Membership
Lupa password?
Anak

Jangan Anggap Sepele Mata Bintitan
Minggu, 30 Januari 2011
Anak 80 1

Poeguh/nakita

B ukan menakut-nakuti, lo. Sebab kalau tak segera ditangani bisa berlanjut menjadi parah dan mengarah pada keganasan. Serem, kan!

Karena itu, Bu-Pak, sekecil apapun gejala bintitan pada si kecil, langkah tepat adalah mengkonsultasikannya dengan dokter anak kita.

Perlu diketahui, bintitan dalam istilah kedokterannya disebut hordeolum merupakan benjolan kecil yang terjadi pada palpebra (kelopak mata). Penyebabnya, infeksi kuman stafilokok yang apabila tidak diobati secara dini akan mengakibatkan semakin membesar atau meluas. "Tak ubahnya seperti jerawat. Bedanya kalau jerawat terjadi di kulit, sedangkan bintitan berkisar di kelopak mata," jelas Dr. Fatma Asyari, Spesialis Mata dari FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

LEMAK DI BULU MATA

Bu-Pak, di dalam kelopak mata terdapat banyak kelenjar lemak yang disebut kelenjar meibom. "Kelenjar lemak inilah yang terinfeksi." Penyebabnya, debu-debu yang menempel pada bulu mata. Kita tahu, bulu mata, kan, bagian paling kotor dari mata karena berfungsi sebagai filter bagi mata. "Nah, anak-anak, bahkan kita pun sering lupa membersihkannya sehingga bulu mata menjadi kotor karena debu-debu menyangkut di situ." Padahal, debu-debu itu tak selalu datang sendirian, karena bisa jadi ditambahi kuman. "Nah, kuman inilah yang akan menimbulkan infeksi kelenjar lemak di bulu mata," jelas dokter yang praktek di Klinik Mata Mayestik, ini.

Karena itu, saran Fatma, "kita harus membersihkan bulu mata dengan sabun atau sampo bayi saat mandi. Tujuannya agar bulu mata bersih kembali."

Selain itu, bintitan bisa juga disebabkan metabolisme lemak. Tak heran jika anak terkena beberapa kali bintitan, perlu ditanyakan apakah ia terlalu sering minum susu atau makan telur. Sebab, makanan jenis itu menyebabkan metabolisme lemaknya menjadi tidak benar. "Di samping itu, dalam satu kelopak mata terdapat sekitar 20 hingga 30 kelenjar lemak, sehingga bisa saja seorang anak terkena bintitan secara berulang-ulang pada kelenjar-kelenjar yang berbeda."

Menjadi berbahaya jika infeksi tersebut terulang pada satu kelenjar. "Keadaan tersebut besar kemungkinan akan mengakibatkan keganasan atau kanker." Hanya saja, keganasan ini hanya mungkin terkena pada orang yang sudah lanjut usia dan tidak pada anak kecil.

DUA JENIS

Sesuai dengan kondisinya, hordeolum dibedakan menjadi dua; hordeolum eksternum (ada di luar) dan hordeolum internum, (terjadi di dalam kelopak mata). Pada hordeolum eksternum, kuman menempel di bulu mata, masuk melalui pori-pori dan bagian yang terkena adalah kelenjar zeiss dan kelenjar moll yang letaknya memang berdekatan dengan pangkal bulu mata. Sedangkan pada hordeolum internum terjadi pada kelenjar lemak sehingga bagian dalam kelopak mata akan membengkak dan terinfeksi.

Biasanya hordeolum eksternum agak lebih kecil dan letaknya di sebelah luar, tepatnya di sekitar bulu mata. Sedangkan hordeolum internum agak ke dalam dan lebih tebal serta besar sehingga terasa mengganjal pada mata.

Selain dua jenis tersebut, ada juga bintitan kalazion; yang mengeras dan sudah tak aktif lagi. Penyebabnya belum diketahui secara persis, tapi diduga karena gangguan sekresi kelenjar meibom. Hal ini menyebabkan penyumbatan dan menimbulkan reaksi jaringan sekitarnya terhadap bahan-bahan yang tertahan sehingga akan menimbulkan benjolan yang mengeras.

Ketiga jenis tersebut bisa dibedakan dari gejala yang muncul. Biasanya anak terkena hordeolum, awalnya akan tampak suatu benjolan berwarna merah dan terasa sakit bila ditekan di dekat pangkal bulu matanya. Sedangkan pada kalazion, muncul peradangan sangat ringan. "Apabila kista atau kantong ini cukup besar dapat menyebabkan kelopak mata menebal dan teraba suatu benjolan keras di dalamnya sehingga akan menekan bola mata dan dapat menimbulkan gangguan atau penurunan penglihatan."

