Membership
Lupa password?
Pasangan

Sakit Saat Berintim-Intim
Senin, 30 Mei 2011
pasangan 104

poeguh/nakita

B aik istri maupun suami bisa mengalaminya. Harus segera diupayakan pengobatan jika tak ingin hubungan jadi dingin.

Pada wanita, terang DR. Gerard Paat, MPH., penyebabnya lebih karena faktor psikis, yakni ada penolakan terhadap hubungan intim itu sendiri secara umum maupun terhadap pasangan semisal sedang ngambek, bahkan benci pada suami yang mungkin galak atau suka main pukul dan sejenisnya.

Akibat penolakan tersebut muncul semacam penyempitan vagina yang terjadi secara otomatis dan membuat penetrasi terasa sakit. "Jika penyempitan yang ditandai kejang-kejang vagina ini tergolong berat, penis akan terjepit di dalam vagina dan baru bisa dikeluarkan oleh dokter dengan pengobatan narkosa atau colok dubur," tutur seksolog dari Biro Konsultasi Kesejahteraan Keluarga RS St. Carolus, Jakarta, ini.

Sedangkan penyebab yang bersifat fisik, ada radang akibat jamur yang diperparah infeksi kuman/bakteri pada vagina, disebut vaginistis. Keluhan ini biasanya ditandai gejala rasa panas, perih, dan tak nyaman yang akan meningkat saat persetubuhan. Keluhan makin menghebat jika infeksi atau peradangan itu disebabkan penyakit kelamin semisal kencing nanah.

Penyebab lain yang juga bersifat fisik, rasa sakit akibat vagina kering pada wanita purna menopause yang mengalami atrofi (penyusutan salah satu organ semisal sel, jaringan).

KURANG HIGIENIS

Beda dengan pria, penyebabnya melulu aspek fisik. "Bila karena psikis, yang umum terjadi adalah tak bisa ereksi. Kalau sudah begini, tak mungkin bisa penetrasi," jelas Gerard.

Biasanya, dyspareunia atau sakit saat berhubungan intim yang dialami pria, disebabkan ada perlukaan pada alat kelamin akibat lecet atau gangguan herpes genitalis yang hilang-timbul. "Di saat mau muncul, bisul-bisul yang ada di alat kelamin akan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat ketika berhubungan seksual."

Penyebab lain, phymosis, tapi kejadiannya hanya pada pria yang tak disunat. Bila kurang higienis, prepotium atau kulit kepala penis akan menempel akibat penumpukan kotoran. Hingga, saat berhubungan, prepotium akan tertarik dan akhirnya menimbulkan rasa sakit.

Pemakaian AKDR/spiral juga diduga menjadi salah satu penyebab munculnya dyspareunia pada pria, meski kasus ini jarang terjadi. "Jika bagian ujung kawat spiral tersembul ke vagina lalu menyentuh-nyentuh bagian ujung penis, akan menimbulkan rasa sakit." Biasanya keluhan ini dirasakan bila istri berada di posisi atas. Soalnya, dalam posisi seperti itu, rahim dan mulutnya ikut turun karena pengaruh gaya berat, hingga jarak antara pintu vagina dan mulut rahim jadi pendek. "Jadi, bukan spiralnya yang turun, lo!"

HARUS DIOBATI

Apa pun penyebabnya, dyspareunia harus diatasi dan diupayakan pengobatannya. Soalnya, hubungan intim yang normal sama sekali tak menimbulkan rasa sakit pada kedua belah pihak. Sekalipun dalam keseharian di vagina terdapat jamur dan bakteri yang bersifat apatogen alias tak mengganggu atau tak menyebabkan penyakit. Hanya saja di saat-saat tertentu, seperti kondisi tubuh tak prima atau daya tahan menurun, bisa saja kuman-kuman itu berubah jadi patogen. Sebabnya, di saat demikian tak ada lagi keseimbangan antara asam dan basa. Kelewat basa atau asam inilah yang kemudian memicu kuman jadi patogen.

