Membership
Lupa password?
Pasangan

Kenali 15 Karakter Suami
Senin, 20 Desember 2010
pasangan

I stri wajib mengenal karakter suaminya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Bukan begitu, Bu?

* DOMINAN

Suami cenderung mengarahkan dan mengatur-atur orang lain, terutama istrinya. Segala keputusan berada di tangannya. "Tentu saja hal ini akan menyebabkan ketimpangan-ketimpangan dalam keluarga karena suami-istri seharusnya merupakan koeksistensi atau berada dalam level yang sama," jelas Drajat S. Soemitro,  Kepala Bagian Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Mungkin saja istri menurut, tapi pasti dengan keterpaksaan atau perasaan ingin memberontak. Perasaan-perasaan serba tidak enak yang dipendam dalam diri istri akan menyebabkan muncul ketegangan-ketegangan dalam dirinya. Akibatnya hubungan suami istri pun akan terganggu. Karakter ini sebetulnya merupakan cerminan dari kekurangan suami.

Dominasi dimunculkan karena keinginan untuk memegang superioritas atau untuk menunjukkan kekuasaan. Baginya, ujar Drajat, "kalau saya tidak keras dan pegang kuasa, jangan-jangan saya dianggap lemah. Wah saya nggak mau dong!" Karakter ini tidak menimbulkan friksi atau masalah hanya jika istri memiliki "kebutuhan" untuk dieksploitasi, dijajah dan dijadikan korban. Suami yang dominan malah akan klop bila beristri perempuan masokis.

Suami dominan biasanya punya model ayah yang juga dominan. Di matanya, dominasi ayah terhadap ibunya terlihat begitu hebat dan heroik, menunjukkan superioritasnya sebagai lelaki jantan. "Kalau dominasi ini diramu dengan rasa marah dan benci, maka yang muncul adalah sifat sadis dan destruktif.

Kendati begitu, model ayah yang dominan bisa pula memunculkan pria penyayang yang amat melindungi wanita. Boleh jadi pria tadi "belajar" dari ketidaknyamanan yang dirasakannya sebagai anak dari orang tua yang dominan, lalu memilih tidak meneladani model tersebut."

* MINDER ATAU TAKUT ISTRI

Sebetulnya suami seperti ini "lahir" dari ibu yang kelewat dominan. Ia dibuat tergantung sedemikian rupa oleh ibunya. Namun dalam dinamika perkembangannya, si "anak" justru tumbuh menjadi pria yang dikuasai ketidakberdayaan. "Tak mengherankan kalau ia kemudian tampil sebagai suami lembut, penurut, submisif atau tidak berani melawan," tukas Drajat.

Tapi, tentu saja semua terpulang pada sosok wanita yang menjadi istrinya. "Kalau istrinya tidak dominan, boleh jadi ia pun tidak tergolong suami yang takut istri." Rasa takut dan minder biasanya disebabkan faktor ekonomi maupun psikis, yang membuat ia memang tergantung pada istrinya. Pengalaman semasa kanak-kanak seolah terulang lagi. Tidak jarang tipe suami begini manis di rumah, namun "liar" di luar dengan berlaku keras atau menekan bawahannya. Perilakunya di luar merupakan kompensasi dari ketidakberdayaan dan ketakutannya.

* CURIGA

"Bersumber dari insekuritas atau rasa tidak aman yang memunculkan sikap kelewat khawatir, cemas dan takut ditertawakan. Sebetulnya karena kurang capable atau ketidakmampuan membina hubungan sosial alias ketimpangan interpersonal." Ia selalu merasa was-was akan terjadi sesuatu yang merugikan atau mencelakakan dirinya. Itu sebabnya ia selalu curiga dan menganggap orang lain, termasuk istrinya, sebagai ancaman. Untuk mengatasinya, tak ada cara lain kecuali meningkatkan kematangan dan kepercayaan dirinya. Dalam kehidupan seseorang, jelas Drajat, manusia antara lain butuh rasa aman dan kepastian bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Seorang anak yang sedari kecil tidak pernah merasakan kehangatan pelukan ibunya atau tidak pernah merasakan rasa aman digandeng ayahnya ketika menyeberang jalan, memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pribadi pencuriga. "Rasa tidak aman ini akan 'terekam' dalam diri anak sejak bayi." Ia tidak memiliki kebanggaan pada sosok ayah atau ibu yang seharusnya melindunginya sehingga ia akan menilai bahwa hidup ini tidak cukup aman untuknya. Begitu juga aturan-aturan yang tidak jelas dan tidak pasti, semakin mengundang kecurigaan. Ia tidak tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Karena tidak memperoleh rasa aman tadi, kepribadiannya tidak berkembang, hingga serba takut dan bingung. Yang ada "Jangan-jangan nanti aku jadi bahan tertawaan. Jangan-jangan aku tidak lulus, dan pola jangan-jangan lainnya." Di sini, lagi-lagi orang tua yang terlalu keras dan kelewat mengatur akan melahirkan anak yang berkarakter curiga. Ia begitu mudah bereaksi "menyerang" bila orang lain terasa mengancam hidupnya.

