Membership
Lupa password?
Anak

Glukoma Bisa Bikin Buta
Kamis, 30 Desember 2010
Anak 73 1

Iman/nakita

H ati-hati bila si kecil sering menabrak-nabrak benda di sekelilingnya saat berjalan. Apalagi bila ditemukan bola mata besar dan berwarna kelabu pada matanya. Bisa jadi dia terkena glaukoma.

Glaukoma adalah kelainan mata yang merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia, setelah katarak. Penyebab glaukoma umumnya karena tekanan bola mata terlampau tinggi. "Ibaratnya sebuah bola yang tekanannya bisa kencang bisa kendor, bisa juga kempes," terang dr. Srinagar M. Ardjo, Sp.M.K , visiting doctor (dokter tamu) RS Mata Prof.Dr. Isak Salim AINI, Jakarta. Tekanan pada bola mata normalnya di bawah 21, bila berada di atas ukuran tersebut bisa mengakibatkan perubahan pada saraf penglihatan.

Pada orang normal, pandangan matanya mempunyai luas yang besar sekali, bisa melihat kemana-mana. "Glaukoma mengakibatkan pandangan menjadi kecil, bisa sampai menciut sekecil lubang kunci. Tergolong parah apabila lapang pandangnya kurang dari 10 derajat. Semakin lama semakin menciut akhirnya buta total. Nah, glaukoma tergolong kebutaan absolut; buta yang sama sekali tidak bisa melihat cahaya," tutur staf pengajar di FKUI Bagian Mata ini.

LUAS PANDANG MENYEMPIT

Bola mata dapat berfungsi dengan baik karena mendapat suplai nutrisi dari peredaran darah. "Setelah mendistribusi nutrisi kemudian melalui organ-organ tertentu menghasilkan cairan dalam bola mata." Karena dalam bola mata tidak mengandung pembuluh darah maka suplai makanan diberikan dengan cara inbibisi; mengalirnya nutrisi bagi mata berupa air, dari luar masuk ke dalam organ, lalu keluar lagi. Dalam keadaan normal, pembuluh darah tidak akan timbul dan bening sekali, sedang dalam keadaan sakit pembuluh darah akan muncul.

Kita tahu, mata merupakan organ penglihatan yang mempunyai fungsi banyak sekali, antara lain, fungsi tajam penglihatan, luas penglihatan, pembedaan/diskriminasi warna, stereokospi, dan sebagainya. Glaukoma mengurangi fungsi mata karena merusak saraf penglihatan yang ada di dalam retina dimana ujung-ujung saraf penglihatan terdapat di satu lapisan mata. Ibaratnya sebuah kelapa, lapisan sclera merupakan batok kelapa, choroid sebagai daging kelapa, dan retina yang mengandung saraf terdapat pada bagian lapisan ketiga. "Saraf mata inilah yang menyelenggarakan fungsi mata."

Akibat tekanan bola mata yang abnormal/tinggi, suplai makanan menjadi terganggu maka organ-organ yang ada di dalam mata termasuk persarafan juga mundur karena kekurangan makanan. Artinya, kesehatan dan integritasnya mundur, maka akhirnya fungsinya mundur. "Kemunduran fungsi utama pada mata adalah merusak pandangan atau lapang penglihatan. Tak heran, banyak penderita glaukoma masih tetap bisa melihat hanya saja dalam batas-batas tertentu. Tentu saja keadaan ini akan sangat mempengaruhi kualitas hidupnya. Misal, ia kesulitan berjalan layaknya orang normal karena keterbatasan penglihatan.

MENJADI BUTA TOTAL

Yang jelas, Bu-Pak, proses sampai terjadi kebutaan bisa dalam waktu cepat atau lama. "Tergantung tinggi rendah tekanan mata. Bila tinggi, kebutaannya lebih cepat. Bisa saja, bola mata kanan atau kiri berbeda tekanannya sehingga dampaknya pun berbeda pada masing-masing mata." Perbedaan tekanan ini tergantung pada mudah sukarnya cairan yang membawa makanan keluar. "Biasanya, kan, masuk dan keluarnya seimbang. Bila cairan yang masuk lebih besar daripada yang keluar, maka akan ada cairan yang tertutup di dalam mata. Kalau tekanan yang tertutup jumlahnya banyak tentu tekanannya sangat tinggi. Tinggi rendahnya tekanan ditentukan dengan imbangan masuk dan keluarnya cairan. Keadaan ini bisa diukur dengan peralatan yang cukup rumit dan canggih di laboratorium."

Nah, apabila kenaikan terjadi secara mendadak, dalam waktu pendek dan relatif langsung tinggi, penderita akan sangat kesakitan, pandangan kabur, sakit kepala hebat, muntah-muntah, bola mata menjadi merah, warna kornea jadi hijau kebiru-biruan dan berkabut. "Tanda-tanda tersebut tergolong glaukoma akut." Kasus tersebut perlu mendapatkan pertolongan segera, minimal 2X24 jam.

