Membership
Lupa password?
Anak

Bayi Kuning? Hati-Hati!
Jumat, 05 Maret 2010
Anak Bayi Kuning

Rohedi

M emang, jika cepat tertangani, kuning pada bayi tak perlu dicemaskan. Apa saja yang harus kita waspadai?

"Bayinya belum bisa pulang karena kuning." Begitu, kan, yang sering kita dengar tentang bayi yang baru lahir.

Bayi kuning, ada dua macam. Yaitu yang faali (fisiologis) dan patologis. Yang patologis adalah yang dapat menganggu tumbuh kembang bayi di kemudian hari. "Yang faali disebut juga kuning yang normal. Umumnya terjadi di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran hingga 7 atau 14 hari. Walaupun secara faali, tetapi perlu diwaspadai. Karena kuning yang faali mungkin mempunyai latar belakang patologis," ungkap Prof. Dr. dr. Nartono Kadri, Sp.A(K) , dari Bag. Perinatologi, Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selain itu, bayi yang minum ASI dapat juga terlihat kuning pada minggu pertama dan kedua, yang berangsur-angsur akan hilang sendiri. "Ini gejala biasa. Di dalam ASI ada komponen yang mempengaruhi timbulnya kuning pada bayi. Tidak berbahaya, kok," jelas Nartono. Kendati demikian, lanjutnya, orangtua harus tetap waspada. Terutama kalau si bayi sedang dalam keadaan sakit yang berkaitan dengan acidosis (penyakit yang berhubungan dengan menurunnya kadar pH darah). Misalnya, sesak napas atau mencret berat. "Sebab, kadar bilirubin bebas bisa meningkat."

Nah, berikut ini sejumlah hal mencurigakan yang harus diwaspadai.

Lalu apa yang harus dilakukan jika hal itu terjadi? "Segera bawa ke dokter!" pesan Nartono.

PENYEBAB

Cara termudah untuk mendeteksi bayi menderita kuning atau tidak, sebetulnya tak terlampau sulit. "Lihat di bagian putih mata bayi saat ia menyusu. Kalau kuning, akan terlihat jelas di matanya!"

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah) di bawah kulit. Sebab itulah kulit si bayi terlihat kuning.

Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel darah merah yang sangat banyak karena paru-parunya belum berfungsi. Nah, sel darah merahlah yang bertugas mengangkut oksigen dan nutrien dari ibu ke bayi melalui plasenta. "Sesudah ia lahir, parunya sudah berfungsi, sehingga sel darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil pemecahan itu adalah bilirubin."

Bilirubin alias pecahan hemoglobin ini pun bermacam-macam: indirect, direct , dan bebas. Yang indirect atau yang belum diolah, yaitu bilirubin yang terikat albumin sebagai zat pengangkut, akan dibawa ke hati untuk diproses menjadi bilirubin direct . Bilirubin direct ini akhirnya disimpan di kantong empedu.

Kadang tidak semua hasil pemecahan hemoglobin ini bisa diikat oleh albumin dan dibawa ke hati. Sebagian tidak terangkut dan disebut bilirubin bebas. Justru bilirubin inilah yang berbahaya. "Karena ia bisa gentayangan ke mana-mana. Terutama kalau ia masuk ke otak, tak bisa dilepas lagi." Jika sampai masuk ke otak, "Akan menimbulkan penyakit yang disebut kern ikterus atau timbunan bilirubin di dasar otak," jelas Nartono.

Namun oleh suatu keadaan tertentu, bilirubin indirect pun bisa pecah lagi menjadi bilirubin bebas. Yaitu jika si anak dalam keadaan sakit atau mencret, yang menyebabkan ia kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan (juga oksigen) akan mengakibatkan lepasnya albumin sehingga ia menjadi bilirubin bebas yang membahayakan.

Lantas di mana terjadinya pemecahan sel darah merah? Ia bisa terjadi karena adanya tabrakan-tabrakan di saluran pembuluh darah, di sel-sel hati, atau di sel limfa. Kadang pemecahan sel darah merah terjadi sangat berlebihan sehingga meningkatkan kadar bilirubin. Ini biasanya disebabkan beberapa hal:

Pada ketidakcocokan golongan darah, misalnya bila si ibu berdarah O, sedangkan si bayi berdarah A atau B. "Pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Kalau darah si janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka si ibu akan membentuk zat antibodinya (zat penangkis). Zat ini sedikit banyak akan mengalir lagi ke tubuh si janin melalui plasenta. Akibatnya, zat antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah si bayi, sehingga meningkatkan kadar bilirubinnya."

Sedangkan untuk ketidakcocokan golongan darah akibat rhesus, biasanya terjadi bila ibu golongan darah rhesus negatip dan janin rhesus positip.

