Membership
Lupa password?
Anak

Flu Singapura, Daya Tahan Harus Kuat
Selasa, 31 Januari 2012
KSHT anak

Foto: Getty Images

Jika anak Anda terkena flu yang disertai dengan ruam dan lesi merah seperti cacar air di tangan dan mulutnya, waspadalah!

Sudah dua hari Rama (2) menderita flu dan demam. Sang Ibu bingung sebab flu tak kunjung sembuh meski Rama telah diobati. Malah di beberapa bagian tubuh Rama, seperti mulut dan tangan, muncul ruam merah yang beberapa hari kemudian berubah menjadi lesi-lesi yang bergelembung berisi cairan (berair seperti cacar air).

Apa yang dialami Rama sebenarnya adalah penyakit Hand, Foot, and Mouth Disease  (HFMD) atau lebih dikenal dengan Flu Singapura. Nama ini diberikan sebab di Singapura-lah, penyakit ini menimbulkan kematian yang cukup banyak. Flu jenis ini patut diwaspadai pula sebab bisa menimbulkan radang otak dan mematikan jika penderitanya terkena virus yang memiliki virulensi tinggi.

Penyakit yang sepanjang tahun selalu muncul ini, memiliki banyak sekali jenis virus. Salah satu virus yang mematikan (seperti yang mewabah di Singapura) adalah Enterovirus 71 . Sedangkan virus flu Singapura yang sering dijumpai di Indonesia merupakan tipe Coxsackie A  dan Coxsackie B . Jenis ini tipenya lebih ringan.

Ruam & Lesi

Menurut Spesialis Anak RS Grha Kedoya , dr. Bertha Soegiarto, Sp.A., flu biasa pada umumnya hanya menyerang tenggorokan (batuk), pilek, dan demam. Gejala ini pula yang biasanya menyertai flu Singapura. Bedanya, setelah anak menderita deman sekitar 2-3 hari, muncul ruam merah dan lesi-lesi (berair seperti cacar air) pada beberapa bagian di tubuhnya.

“Pada flu Singapura disertai dengan munculnya ruam merah dan lesi-lesi di bagian sekitar mulut, lidah, pipi, tenggorokan. Pada bayi bisa juga di selangkangan, tangan, kaki, dan bokong. Lesi-lesi ini lebih mendominasi dibandingkan dengan batuk dan flunya,” ujar Bertha. 

Flu Singapura

Foto: Getty Images

Sering Menyerang Anak  

Flu Singapura memang lebih sering menyerang anak-anak. Biasanya penyakit ini terjadi pada anak di bawah setahun hingga 5 tahun. Namun, “Bisa juga terjadi pada anak usia 10 tahun, tapi jarang,” ungkap Bertha. Kemungkinan, ini berhubungan dengan daya tahan tubuh pada anak di usia tersebut yang masih lebih rendah. Ditambah lagi, anak-anak usia ini belum mampu menjaga dirinya agar menghindari kontak dari penderita flu Singapura.

Bertha menambahkan bahwa orang dewasa bisa juga terkena flu Singapura. “Tapi manifestasinya enggak muncul lesi, bisa jadi seperti flu biasa saja. Sehingga jika orang dewasa yang dicurigai terjangkit flu Singapura tidak melalui penelitian laboratorium, sulit sekali dikenali apakah flu itu disebabkan virus Coxsackie  atau virus flu biasa,” ungkap Bertha. 

Obat Suportif

Jika Anda menemukan tanda lesi ini pada tubuh anak, sebaiknya jangan menunda membawa anak ke rumah sakit. Tujuannya untuk memastikan apakah benar penyebabnya dikarenakan virus flu Singapura. Sayangnya, penyakit ini belum memiliki antivirus atau obat antibiotiknya. Dengan kata lain, yang bisa mengatasi virus ini adalah tubuh kita sendiri. Tubuh kita memang bisa memerangi virus ini dalam dalam kurun waktu satu minggu sampai sepuluh hari. Setelah itu penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya.

