Membership
Lupa password?
Pasangan

Serumah Dengan Ipar Tanpa Ada Perang Berkobar
Senin, 12 April 2010
Pasangan Serumah dengan Ipar

Iman Dharma/nakita

K ehadiran ipar tak akan mengganggu asal kita mau terbuka dan berani bersikap tegas. Tentu saja, kedua belah pihak mesti punya pengertian dan kesadaran diri.

Sering terjadi, karena satu dan lain hal, kita mesti tinggal serumah dengan ipar. Biasanya, yang lebih banyak menimbulkan masalah adalah ipar perempuan. Nah, hubungan dengan ipar perempuan, kata banyak orang, tak jauh beda dengan hubungan menantu (perempuan) dan ibu mertua. Entah masalah cemburu, persaingan, dan ujung-ujungnya bisa membuat goncang hubungan suami-istri.

Kendati demikian, sebagaimana kehadiran ibu mertua, keberadaan ipar tak lantas berarti selalu mengganggu, kok. Malah, tak sedikit ipar yang justru sangat membantu dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, menunggui anak-anak kala kita bekerja di kantor, membantu pekerjaan di rumah (terlebih jika di rumah tak ada pembantu.)

Ipar, ujar Dra. Rostiana , psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta, bisa menjadi teman berbagi rasa bagi istri. "Tentu saja diperlukan syarat untuk itu, yakni hubungan antara ipar dengan keluarga sang kakak memang baik. Kalau si ipar bertipe terbuka, biasanya memang tak ada masalah."

PENGERTIAN

Apa sebetulnya pencetus masalah ipar dengan keluarga kakaknya? Umumnya karena masalah kepribadian, baik kepribadian pasangan maupun kepribadian ipar sendiri. Misalnya, persaingan antara istri dan adik ipar perempuan. "Masing-masing merasa kasih sayang yang diberikan terbagi. Apalagi, jika adik suami yang tinggal bersama itu adalah orang yang sangat dekat dengan kakaknya," tutur Rostiana.

Akibatnya, sang kakak (suami) jadi "korban". Ia dihadapkan pada kesulitan membagi perhatian ke adik tersayang dan ke istri. "Jika suami tak bisa mengambil tindakan yang bijaksana, biasanya konflik akan semakin meruncing," lanjut Rostiana. Misalnya, suami tak memenangkan atau menyalahkan dua-duanya. "Jelas tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin, yang terbaik, mengajak kedua pihak bicara."

Pengertian dari ipar juga sangat dituntut. "Ia harus sadar, kakaknya sudah menjadi milik orang lain." Tanpa itu, konflik akan terus meruncing. Yang susah, jika kedua pihak "mengadu"pada keluarga besar masing-masing, entah orang tua maupun saudara-saudara. "Peperangan" pun semakin berkobar dan melebar ke konflik antar keluarga.

Masalah akan semakin kompleks jika kebetulan si ipar (perempuan) usianya jauh lebih tua. Yang terjadi, istri merasa sungkan untuk menegur. "Sebaliknya, kalau tak ditegur, kelakuan si ipar dirasa kurang tepat. Lagi-lagi suami yang ketempuan. Ia dituntut harus bisa mengambil peranan," ungkap Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Untar ini. Beda, kan, jika ipar lebih muda? Istri bisa memperlakukan adik ipar seperti adiknya sendiri. lanjut Rostiana.

MENDOMINASI ANAK

Rostiana mengingatkan, kontribusi ipar dalam mengasuh anak sangat besar. Apalagi jika si anak sudah mulai besar. "Kontribusinya bisa positif tapi juga bisa negatif." Kalau ipar sangat memperhatikan keponakannya, akan sangat membantu. Terlebih jika ibu dan ayah si anak bekerja. "Istri jadi tenang, suami percaya karena anak diasuh adiknya, ipar pun merasa harus membantu karena menumpang di rumah sang kakak."

Yang jadi masalah jika pola pengasuhan antara istri dan ipar berbeda. Kalau sama-sama bagus, sih, tak apa. Celakanya, kalau si tante amat memanjakan keponakan sehingga si anak tak kenal disiplin, misalnya.

Risiko timbulnya kasus seperti itu, lebih besar terjadi pada pasangan bekerja. Anak, otomatis, lebih sering berinteraksi dengan tantenya. Tak heran bila si anak akan meniru dan menjadikan tantenya sebagai tokoh identifikasinya. Termasuk hanya menurut kepada sang tante. "Ini yang mesti diperhatikan pasangan suami-istri."

Dominasi ipar yang begitu besar dalam pengasuhan anak, juga bisa membuat pasangan jadi pasif. "Apa-apa, sang tante yang mengatur. Alhasil, orang tua merasa tak punya hak lagi atas anaknya. Ini, kan, kacau," kata Rostiana. Makin runyam lagi, saat si anak beranjak besar, ikatan emosional antara anak dengan ayah-ibunya justru tak seerat seperti halnya ia dengan sang tante.

PEGANG KENDALI

Sebab itulah, lanjut Rostiana, orang tua jangan menyerahkan begitu saja pengasuhan anak pada sang tante. "Orang tua jadi tak punya ikatan emosional dengan anak sementara anak sendiri merasa, ia tak diinginkan oleh orang tuanya."

Supaya semua itu tak terjadi, sejak awal harusnya suami-istri sudah mendesain, seberapa jauh atau besar porsi keterlibatan ipar terhadap anak. Untuk hal-hal penting, misalnya ke dokter, urusan sekolah, "Harus orang tua yang memegang. Kecuali, jika orang tua benar-benar berhalangan."