2. Karena obat-obatan

Ada beberapa macam obat, misalnya yang mengandung sulfa, bisa menghancurkan sel darah merah. Karena itu, berhati-hatilah memberi obat pada bayi. Konsultasikan pada dokter sebelumnya.

3. Karena infeksi

Bisa infeksi saat bayi dalam kandungan atau infeksi saat di jalan lahir. Misalnya jalan lahir ibunya kotor. Atau infeksi sesudah lahir, semisal karena alat-alat bayi tidak steril sehingga racunnya menghancurkan sel darah merah.

Selain karena pemecahan sel darah merah yang berlebihan, peningkatan kadar bilirubin bisa juga berasal dari penyumbatan. Yaitu bila saluran empedunya tersumbat, sehingga bilirubinnya tidak bisa dikeluarkan. Atau juga bila hatinya membengkak (hepatitis), sehingga pipa-pipanya tersumbat. Umumnya kuning yang disebabkan oleh penyumbatan terlihat sesudah minggu kedua atau lebih.

Bagaimana membedakan kuning pada bayi karena bilirubin yang indirect (pemecahan yang belebihan) atau direct (penyumbatan)? "Lihat dari kotorannya. Bila kotorannya kuning, biasanya karena pemecahan. Tapi yang disebabkan penyumbatan, kotorannya akan terlihat putih seperti dempul. Hal ini karena empedunya tidak bisa masuk usus, sehingga kotoran tidak bisa diolah dan menyebabkan berwarna putih."

AKIBAT DAN TERAPI

Untuk bilirubin yang berasal dari pemecahan yang berlebihan, asalkan cepat ditangani biasanya dapat cepat sembuh. "Jika terlambat ditangani, bisa menjadi kern ikterus atau meninggal." Bayi pengidap kern ikterus, lanjut Nartono, akan mengalami kelainan perkembangan. Yakni berupa gangguan susunan saraf pusat atau panca indra. Entah itu berupa kelainan motorik, gangguan perkembangan mental, tuli, lambat bicara, ataupun susah belajar. "Tergantung berapa luas dan berapa banyak timbunannya. Serta di bagian otak sebelah mana ia tertimbun."

Pada bayi dengan kasus seperti ini, salah satu tindakan yang dilakukan adalah memberinya cukup cairan. "Bila kadar bilirubinnya masih ringan, cukup dijaga agar cairan tubuh tidak berkurang. Tiga atau empat jam sekali, bayi harus diberi susu."

Terapi lain adalah yang disebut sinar biru (blue light therapy) . "Bisa juga dengan bantuan sinar matahari. Tapi jangan dijemur secara langsung di bawah matahari. Cukup asal terkena sinarnya saja."

Namun jika kadar kuning tinggi sekali dan amat cepat kenaikannya, dokter akan melakukan transfusi tukar. Darah bayi yang sudah mengandung bilirubin dikeluarkan, diganti dengan darah baru.

Sedangkan untuk bilirubin yang berasal dari penyumbatan, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kerusakan hati. "Hatinya bisa mengecil (sirosis) dan mengeras. Untuk ini, dokter akan membedah tempat yang tersumbat tadi," jelas Nartono.

Ia juga mengingatkan, untuk bayi kuning yang disebabkan kekurangan enzym yang disebut G-6-PD, sebaiknya tidak menggunakan kapur barus untuk baju-baju bayi. "Memang tidak semua bayi akan menjadi kuning bila pakaiannya terkena kapur barus. Tapi dalam kasus bayi yang G-6-PD ini, enzym di dalam darah merah si bayi kurang, sehingga sel darah merah mudah pecah dan menjadi bilirubin karena dampak kapur barus."

Indah Mulatsih/nakita

Tindakan Pencegahan

* Cari sebab-sebabnya. Jika kuning karena fisiologis, tak perlu tindakan karena akan hilang sendiri. Jika terjadi karena patologis, harus diteliti oleh dokter lebih lanjut.
* Perhatikan dan tandai kapan munculnya kuning, kecepatan peningkatan kuningnya, serta lamanya. Jika sudah menjumpai hal-hal mencurigakan seperti ini, segera bawa ke dokter.
* Jangan memberi sembarang obat-obatan pada bayi.
* Hindarkan bayi dari infeksi. Bayi juga sangat rentan, sebab itu usahakan selalu bersih dan tidak tercemar sesuatu dari luar.
* Jangan biarkan bayi "puasa" terlalu lama. Berikan cairan tiap 3-4 jam.
* Sebaiknya hindari pemakaian kamper/kapur barus saat menyimpan baju-baju bayi.

Views : 13583

blog comments powered by Disqus