Membership
Lupa password?
Pasangan

Sukses Menjadi Orangtua Tunggal
Kamis, 08 April 2010
single parent

Foto: Ist

M enjadi orang tua tunggal mungkin tak pernah Anda bayangkan. Jika pun Anda harus mengalaminya, tak usah cemas. Anda tetap bisa, kok, membesarkan si kecil dengan baik.

Bercerai atau pasangan meninggal, tentu tak ada yang menginginkannya. Tapi jika hal itu harus terjadi, apa boleh buat, kita harus mau berlapang dada menerima kenyataan menjadi orang tua tunggal.

Memang berat. Akan banyak persoalan yang harus dihadapi oleh orang tua tunggal, khususnya bagi wanita. "Jika biasanya segala hal dilakukan berdua dengan suami, kini segalanya harus dilakukannya sendiri. Jadi, selain sebagai ibu rumah tangga, ia pun harus menjadi kepala keluarga. Tentu, ia akan menghadapi banyak kesulitan," ujar psikolog dari UI, Dr. Jeanette Murad Lesmana .

Apalagi jika sebelumnya ia tak bekerja. Bagi janda cerai, jika mantan suaminya secara rutin memberikan tunjangan keuangan, mungkin tak terlalu jadi masalah. Tapi bila tidak, berarti ia harus mencari nafkah, bukan cuma untuk dirinya sendiri, juga anak-anak.

Bagi mereka yang sebelumnya sudah bekerja, mungkin tak terlalu jadi masalah. Kendati demikian, baik mereka yang sebelumnya tak bekerja maupun sudah bekerja, persoalan yang dihadapi relatif sama. Yakni, mereka harus siap untuk berperan ganda: sebagai pencari nafkah dan sekaligus membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri, termasuk bagaimana mengatur waktu bagi anak-anaknya.

HARUS ADA PERSIAPAN

Yang jelas, kata Jeanette, untuk menjadi orang tua tunggal yang sukses diperlukan pengorganisasian yang baik. Karena sebetulnya, situasinya tak jauh beda dengan ketika masih ada pasangan di sampingnya. "Pada suami istri yang sama-sama bekerja, tetap saja ada pertanyaan tentang pengasuhan anak, kan? Tapi dalam hal ini, si ibu mungkin tak bekerja full time ," katanya.

Bedanya, sekarang tak ada lagi pasangan di sampingnya, yang selama ini menjadi tempat ia bertanya atau mencurahkan perasaannya. "Sekarang ia harus menyelesaikan sendiri semuanya. Apa mau balik lagi ke orang tuanya? Kan, enggak pantas. Apalagi jika ia sudah punya anak," ujar dosen pada Fakultas Psikologi UI ini.

Karena itu, orang tua tunggal, mau tak mau, dituntut untuk bisa mengatur segalanya seorang diri, termasuk me-manage waktu. Kapan ia harus menyediakan waktu bagi anak, kapan harus bekerja, bagaimana mengatasi masalah, dan sebagainya. "Semuanya itu berhubungan dengan kemampuan untuk mengorganisasi hidup," tukas Jeanette.

Nah, itu semua hanya bisa dilakukan apabila si orang tua tunggal telah menyiapkan dirinya. Yang pertama tentulah kemandirian, khususnya dalam hal keuangan. Pada wanita yang menjadi orang tua tunggal karena bercerai, ini lebih mudah dilakukan. Minimal, sebelum bercerai, ia sudah punya gambaran akan dibawa ke mana perkawinannya.

Jadi, tutur Jeanette, "Meski belum yakin bakal bercerai, tapi jika ia tahu suaminya nyeleweng terus, maka tentu perlu antisipasi. Ia ingin cerai tapi ia tak bekerja, maka segeralah usahakan untuk mencari pekerjaan." Sehingga, kala perceraian terjadi, si ibu sudah punya "pegangan" meski tetap harus dimulai dari nol lagi sebelum penghasilannya mencukupi.

HADAPI KENYATAAN

Hal lain yang harus disiapkan ialah soal mental. Khususnya bagi wanita yang menjadi orang tua tunggal akibat perceraian. Sebab, terang Jeanette, wanita ini biasanya akan merasa gagal: kenapa ia sampai bercerai. "Bahkan, sebelum bercerai pun, ia sudah merasa gagal. Misalnya, kenapa suaminya, kok, menyeleweng. Ia akan merasa dirinya tak berharga. Apalagi jika akhirnya ia benar-benar bercerai," papar dosen pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Nah, perasaan semacam inilah yang bisa menghambat orang tua tunggal dalam menjalankan fungsinya. Apalagi jika ia tak segera bangkit dari kesedihan, entah karena bercerai atau ditinggal mati pasangan. "Kalau hanya menangisi nasib, maka yang paling menderita adalah anak. Anak tak hanya kehilangan ayah, tapi juga ibu," tukas Jeanette.