Pada wanita, menurut Gerard, harus segera diatasi dengan minta bantuan psikiater. Pasalnya, selain bantuan psikologis, biasanya juga diperlukan obat. Namun bila dirasa bantuan psikologis tak diperlukan, cukup ke dokter kandungan atau dokter umum. "Ini, kan, bukan penyakit spesialistik, makanya dokter umum juga bisa."

Sementara pada pria, untuk mengatasi perlukaan/infeksi, cukup ke mantri asalkan ada pemberian obat antibiotika. Biasanya akan sembuh dalam waktu 7-10 hari. Malah, vaginistis akibat jamur pun bisa teratasi dalam 2 hari dengan pengobatan yang ada, yakni tablet berbentuk seperti peluru dan dimasukkan ke vagina. Hanya saja, harganya relatif mahal, sekitar Rp 80 ribu.

"PUASA" SEMENTARA

Jika dyspareunia tak segera diatasi atau didiamkan berlarut-larut tanpa upaya pengobatan, menurut Gerard, akan membuat pasangan ogah berintim-intim. Jikapun dipaksakan, akan terasa makin sakit, hingga membuat yang bersangkutan maupun pasangannya jadi jengah dan akhirnya berbuntut pada keengganan.

Tentunya, selama menjalani pengobatan atau menunggu proses penyembuhan, suami-istri diminta "berpuasa" untuk waktu tertentu. Bukankah bila sedang sakit memang tak boleh berintim-intim untuk mencegah penularan? Meskipun ada yang tak menularkan semisal infeksi jamur, tapi biasanya menyebabkan gatal.

Namun Gerard minta, jangan sampai keluhan dyspareunia pada salah satu pihak dipakai oleh pihak yang lain sebagai alasan untuk cari "ban serep" alias pembenaran berselingkuh.

"Itu cara berpikir yang dangkal!" tegasnya. Sebagai manusia, lanjutnya, kita punya moral dan sistem nilai. "Harus ada semangat berkorban disertai pengendalian diri, dong!" Itu sebab, anjurnya, suami menemani istrinya berobat, bukan malah menambah masalah baru dengan "jajan" di luaran.

Tanpa semangat berkorban dan pengendalian diri, terangnya, perkawinan bakal hancur. Lagi pula, "berpuasa"nya juga enggak lama, kok, rata-rata cuma seminggu. Jadi, kenapa tidak? Toh, demi kebaikan bersama. Iya, kan, Bu-Pak?

 
 

Harus Rajin Mandi

Sebenarnya, angka kejadian dyspareunia yang disebabkan keluhan fisik, tak banyak, kok. Jadi, tak usah kelewat dicemaskan.

Umumnya, kata Gerard, dialami oleh golongan bawah yang higienisnya kurang. Dalam arti kebersihan secara umum kurang, semisal belum tentu mandi dua kali sehari. "Jikapun mandi, belum tentu menggunakan sabun mandi untuk membersihkan kotoran yang menempel di tubuh. Selain itu, mereka, kan, tergolong malas mencuci alat kelamin maupun berganti pakaian dalam yang bersih."

Kendati begitu, tak ada salahnya kita perhatikan betul faktor kebersihan ini. Kala terpaksa BAK di tempat umum, misal, untuk wanita jangan lupa bersihkan dulu klosetnya dan bawa tisu bersih untuk mengeringkan vagina. Sekalipun kita tak perlu risau akan tertular penyakit karena kuman akan cepat mati jika sudah berada di luar tubuh. Kemudian, bila dirasa lembab, segeralah berganti pakaian dalam karena kondisi tersebut amat kondusif untuk tumbuh kembangnya jamur atau kuman.

Selain itu, Gerard pun menganjurkan agar sebelum berintim-intim, baik suami maupun istri harus membersihkan organ kelaminnya masing-masing. Begitu juga usai berintim-intim, meski tak harus sesegera mungkin.

 
 Th. Puspayanti/nakita

Views : 10176

blog comments powered by Disqus