Jika pola ini diterapkan, lanjut Rostiana, orang tua akan tetap berada pada posisi mengendalikan anak. Dalam arti tetap bisa menjaga hubungan dengan anaknya. "Jelaskan pula pada anak tentang kehadiran sang tante di rumah mereka."

Apalagi, biasanya karena merasa keponakannya bukan anak kandungnya sendiri, ipar justru akan mempunyai ikatan yang demikian kuat untuk melindungi keponakannya. Ia akan lebih memanjakan dan sayang pada keponakannya karena takut untuk memarahi. "Bukan anak saya, kok, saya marahi." Akibatnya si anak akan merasa dekat dengan tantenya.

Tak ada salahnya pasangan mengajak ipar ngobrol soal anak, sambil meminta tolong ipar menerapkan disiplin yang sama pada si anak. Tapi tentunya itu hanya bisa dilakukan jika si ipar sejalan.

JUJUR DAN TERBUKA

Selain masalah berebut kasih sayang dan soal anak, soal uang juga bisa memicu konflik. Terutama bila suami adalah anak sulung yang merasa harus ikut membantu membiayai adik-adiknya. Istri bisa cemburu jika suami dan sang ipar memiliki hubungan khusus. "Kalau perlu apa-apa, ipar minta langsung ke kakak atau diam-diam si kakak suka memberi uang."

Akan lebih bijaksana, kata Rostiana, jika setiap pengeluaran untuk keperluan ipar diketahui oleh kedua pihak. "Meski suami-istri sama-sama kerja dan punya penghasilan, itu tetap harus dilakukan. Begitu juga bila ada keperluan mendadak, suami tetap harus menyampaikannya kepada istri."

Untuk menghindari konflik, suami sebaiknya memberi uang pada adik lewat istri. "Jadi, adik enggak minta pada kakaknya tapi pada si kakak ipar." Kalau keuangan terbatas, sepakati seberapa jauh pasangan bisa menolong ipar. Jangan sampai suami memutuskan, "Ya," sementara istrinya enggak tahu apa-apa. Bila itu yang terjadi, "Istri akan merasa tak terlibat, merasa dikesampingkan. Akibatnya ia pun tak merasa bertanggungjawab," tutur Rostiana.

Kesepakatan soal keuangan ini sebaiknya diambil jauh sebelum adik ipar datang. "Yang sering terjadi, sih, kedatangannya tak terduga. Tapi tetap bisa disiasati sepanjang suami-istri saling bersikap terbuka dan jujur."

BICARAKAN SEJAK AWAL

Jika pecah konflik antara suami-istri dan ipar, yang paling sering disalahkan biasanya si ipar. Meski mungkin masalah justru timbul dari pihak suami-istri. "Yang dituntut untuk lebih banyak menyesuaikan diri adalah ipar. Buntut-buntutnya, dia yang paling menderita. Habis, bicara sama sang kakak, tak berani. Mau terbuka pada ipar, sungkan."

Pengertian kedua belah pihak, tentu amat diperlukan. Dan itu akan lebih baik lagi jika sudah dilakukan sejak awal. "termasuk tentang masa depan si ipar. Apakah ia akan terus tinggal di rumah kakak atau bagaimana." Jika masalah mulai muncul, pesan Rostiana, "Segera bicarakan, jangan biarkan berlarut-latur hingga akhirnya orang seumah menjadi stres." Kalaupun merasa tak bisa bicara langsung, bisa minta bantuan keluarga dekat atau orang tua.

Pihak kakak (suami) dan istri pun bisa memberi batas yang tegas. "Soal menegur ipar yang lebih tua, misalnya. Kalau demi kepentingan anak, kenapa harus sungkan. Yang penting, kan, cara menegurnya hingga si ipar tak tersinggung."

Rostiana juga menambahkan, lebih banyak berbuat dibanding berbicara, juga akan lebih efektif. Terutama soal aturan. Jika istri memang orang yang terbiasa rapi, misalnya setelah makan langsung menaruh piring, maka ipar lama-lama akan mengikuti tindakan istri.

SUMBER SEKALIGUS KORBAN

Kalau mau meniadakan masalah, memang ada cara yang mudah, yaitu tak menerima kehadiran si ipar di rumah. "Tapi kultur budaya kita, kan, tidak begitu. Ya, diterima saja. Yang penting bagaimana kita mensosialisasikan peraturan kita ke ipar dan jangan malah didahului sosialisasi aturan ipar," tutur Rostiana.

Karena itulah, tekannya, keterbukaan yang dilakukan sejak awal, merupakan faktor penting. "Sering-seringlah ngobrol tentang segala hal. Bila keterbukaan sedini mungkin diterapkan, timbulnya masalah bisa dicegah." Tentu saja hal ini membutuhkan keberanian. Apalagi jika ipar lebih tua atau mudah tersinggung.

Peran suami juga sangat menentukan. Biasanya kalau suami menunjukkan perubahan, maka ipar akan ikut. Yang jelas, semuanya tergantung kepribadian dan pola hubungan di dalam keluarga. Jadi, tak bisa disimpulkan kehadiran ipar pasti menjadi sumber malapetaka. "Tergantung interaksinya. Ipar bisa menjadi sumber masalah, tapi juga bisa menjadi korban."

Hasto Prianggoro/nakita

Views : 4712

#Tag :


blog comments powered by Disqus