* POSESIF

Yang ini serupa tapi tak sama dengan suami dominan karena sebetulnya membuat orang lain tercengkeram kuat dalam genggamannya. Untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan atau pengaruhnya, seorang suami posesif tidak mau sang istri lepas dari tangannya. Itulah mengapa suami tipe begini umumnya tidak "rela" istrinya berkarier di luar rumah karena khawatir kecantol pria lain. Ia pun tidak pernah siap bila istri lebih pintar atau memiliki karier yang lebih cemerlang dari dirinya. Pada dasarnya, kata Drajat, suami posesif adalah pribadi serba bingung yang juga lahir dari orang tua dominan.

* ANAK MAMI

Setiap kali ada masalah dalam keluarganya, suami tipe begini pasti akan lari mengadu atau mencari perlindungan pada ibunya. Jangan harap, deh, ia mau bersharing  dengan pasangan hidupnya. Menurut Drajat, penyebabnya karena sejak awal, anak tidak diajarkan atau dibiasakan untuk menghadapi realitas. Segala sesuatu ditentukan atau diatur oleh orang yang pegang dominasi tadi. Dalam hal ini, ibunya. "Tentu saja istri kerap tidak bisa menerima kenyataan dirinya dinomorsekiankan oleh suaminya setelah kepentingan ibunya." Mau tidak mau ia harus selalu diposisikan untuk "bersaing" dengan ibu mertua. Sementara ibu mertua senantiasa berambisi menunjukkan pada menantu dan "seluruh dunia" bahwa cuma dialah yang paling bisa merawat dan mengerti anaknya.

Seharusnya sebagai kepala keluarga, suamilah yang kini menentukan jalan hidupnya sendiri. Tapi karena selalu berada dalam cengkeraman atau di bawah payung perlindungan ibu, ia mengalami kesulitan untuk menjalankan perannya sebagai suami yang penuh tanggung jawab.

* CEREWET

Sejak kecil, tipe suami ini terbiasa dituntut untuk melakukan segalanya serba sempurna. Celakanya, karena tuntutan tersebut terlalu tinggi, si lelaki cilik tadi justru dibayangi kekhawatiran tidak pernah bisa beres menyelesaikan tugasnya. Kalau melakukan kesalahan sedikit saja, yang didapatinya pasti omelan atau kemarahan.

"Dalam rangka menutupi kekurangannya itulah, ia pun lantas menunjukkan sikap cerewet pada orang lain. Ia menuntut kesempurnaan yang sama pada orang lain. Soalnya, ia sudah terlanjur terobsesi segala sesuatu memang harus serba sempurna. Super-egonya terlalu tinggi." Nilai-nilai kehidupan yang dimiliki suami tipe ini sebetulnya baik. Tapi karena tujuan dan dasarnya begitu rapuh, nilai-nilai tersebut justru jadi tidak sejalan dengan realita.

Untuk mengatasinya, terang Drajat, sejak kecil berilah kepercayaan dan kesempatan pada anak, termasuk kesempatan berbuat salah. Latih anak untuk menghadapi kenyataan sekaligus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, tak peduli bagaimanapun hasilnya. Selain itu, tumbuh suburkan sikap toleran terhadap kekurangan atau kesalahan orang lain.