Pada glaukoma kronis, kenaikan mata terjadi secara perlahan-lahan dan berjalan lambat tanpa timbul tanda-tanda khusus. Karena itu, jenis yang lebih sering terjadi pada orang dewasa ini tidak mudah dikenali. Sehingga baru diketahui setelah masuk stadium lanjut atau parah. Jadi, penderitanya seperti kecolongan. "Matanya seperti mata normal, kok, tapi ternyata mengandung tekanan tinggi."

LAKUKAN OPERASI

Sebagai upaya pencegahan, lakukan pemeriksaan rutin mata pada seluruh anggota keluarga, kendati tidak ada keluhan yang berarti. "Setidaknya setiap orang diukur tekanan bola matanya setahun sekali. Karena bila sejak dini bisa diketahui tanda-tanda yang khas pada anak, maka mata anak-anak tidak 'tercuri' glaukoma kronis dan bisa segera ditangani dengan baik." Pengukuran tekanan bola mata ini terutama dilakukan bagi anak-anak yang bermata minus lebih dari 6 atau kenaikan minus terjadi secara progresif. "Juga perlu dilakukan bagi anak-anak yang menggunakan kaca mata, padahal orang tuanya tidak. Karena, normalnya, mata minus, plus, atau silinder merupakan turunan."

Sedangkan bila sudah terkena glaukoma, operasi adalah satu-satunya jalan keluar untuk penyembuhan glaukoma pada bayi dan anak-anak. Karena bila tidak segera diatasi akan mengakibatkan kerusakan pada saraf optik. "Lebih dini dilakukan akan lebih baik bagi perkembangan anak. Hanya saja biasanya ditemukan faktor penghambat, misal, bayi masih terlalu lemah untuk dibius." Karena itu biasanya dokter mata akan meminta rekomendasi dari dokter anak tentang kondisi penderita. Bila memungkinkan, maka akan dilakukan pembiusan umum.

Teknik yang sering dilakukan pada operasi penderita glaukoma adalah Goniotomi, Trabekolotomi dan Trabekolektomi. Semua teknik operasi tersebut bertujuan membantu melancarkan jalan keluar masuknya cairan dalam bola mata, menurunkan tekanan, dan mengembalikan fungsi lapang pandang mata.

Usai operasi, umumnya pada anak di bawah usia dua tahun bola matanya kembali normal. "Bila lebih dari usia dua tahun bentuknya tidak bisa kembali normal, hanya membantu menormalkan tekanan pada bola mata. Sedangkan warna korneanya akan jernih lagi seperti mata yang normal."

Jadi, jangan berani ambil risiko dengan menunda pengobatan, ya, Bu-Pak. Segeralah ke dokter bila mencurigai sesuatu pada mata buah hati Anda.

Riesnawati/Artha Aridina/nakita

JANGAN SEMBARANG MEMBERI OBAT TETES MATA

Jangan coba-coba memberi obat tetes mata tanpa resep dokter pada bayi Anda. "Karena banyak ditemukan kasus glaukoma sekunder akibat pemakaian steroid yang berlebih," jelas Srinagar. Nah, steroid banyak terkandung dalam obat tetes atau salep mata, dan obat oral, yang diresepkan dokter sekali pakai untuk mengatasi alergi yang sering terjadi pada anak. Kerap terjadi, orang tua karena menganggap obat tersebut bagus dan cocok, lalu memutuskan membeli obatnya kembali tanpa perlu berkonsultasi dengan dokter. Padahal penggunaan steroid yang terdapat dalam obat-obatan secara terus-menerus tanpa pengawasan dokter akan meningkatkan tekanan pada bola mata. "Hal tersebut justru menimbulkan glaukoma steroid atau katarak. Bukan sembuh yang didapat, malah berakibat kebutaan."

GLAUKOMA BAWAAN

Glaukoma kongenital (bawaan) terbagi menjadi dua jenis: glaukoma infantil yang terjadi pada bayi, dan glaukoma juvenil yang terjadi pada anak di atas tiga tahun.

Pada umumnya sudut bilik mata depan anak tidak terbuka lebar dimana cairan dari dalam mata keluar. "Sepertinya 'pintu air' yang tertutup. Tapi, keduanya mempunyai ciri sama, tekanan bola matanya tinggi," terang Srinagar.

Glaukoma kongenital bisa dikenali sejak lahir berupa kornea mata berwarna kelabu, bola mata lebih besar dari mata normal, kornea lebih lebar dari kornea normal, mata tidak tahan terhadap sinar, dan mata berair. Normalnya, ukuran kornea bayi berdiameter antara 10-11 mm, pada penderita glaukoma kongenital garis tengahnya antara 12-16 mm. "Jadi mata anak tersebut kelihatan besar sekali."

TIGA PEMERIKSAAN UTAMA

Glaukoma diukur dengan tiga pemeriksaan utama; Oftalmoskopi, Tonometri dan Perimetri. Oftalmoskopi, misalnya, dilakukan untuk melihat gambaran saraf mata sehingga akan terbaca ketidaknormalan saraf mata yang terjadi. Lalu, tonometri dilakukan untuk mengukur tekanan bola mata. "Tonografi dilakukan untuk memeriksa aliran air yang masuk dan keluar. Sedangkan perimetri untuk memeriksa luas pandangan mata," jelas Srinagar.



blog comments powered by Disqus