Sebab, dalam kondisi mental si ibu yang labil, ia tentu tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa memperhatikan lingkungannya, termasuk anak yang masih memerlukan perhatiannya. "Yang diperhatikan hanya dirinya sendiri. Begitu sadar, ia menemukan anaknya sudah menjadi anak yang bandel enggak karuan. Beda kalau ia bisa cepat mengatasi, maka efeknya lebih baik bagi anak," lanjut Jeanette.

Karena itu, Jeanette menegaskan, diperlukan sikap dewasa dan mau menerima kenyataan bahwa dirinya sekarang adalah orang tua tunggal apapun yang jadi penyebabnya. Jangan malah membiarkan diri terpuruk.

KETIADAAN FIGUR AYAH

Kemudian dalam mengasuh anak, harus disadari betul oleh para orang tua tunggal, bahwa tugasnya memang menjadi lebih berat. Sebab, tugas yang seharusnya dipikul berdua (ayah dan ibu), kini harus diembannya sendiri. Ia harus berperan sebagai ibu sekaligus ayah, sementara fungsi ayah berbeda dengan fungsi ibu.

Meski orang tua tunggal mampu menjalankan masing-masing fungsi tersebut, namun, "Fungsi ayah tetap tak dapat sepenuhnya digantikan oleh ibu," kata Jeanette. Misalnya dalam beridentifikasi. "Anak, kan, harus mengidentifikasi orang tuanya, entah itu ayah atau ibu. Sekaligus menyelesaikan proses identifikasi dengan orang tua," lanjut konsultan perkawinan ini.

Elizabeth B. Hurlock, pakar psikologi perkembangan, mengatakan, seorang anak yang kehilangan ibu di usia dini, jauh lebih merusak daripada kehilangan ayah. Dengan bertambahnya usia, kehilangan ayah malah berakibat lebih serius pada anak ketimbang kehilangan ibu, khususnya bagi anak lelaki. Alasannya, si ibu yang menjadi pencari nafkah, mungkin kekurangan waktu dan tenaga untuk mengasuh anak sesuai dengan kebutuhan anak. Khusus bagi anak lelaki, kehilangan ayah berarti tak ada sumber identifikasi.

Kendati demikian, dampak ketiadaan figur ayah dapat diminimalisir, yakni dengan mencarikan figur pengganti seperti kakek atau paman. "Susahnya, paman atau kakek, kan, biasanya tidak tinggal serumah. Sementara si anak harus belajar identifikasi dari sang ayah juga," kata Jeanette.

Tapi, toh, masalah ini tetap biasa disiasati. "Masih ada faktor lain yang bisa membantu anak menyesuaikan diri, yakni lingkungan," ujar Jeaneth. Misalnya, dari ayah teman si anak. "Dari situ ia bisa melihat tokoh ayah baik itu seperti apa. Buktinya, banyak anak yang berkembang baik, meski keluarganya atau sang ayah bukan sosok yang baik," terangnya.

Karena itu, Jeanette berpendapat, figur ayah pengganti bisa tak diperlukan asal si orang tua tunggal merasa mampu mendidik anaknya sendiri. Antara lain, dengan memberi kesempatan pada anak untuk belajar dari lingkungannya.

SI KECIL LEBIH BAHAGIA

Jeanette melihat, tak ada jeleknya menjadi orang tua tunggal. Kendatipun hal itu diakibatkan oleh perceraian. "Memang, kebanyakan pasangan takut bercerai, salah satunya karena memikirkan faktor perkembangan anak.

Kebanyakan mereka selalu mengatakan, 'Seandainya saya tak punya anak, barangkali saya sudah bercerai,'" tutur konsultan di Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Padahal, lanjutnya, akan lebih baik jika anak hidup dengan ibu atau ayahnya saja tapi lebih tenang ketimbang hidup bersama ayah dan ibu yang setiap hari selalu bertengkar. Belum lagi jika salah satu pihak menjadi agresif karena saking emosionalnya, misalnya memukul atau melempar barang saat bertengkar. "Nah, mengapa tidak berpisah saja? Siapa tahu, setelah berpisah, ayah atau ibu justru akan menjadi baik," ujar Jeanette yang justru melihat hal ini sebagai sisi positif menjadi orang tua tunggal.

