Membership
Lupa password?
Pasangan

Maksimal Mencapai Klimaks
Selasa, 13 September 2011
Anda dan Pasangan

Foto: Getty Images

Tak jarang wanita sulit mencapai “puncak“ ketika berhubungan intim. Bisa jadi 10 faktor ini menjadi penyebab utama.

Banyak hal yang membuat orgasme tidak tercapai, salah satunya adalah kurangnya rasa percaya diri. Untuk mengetahui lebih banyak, perhatikan hal-hal di bawah ini dan pelajarilah bersama pasangan Anda.

Harus Percaya Diri

Rasa percaya diri seorang wanita bisa dipengaruhi oleh kondisi alat kelaminnya. Ketika ia berhubungan seksual dan dihantui kekhawatiran mengenai vaginanya, pikirannya berasumsi, “Saya tidak mampu memuaskan pasangan.” Padahal pikiran semacam ini hanya akan merusak aktivitas seksual Anda dan pasangan.

Menurut Lisa Stern, RN, MSN., ahli seks, ciri-ciri vagina bermasalah adalah vagina terasa sakit, mengeluarkan cairan berbau, luka, atau masalah medis lainnya. Tidak memiliki gangguan tadi? Berarti vagina Anda baik-baik saja atau cek saja ke dokter kandungan untuk benar-benar memastikan. Ingat, orgasme hanya terjadi jika Anda dan pasangan sama-sama percaya diri. Jika memang organ intim Anda bermasalah, jangan malu dan segeralah berkonsultasi ke dokter.

Butuh Waktu Lama

Dibandingkan pria, wanita butuh waktu yang lama untuk bisa orgasme. Berdasarkan statistik yang diperoleh Stern, wanita setidaknya membutuhkan 20 menit untuk mencapai orgasme. Dibandingkan pria, durasi wanita mencapai puncak memang jauh lebih lama. Namun menurut Stern, hal ini sangat normal. Nah, jika pasangan cenderung mencapai orgasme lebih dulu, bekerjasamalah. Minta ia untuk menurunkan tempo permainan di ranjang sampai Anda orgasme.

Kesulitan Orgasme

Menurut data Planned Parenthood, 1 dari 3 wanita sulit mencapai klimaks saat bercinta. Sementara 80 persen wanita mengalami kesulitan mendapatkan orgasme jika hanya melalui penetrasi penis pada vagina. Pria bisa membantu wanitanya orgasme melalui stimulasi klitoris, atau dengan bantuan medis seperti terapi testosteron topikal dan beberapa obat oral. Sebagai catatan, sebelum mengonsumsi obat-obatan ini, pastikan diagnosis dokter menyatakan Anda bebas dari penyakit diabetes, depresi, dan gangguan kelenjar tiroid.

‘Gap' Orgasme

Istilah orgasms gap diberikan ketika salah satu pasangan mengalami orgasme dan yang lainnya tidak berhasil. Sayangnya, pria jarang menyadari ini. Hal ini selaras dengan penelitian yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 64 persen wanita yang mengaku orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya. Ini tidak sesuai dengan pengakuan 85 persen pria yang mengaku berhasil membuat pasangan wanitanya orgasme. Hindari kesenjangan orgasme ini dengan berusaha memahami kebutuhan dan “titik erotis” pasangannya.

Spontan Terjadi

Anda mungkin akan menggelengkan kepala pertanda tak percaya ketika mengetahui bahwa ada beberapa kasus di mana wanita mengalami orgasme tanpa berhubungan intim. Sesungguhnya, orgasme spontan memang mungkin saja terjadi. Rahasianya lakukan kegiatan yang memacu darah ke organ intim dan menggetarkan klitoris. Bahkan ketika Anda dipijat pun mungkin saja Anda mengalami orgasme. Pasalnya peningkatan aliran darah dan perasaan rileks saat dipijat bisa membuat seseorang mengalami orgasme.

G-Spot Vs Orgasme

Dapatkah Anda mengidentifikasi di mana letak G-Spot? “G” yang pertama kali ditemukan Ernst Grafenberg, MD., ini disebut sebagai daerah vagina yang diyakini memuat sebagian besar ujung syaraf yang menjadi kunci orgasme pada wanita. Banyak yang menentang temuan ini, tapi Cadell Ava seia sekata dengan Grafenberg. Ahli seks asal Los Angeles ini menjelaskan, perempuan harus bisa menemukan G-Spot-nya. Ciri-cirinya berada di dalam vagina dengan tekstur agak kasar, dan timbul sensasi yang menyenangkan ketika disentuh.

Makin Matang, Makin Berkualitas

Jangan takut menjadi tua dan tidak bergairah. Ahli seks, Dr. Herbenick menuturkan bahwa kualitas dan frekuensi orgasme pada seorang wanita justru akan semakin meningkat seiring pertambahan usia.

“Sebagai bukti, 61 persen wanita usia 18-24 tahun orgasme saat bercinta, sedang 65 persen pada wanita berusia 30-an dan 70 persen wanita di usia 40-50-an,” jelasnya. Singkatnya, semakin Anda matang, semakin banyak pula pengalaman Anda berhubungan intim dengan suami. Hubungan jangka lama bersama suami juga membuat Anda tahu apa yang diinginkan dan lebih percaya diri. Suami bisa membantu istri, lho, dalam hal ini.

Sering Eksperimen?

Anda sudah tahu, setelah suami mencium, ia akan bergerak menjelajahi kuping hingga titik erotis lain. Selama 10 tahun, ia memang melakukan hal yang sama dan sebetulnya Anda jenuh.

Padahal salah satu kunci mencapai orgasme adalah melakukan cara baru. Cobalah melakukan eksperimen seksual bersama pasangan Anda. Mulailah dari pemanasan atau intercourse . “Misalnya melakukan oral seks,” saran Dr. Herbenick. Intinya, Anda dan pasangan harus berani memeriahkan kehidupan ranjang dengan eksperimen. Tentunya, diskusikan dahulu dengan pasangan. Pastikan juga Anda berdua nyaman dengan eksperimen ini.

Orgasme Meredakan Nyeri

Tahukah Anda? Orgasme terbukti dapat meringankan semua jenis rasa sakit, termasuk rasa sakit dari arthritis, nyeri setelah operasi bahkan rasa sakit setelah melahirkan. Menurut Stern, tubuh melepaskan hormon yang disebut oksitosin saat orgasme.

“Oksitosin membuat seseorang rileks dan mengeluarkan energi positif,” jelasnya. Meski khasiat orgasme dalam menyembuhkan sakit kepala ini hanya bertahan 8-10 menit, tak ada salahnya dicoba, kan?

“Dihambat“ Kondom

Apakah kondom bisa memengaruhi kualitas orgasme? Jawabannya, tidak. Menurut Debby Herbenick, PhD., penulis buku Because It Feels Good , perempuan tetap bisa mengalami orgasme meski pasangannya memakai kondom atau tidak. “Malah, kondom bisa membantu pasangan bercinta lebih lama, karena kondom membuat pria tidak cepat ejakulasi.”

Ester Sondang


blog comments powered by Disqus