PENGOBATAN TEPAT

Pengobatan kasus hordeolum biasanya dilakukan dengan memberikan obat antiinfeksi atau antibiotika berupa tablet, kapsul maupun sirup. "Bukan salep, ya," tegas Fatma. Jadi, Bu-Pak, kendati banyak salep yang dijual di pasaran, anjur Fatma, tak perlu digunakan karena tak akan efektif untuk pengobatan bintitan.

Kebersihan serta pola makan pun sebaiknya dijaga jangan sampai bintitan terjadi berulang-ulang. Karena, bisa dipastikan si kecil akan merasa tidak nyaman bila bintitan terus menerus. Selain dari segi penampilan tak nyaman, zat lemak yang merupakan salah satu komponen air mata pun akan semakin berkurang. "Sedangkan mata kita, kan, sangat memerlukan lemak ini untuk lubrikasi atau membuat air mata," jelas Fatma. Misalnya saja, anak kita sering menderita bintitan. Setiap kali dia terinfeksi, maka akan menyebabkan kelenjar lemaknya rusak atau hilang. Sementara air mata sendiri sangat berfungsi untuk memproteksi mata. "Akibatnya kelenjar lemak tak bisa lagi memproduksi lemak dan tentu saja hal ini akan mengurangi kualitas air mata. Sebab zat lemak juga berfungsi untuk mencegah penguapan terlalu cepat atau evaporasi sehingga mata tidak cepat kering." Selain itu zat lemak juga sangat berperan dalam melicinkan bola mata melalui proses lubrikasi sehingga mata juga akan dapat dengan mudah digerakkan.

Jika masih kecil, selain dengan antibiotika, akan lebih baik bila juga dikompres dengan air hangat karena akan membantu mempercepat penyembuhan. Tapi jika sudah membesar, tak akan semuanya hilang dan nanahnya tak bisa dikeluarkan. Karena itu perlu dilakukan insisi atau pembedahan. Memang pada awalnya infeksi hanya memerah.

Saat itulah sel-sel darah putih yang berfungsi menghancurkan kuman sedang aktif bekerja. Kalau kondisi tubuh kita sedang dalam keadaan bagus, sel-sel darah akan dapat bekerja dengan baik sehingga kuman akan kalah dan dengan sendirinya bintitan akan hilang. Tapi jika sel darah yang kalah, lama kelamaan akan melembek dan menimbulkan nanah. "Pada prinsipnya nanah harus dikeluarkan dari dalam tubuh karena di dalamnya terdapat kuman-kuman penyakit dan sel-sel yang telah mati."

Berbeda dengan kasus kalazion yang tidak memerlukan antibiotik. "Melainkan dengan pengurutan ke arah muara kelenjar meibom atau langsung diadakan pembedahan berupa insisi dan kuretase untuk mengeluarkan isi kelenjar." Namun tetap memerlukan pengompresan dengan air hangat agar bisa mempercepat proses penyembuhan.

LEBIH BERAT BILA INFEKSI

Jadi, Bu-Pak, pada intinya bintitan harus ditangani sejak dini atau lebih baik lagi jika berobat ke dokter untuk menghindari kemungkinan yang semakin parah. Kalau memang gejalanya masih ringan, dokter-dokter umum biasanya juga bisa menangani. "Tapi jika sampai harus dilakukan insisi, ya, tentu saja harus ke spesialis mata."

Memang jika didiamkan saja pun lama kelamaan bintitan akan membesar dan pecah sendiri. "Tapi, pecahnya bukan berarti telah sembuh, melainkan hanya bagian luarnya saja yang pecah, isinya tidak ikut keluar sehingga akan meninggalkan bekas yang menonjol pada bagian yang pecah tersebut." Berbeda jika dilakukan insisi, karena prosesnya dilakukan melalui bagian dalam kelopak mata yang panjangnya hanya berkisar 1 hingga 2 mm, kemudian baru dilakukan kuretase; pengeluaran isinya. Tindakan ini tak akan menimbulkan bekas, kok.

Akan lebih berat bila terjadi infeksi. "Karena kalau tak segera diobati dapat menyebabkan selulitis; meluas ke seluruh kelopak mata bahkan ke mata." Tentu kita tak mengharapkan keadaan demikian, karena mata, hidung, dan mulut adalah segitiga yang berbahaya. Sebab itulah kuman harus segera dimatikan, jangan tunggu sampai dia berkembang lebih banyak.

Nah, Bu-Pak, demi si kecil, jangan tunggu sampai parah, ya? Kasihan, kan!

Achmad Suhendi/nakita

Views : 28967

blog comments powered by Disqus