Pakar psikologi Dr. A. Joseph Bursteln, dalam bukunya yang sudah dialihbahasa Petunjuk Lengkap Mendidik Anak, mengatakan, "Anak-anak kerap kali lebih bahagia jika dibesarkan oleh seorang dewasa yang stabil, matang, bisa diandalkan, hangat dan mantap; daripada kalau dibesarkan oleh dua orang tua yang tak bahagia, yang setiap hari membuat kalut dan trauma anak-anaknya dengan pertengkaran terus-menerus."

Menjelek-jelekkan mantan suami di depan anak juga tak perlu dilakukan. "Bagaimanapun mantan suami adalah ayah dari anaknya. Kalau dijelek-jelekkan, lantas bagaimana anak bisa melihat figur seorang ayah," kata Jeanette. Akan lebih baik jika istri bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dengan mantan suami tanpa harus mengikut sertakan anak. "Jadi, anak sebaiknya di luar masalah orang tua," tukas psikolog yang juga berpraktek di RS Ongkomulyo, Jakarta ini.

Jeanette juga melihat perlunya masalah perceraian dijelaskan kepada anak. "Tentu harus disesuaikan dengan usia anak. Anak pasti, kan, bertanya-tanya, misalnya ketika ayahnya enggak lagi tinggal bersamanya. Apalagi balita sekarang sudah pintar," tuturnya. Setelah anak besar, barulah si ibu memberi tahu secara jelas, kenapa terjadi perpisahan antara orang tuanya.

Akhirnya Jeanette menegaskan, "Selama orang tua tunggal dapat melakukan fungsinya dengan baik, maka bukan tak mungkin anak pun bisa berkembang dengan baik."

Ayah Yang Sendirian

Adakalanya seorang ayah harus mengasuh dan membesarkan anak-anaknya sendirian, entah karena perceraian atau ditinggal mati istrinya. Jika itu dialami oleh Anda, tak usah ragu atau cemas. Percayalah, Anda pun dapat mendidik si kecil sebaik yang bisa dilakukan seorang ibu. Pakar psikologi Dr. A. Joseph Burstlen memberikan tips berikut:

* Yang pertama harus Anda lakukan ialah mengubah seluruh gaya hidup dan kebiasaan Anda dan cara Anda melakukan segala hal. Anda pun harus mengubah pandangan hidup Anda, khususnya pandangan tradisional terhadap peran Anda sebagai pria, termasuk mengasuh anak.

* Pelajari segala ketrampilan baru, menyadap sumber daya yang selama ini tak Anda ketahui ada dalam diri Anda. Anda pun harus mulai melakukan pekerjaan yang kadang-kadang mungkin menjemukan seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan tentunya menjaga si kecil.

* Jangan berharap segala sesuatunya akan berjalan mulus seperti harapan Anda. Bersiaplah menghadapi guncangan, kejutan, kekecewaan, bahkan kegagalan. Sebaliknya, Anda juga pasti akan mendapat sukses secara mengejutkan, serta saat-saat yang penuh suka cita dan kegembiraan kala mengasuh si kecil.

* Perluas wawasan Anda dengan membaca buku-buku tentang pengasuhan, perawatan dan pendidikan anak. Ini akan sangat membantu Anda, juga memberikan rasa aman dalam mengatasi masalah sulit.

* Akal sehat Anda merupakan penuntun yang berguna dalam hampir semua situasi. Kendati begitu, tak ada salahnya Anda minta bantuan para ahli dalam situasi-situasi tertentu, seperti dokter anak atau psikolog anak.

* Tak ada salahnya bertukar pikiran dengan ayah lain yang menjadi orang tua tunggal. Anda berdua bisa saling memberikan dukungan. Anda pun perlu berkomunikasi dengan para ibu yang sendirian untuk bekerja sama secara serasi.

* Jangan sembunyikan kebenaran atau mengatakan kebohongan kepada anak-anak tentang ibu mereka. Juga, jangan sekali-sekali mengatakan yang buruk tentang ibu mereka. Anda tentu tak ingin si kecil menjadi makin gelisah dan ketakutan, bukan?

* Jika Anda ingin mengambil seorang pengasuh anak, Anda harus yakin si pengasuh adalah orang yang bertanggungjawab dan terlatih. Tapi ingat, jangan serahkan sepenuhnya pengasuhan si kecik kepada sang pengasuh. Anda tetap dituntut untuk menyediakan waktu bagi si kecil, memberikan perhatian dan kasih sayang Anda kepadanya.

Hasto Prianggoro

Views : 4714

blog comments powered by Disqus