjauhkan si anak dari faktor pencetusnya.

"Biasanya anak, kan, alergi pada debu rumah. Nah, sebaiknya jangan diberikan mainan boneka berbulu, jangan ada karpet di kamar, kasur dan bantal jangan dari kapuk, untuk menghindari anak alergi." Anak juga bisa sakit-sakitan karena gangguan gizi, lo. Hal ini bisa terjadi bila pola pemenuhan makanan yang tidak sesuai diberikan pada anak. "Gangguan gizi akan mengakibatkan daya tahan tubuh anak terganggu. Kalau daya tahan tubuh menurun, maka anak akan sering sakit. Kalau sering sakit, maka anak akan susah makan, akhirnya kembali lagi sakit. Jadi bolak-balik begitu terus," lanjut Kishore.

Berikutnya, anak yang sakit-sakitan juga bisa karena mempunyai riwayat penyakit tertentu, misalnya, tipus. Karena itu, recovery (penyembuhan) pada anak yang pernah menderita penyakit tertentu harus diperhatikan. "Mungkin saat recovery-nya tidak dibarengi dengan bantuan gizi dan pola pengobatan yang baik. Akhirnya setelah terkena penyakit tertentu, kemudian sembuh, tapi anak kemungkinan jadi sakit-sakitan."

Karena itu, lanjut Kishore, dibutuhkan pendekatan yang baik supaya anak bisa sembuh tanpa gejala sisa. "Tidak hanya diobati penyakitnya, tapi juga diberikan makanan yang cukup, terutama kalori dan protein yang tinggi, misalnya." Mintalah advis atau nasihat dari dokter, misalnya, perlakuan apa saja yang boleh dan tidak untuk membantu penyembuhan. "Yang sering terjadi, begitu sembuh anak langsung pulang, tanpa dokter sempat memberikan nasihat." Misalnya, kalau penderita tipus enggak boleh terlalu capek, enggak boleh terlalu sering jajan karena dikhawatirkan makanannya tidak terjamin dari segi kebersihan dan gizinya, termasuk juga anjuran untuk memberikan imunisasi, dan sebagainya. Nah, yang sering terjadi hal-hal penting yang demikian dibaikan orang tua.

GRAFIK BERAT BADAN

Yang jelas, Bapak-Ibu tak bisa beranggapan anak akan makin sehat seiring dengan perkembangannya. Karena anak bisa mulai sakit-sakitan kapan saja. "Bahkan, bayi baru lahir pun bisa sakit-sakitan," ujar Kishore. Nah, seringnya anak sakit tentu akan berdampak pada tumbuh kembangnya, kan? Untuk mengetahui sejauh mana tumbuh kembang anak terganggu, kita bisa melihat grafik berat badan anak.

"Pada prinsipnya, semakin bertambah umur, anak akan semakin bertambah berat badannya sesuai grafik pola pertumbuhan yang wajar." Kalau suatu saat grafik badan anak tidak naik, apalagi sampai turun, orang tua sebaiknya segera curiga jangan-jangan ada sesuatu yang dialami anak. Kalau cuma terkena flu atau pilek biasa, meski mungkin tiga hari sulit makan, tapi pada fase recovery, anak akan makan lebih banyak sehingga bisa mengejar grafik ketertinggalannya.

"Mungkin berat badannya akan turun sehari, tapi begitu sembuh, berat badannya akan kembali naik," ujar Kishore. Nah, waspadalah jika tidak kembali naik, atau malah cenderung statis atau turun. Berat badan ini tentu bisa dijadikan salah satu indikator pertumbuhan anak. Karena bila berat badan anak berada di bawah garis berat badan normal menandakan ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin gizinya kurang, mungkin ada penyakit tertentu, seperti jantung, TBC, dan sebagainya. Karena itu, yang terbaik segera cari tahu penyebab anak sakit. "Kalau penyebabnya bisa ditemukan dan bisa diatasi, maka masalahnya akan teratasi," lanjut Kishore.

Misalnya, anak yang sering sakit karena TBC. Mungkin saja anak lahir sehat dan pertumbuhannya pun bagus. Tetapi, beberapa bulan kemudian anak sering sakit karena ternyata melakukan kontak dengan penderita TBC di lingkungan rumah. Kalau bisa dideteksi anak tertular TBC dari anggota keluarga, maka akan bisa diobati. "Yang penting bukan hanya mengobati anak, tetapi juga sumber penularannya. Kalau semua anggota keluarga diobati, maka masalahnya akan selesai. Tapi kalau enggak terdeteksi, maka proses itu akan terus berjalan. Sebulan sembuh, terus sakit lagi, begitu berulang-ulang," lanjutnya.

OBAT PENURUN PANAS

Yang juga sering terjadi, orang tua hanya membawa anak ke dokter kala penyakitnya sudah berat. Mungkin karena berpikir anaknya sudah terlalu sering sakit, akhirnya tenang-tenang saja, paling-paling diberi obat penurun panas seperti yang dilakukan Ibu Adi. Penggunaan obat penurun panas, ujar Kishore, boleh saja digunakan selama dalam batas toleransi. Bahkan, lanjutnya, "Obat penurun panas sebaiknya memang harus diberikan untuk pertolongan pertama. Ini upaya pertama untuk memotong lingkaran setan tadi." Kalau anak panas tinggi dan enggak mau makan, akibatnya panasnya akan makin tinggi.

"Kalau satu dua hari sembuh total, enggak apa-apa. Karena memang enggak semua demam harus ke dokter. Tapi kalau ada gejala berkelanjutan, ini yang harus ditangani dokter untuk mencegah kemungkinan anak menderita penyakit lain." Nah, saat konsultasi dengan dokter ceritakanlah dengan detil riwayat penyakit anak. "Jangan menutup-nutupi. Kalau kita enggak terbuka pada dokter, dokter pun enggak akan tahu apa yang terjadi."

Dengan mengetahui riwayat penyakit anak akan memudahkan dokter untuk mengambil tindakan. "Pada prinsipnya, kita mencoba menemukan penyakit sedini mungkin." Nah, penanganannya, kan, jadi lebih mudah bila penyebabnya sudah diketahui. Yang jelas, Bu-Pak, perawatan khusus bagi anak sakit-sakitan lebih bersifat supportive. Bila anak cukup sensitif, lakukan upaya pencegahan dengan menjauhkan anak dari sumber penyakit. Misalnya, tidak dekat-dekat dengan orang yang tengah sakit supaya enggak tertular. Kemudian beri anak kecukupan gizi. "Tak kalah penting beri imunisasi sesuai jadwal. Kendati tidak menjamin seratus persen, minimal gejala yang timbul tidak terlalu berat." Nah, Bu-Pak, kini kita lebih paham dalam menangani si kecil, kan?

Hasto Prianggoro 

Views : 10607

blog comments powered by Disqus