Selain itu, berikanlah obat-obatan berjenis suportif. Misalnya, jika anak demam berikanlah obat demam, kalau nyeri kasih obat nyeri. Jika anak sudah bisa kumur-kumur, berkumurlah dengan air garam atau antiseptik. Usahakan pula anak tetap makan dan minum yang banyak. Anda harus bersabar ketika hendak memberikan obat suportif atau memberi makan serta minum pada anak. Menurut Bertha, dua kegiatan ini kerap menimbulkan masalah bagi anak-anak yang menderita flu Singapura. “Pasalnya, ketika merasakan sariawan biasa saja, lidah sakitnya sudah luar biasa. Bisa bayangkan, kan, kalau lesi itu berada di seluruh mulut dan tenggorokan. Pastinya nyeri sekali, kan, kalau dipakai makan dan minum,” jelas Bertha.

Jika tetap menolak makan dan minum, mau tak mau anak harus diinfus. Caranya dengan memberikan makanan yang lunak, mudah ditelan, kalau bisa tidak perlu dikunyah, dan hindari makanan yang asam. Berikan juga makanan yang sifatnya dingin dan adem seperti buah-buahan, puding, jeli. Anak biasanya lebih bertoleransi dengan makanan itu. “Jangan beri nasi dan sup hangat, nanti yang ada mulut anak akan bertambah sakit,” terang Bertha.

Gejala Flu Singapura

Foto: IST

Agar Tetap Bugar

1. Menjaga kebersihan perorangan. Misalnya, rajin cuci tangan dengan menggunakan sabun (terutama sebelum dan sesudah makan juga sesudah buang air besar/buang air kecil).
2. Berikan anak gizi yang cukup.
3. Pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan dan meneruskannya hingga usia dua tahun.
4. Meski vaksinasi flu Singapura belum ada, anak tetap harus diberikan vaksinasi yang lengkap agar daya tahan anak tetap kuat.

Cegah dari Rumah

1 Ketika anak Anda menderita flu Singapura, usahakan isolasi ia dari lingkungan rumah dan luar. “Jika sudah sekolah, jangan sekolah dulu hingga benar-benar sembuh (lesi-lesinya hilang) dan tidak bermain atau kontak fisik dengan teman juga saudara kandungnya,” jelas Bertha.

2 Ajarkan anak untuk menutup mulutnya dengan masker, saputangan, atau tisu ketika batuk atau bersin. Percikan cairan atau ludah yang keluar dari mulutnya bisa menulari orang sekitar melalui makanan dan udara.

3 Virus ini juga bisa menular melalui kotoran. Oleh karena itu, ketika anak usai buang air besar atau ibu membersihkan popok bayinya (yang menderita flu Singapura) segeralah mencuci tangan dengan bersih agar tidak menyebarkan virus itu ke sekitarnya.

4 Pernyataan yang mengatakan penderita flu singapura tidak boleh terkena angin dan mandi hanyalah mitos. “Justru penderita harus mandi. Kalau tubuh penuh kuman padahal di sana terdapat banyak luka (lesi) di kulitnya, kuman itu malah akan membantu penyebaran infeksi lukanya semakin luas,” ujar Bertha. Jadi, selagi anak tidak demam tinggi, tidak masalah terkena angin dan mandi.

5 Penyakit yang sering melanda daerah tropis dan selalu ada di sepanjang tahun ini memang biasanya timbul secara berkelompok. Misalnya di suatu sekolah ada satu anak yang menderita flu Singapura yang tanpa disadari menulari teman-temannya. “Bisa jadi lesinya pecah dan cairannya mengontaminasi meja. Tanpa sengaja meja tadi tersentuh oleh temannya yang lain. Di situlah penularan itu terjadi.” Hal inilah yang menjadi pemicu wabah flu singapura. Cara mengatasinya mudah sekali, yakni dengan meliburkan sekolah beberapa hari untuk dibersihkan dan anak-anak yang positif mengidap penyakit ini tidak bersekolah dulu hingga benar-benar sembuh.

 Ester Sondang

Views : 37367

blog comments powered by Disqus