Membership
Lupa password?
Pasangan

Rahasia Pernikahan Bahagia (1)
Jumat, 23 September 2011
Rahasia Pernikahan Bahagia

Foto: Getty Images

Di atas kertas, pasangan yang baru memiliki anak ditantang untuk menjaga gairah keintiman tetap bergelora. Itu teorinya, bagaimana dengan praktiknya?

Sebetulnya, siapa pun pasti pernah mendengar delapan resep rahasia para pasangan bahagia ini. Entah dari orangtua, teman atau dari buku-buku nasihat perkawinan. Berikut sejumlah kiat yang bisa Anda terapkan untuk menjaga hubungan suami istri agar tetap menggairahkan. Terutama saat perkawinan sudah direpotkan dengan lahirnya anak-anak dan setelah sekian tahun bersama yang tak jarang membuat mereka bosan. Inilah sejumlah resep rahasia agar kehidupan seksual tetap menggelora yang patut Anda coba.

1 Tertib Menjadwalkan Aktivitas Seks

Apa? Mencantumkan berintim-intim dengan suami dalam jadwal? “Mutlak ya!” itulah jawaban para pasangan bahagia yang puas dengan kehidupan seksual mereka. Daripada membunuh mood  karena rendahnya spontanitas, menjadwalkan seks cenderung menjadi pengambil alih dorongan untuk mencari-cari alasan. Semisal, “Aduh besok aja , deh. Malam ini aku capek  banget, tadi seharian rapat maraton.” Atau, “Aku harus bacakan dongeng anak-anak dulu, nih,” dan segudang alasan lain yang tidak akan pernah ada habisnya.

Bagi pasangan-pasangan yang telah lama berkeluarga, merencanakan suasana romantis akan mengarahkan mereka pada pengalaman seksual yang lebih berkualitas dan benar-benar ternikmati.

Nah, daripada memikirkan jadwal kebersamaan sebagai sesuatu yang membosankan dan tidak romantis, pandanglah aktivitas ini sebagai sajian pembukaan yang sungguh nikmat. Ada baiknya Anda saling berkirim SMS yang nadanya menggoda, merencanakan busana seksi yang akan Anda kenakan (atau malah tidak Anda kenakan), tata ruang tidur sedemikian menggairahkan, dan sebagainya.

2 Memastikan pintu kamar sudah terkunci dengan aman

Salah satu hal “sepele” yang harus mendapat perhatian utama pasangan suami istri yang sudah memiliki anak usia 11 bulan sampai 23 tahun saat memasuki rumah baru mereka adalah kunci pintu kamar tidur utama. Bukan hanya kunci secara fisik, tapi juga sense of boundaries  alias pemahaman mengenai batas-batas yang harus dipatuhi seluruh anggota keluarga. Pastikan pula anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing saat Anda berdua ingin berintim-intim. Selain itu tegakkan aturan bahwa siapa pun dalam keluarga/rumah itu harus mengetuk pintu sebelum masuk kamar anggota keluarga lain.

Setiap pasangan perlu mengevaluasi kondisi lingkungan mereka dan menetapkan kondisi optimal seperti apa yang diharapkan guna menikmati kehidupan seks yang prima. Sementara pasangan lainnya boleh jadi butuh sederet kriteria untuk menghadirkan suasana relaks dan sensual dalam kamar tidur mereka dengan memasang perangkat elektronik, komputer dan TV, serta melarang anak dan pernak-pernik mainan mereka ada di ruang tidur utama.

3 Terburu-buru pun tetap bisa sempurna

Selama periode kritis tertentu dalam perkawinan, terutama saat menjadi orangtua baru, waktu dan energi Anda sama-sama menuntut ditempatkan di posisi puncak. Pasangan yang cerdik memelihara kehidupan seksual mereka secara baik dalam masa krisis ini. Mereka telah belajar bagaimana melakukannya serba cepat namun tetap memberi kepuasaan seksual yang tiada tara.

Boleh jadi dulu Anda terbiasa selalu menolak seks kilat hanya karena Anda merasa butuh waktu untuk mempersiapkan fisik guna membangun mood . Namun jangan menganggap remeh dahsyatnya tenaga koneksi antara tubuh dan pikiran. Jadi, cobalah pikirkan tempat atau momen istimewa yang tak terlupakan saat seksualitas Anda rasakan begitu luar biasa. Gunakan pikiran menyenangkan tersebut layaknya meditasi. Biarkan raga Anda mengikuti pikiran Anda berkelana ke suasana yang sungguh menyenangkan tadi. Jangan pernah takut untuk berfantasi. Kalau Anda bisa menemukan cara-cara cerdik memanfaatkan waktu selama 20 menit untuk menghadirkan suasana romantis, Anda pun akan mampu menghindari masa-masa penuh kebosanan yang terasa amat menyakitkan.

4 Tak Segan Bereksperimen

Bersikaplah terbuka terhadap cara-cara yang berbeda dalam mengekspresikan diri secara seksual. Sama seperti musik, setiap individu pada dasarnya merupakan paduan antara sesuatu yang bisa diprediksi dengan hal-hal tak terduga. Anda harus mencari tahu di mana letak keseimbangan antara hal-hal yang konvensional dan penuh petualangan. Jangan kelewat berpegang teguh pada hal-hal yang konvensional karena pasti akan sangat membosankan. Akan tetapi jangan pula kelewat jauh berpetualang karena bisa-bisa Anda malah kehilangan keintiman atau kadar keakraban di antara Anda berdua menurun ke batas minimum.

Keberanian bereksperimen ini berarti mencakup semua hal, dari posisi sampai perilaku secara keseluruhan yang Anda libatkan dalam memasuki kehidupan intim. Kebiasaan-kebiasaan yang itu-itu saja, seperti berhubungan intim hanya di hari-hari tertentu, bahkan pada jam-jam yang sama di tempat yang sama pula tentu akan sangat membosankan. Sesuatu yang sederhana, seperti menaburkan wewangian di lantai ruang tidur atau menaruh bunga-bunga segar di bak mandi tentu akan memberi sensasi tersendiri untuk menghalau kebosanan sekaligus mengobarkan gairah seks.

Atau tak ada salahnya sesekali tinggalkan rumah. Sah-sah saja, kok, sesekali Anda menyepi berdua saja dengan suami. Tak sedikit pasangan yang menuturkan bahwa mereka justru bisa menikmati kehidupan suami istri yang luar biasa selagi tidak berada di rumah sendiri. Oleh sebagian pakar hal ini kerap disebut sebagai sindrom “sedikit berkotor-kotor” di motel.

Tak harus sebatas vacation  di mana Anda secara khusus membayar tenaga pengasuh yang akan menemani anak-anak di rumah saat Anda ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Toh, sesekali di akhir pekan Anda bisa menitipkan mereka di rumah kakek-neneknya, hingga Anda berdua punya waktu khusus untuk menjalin keintiman dengan suami tercinta. Bisa juga bernostalgia dengan kencan selama beberapa jam di tempat kenangan semasa pacaran dulu. Pasti sungguh mengasyikkan!

Paskaria / bersambung

Views : 4837

blog comments powered by Disqus