* PENDIAM

Tidak jadi masalah kalau istri bisa menangkap makna sikap diam suaminya lewat bahasa tubuh. Karena itu berarti komunikasi dua arah di antara mereka masih berlangsung. "Lo, si istri kan seharusnya sudah tahu sejak dulu kalau suaminya memang pendiam." Sikap pendiam ini baru akan jadi masalah kalau dijadikan alat oleh suami untuk menjauhkan diri dari istrinya. Jadi, lebih merupakan tameng atau keengganan suami untuk berkomunikasi.

Dalam kasus seperti ini, istri seharusnya berani introspeksi diri, mengapa suaminya jadi pendiam begitu. Kalau benar pernah terjadi kesalahpahaman akibat kegagalan berkomunikasi, apa yang kira-kira bisa diupayakan untuk menyelamatkan jalur komunikasi tadi. "Kalau diamnya lebih karena enggan berkomunikasi, sebetulnya ia memang sengaja menutup diri dari pasangannya." Secara tidak langsung bukankah ini berarti ia tak memaafkan maupun menghargai pasangannya lagi.

* NGERUMPI  

Sebetulnya tipe pria begini terbilang sangat jarang karena kondisi budaya lebih memungkinkan wanitalah yang jadi biang gosip atau tukang ngerumpi  karena wanita terbiasa bergantung pada orang lain. Dalam arti tidak berani ambil keputusan sendiri, hingga selalu "menoleh" dan meminta pendapat pada orang lain setiap kali ada masalah.

Menurut Drajat, dalam diri tiap orang ada kecenderungan untuk melengkapi apa pun yang belum lengkap. Begitu juga dalam melihat kehidupan, orang cenderung melengkapi-lengkapi apa yang dianggapnya kurang. "Itu sebabnya, semakin seseorang merasa dirinya kurang, semakin kuat kecenderungan untuk mencari-cari kekurangan orang lain lalu melengkapinya."

Sebaliknya, pria yang memiliki rasa percaya diri yang positif, lanjut Drajat, umumnya tidak terjebak pada kebiasaan ngegosip  begini. Drajat tidak menampik kemungkinan bahwa gosip di antara sesama pria bisa sedemikian hidup bila topiknya mengenai wanita atau hal-hal serupa. Berbagai situasi sosial yang semakin menekan, banyaknya kompetisi, bertumpuknya kegagalan demi kegagalan, membuat pria semakin takut ditolak, hingga semakin membutuhkan pemenuhan untuk melengkap-lengkapi kekurangan orang lain.

"Ngerumpi  ternyata juga dijadikan sarana mencari perhatian agar diterima oleh kelompok. Semakin seseorang butuh perasaan diterima kelompoknya, semakin dia berusaha menunjukkan kebolehannya bergosip ria hingga muncul kesan bahwa dia 'tahu' dan bisa diandalkan sebagai sumber informasi."

* PEMARAH

Tak jauh beda dengan suami dominan. Penyebabnya juga rasa tidak aman akibat sering mengalami frustrasi, menemui kegagalan, merasa kalah dan tersia-sia. "Meski idealnya, orang memang harus bisa menerima kekalahan. Kalau sering menemui kegagalan, sepatutnya mau introspeksi diri.

Nyatanya, tekanan-tekanan hidup jutru terakumulasi dalam sikap agresif." Kalau dimarahi bos di kantor, contohnya, lalu mencari pelampiasan di rumah dengan marah-marah.

Bentuk agresif seperti ini biasanya bersifat sementara. Sementara bila sudah begitu melekat dan membentuk citra tersendiri dalam diri yang bersangkutan, sifat agresif menetap menjadi sikap pemarah. Ada pula sifat agresif yang muncul dari ketidakpercayaan pada dunia, semisal melihat orang tuanya dibunuh.

Yang bersangkutan menangkap kesan bahwa dunia penuh kekerasan, hingga yang terbentuk dalam dirinya adalah "semangat" untuk bertahan. Kalau mau hidup berarti harus menunjukkan kekerasan untuk mengalahkan atau bahkan memusnahkan orang lain.

* PENUH TANGGUNG JAWAB

Asal tahu saja, pria tipe ini sangat sedikit jumlahnya. Mereka adalah suami-suami yang sudah cukup terlatih dan terbiasa menghadapi realitas. Umumnya suami-suami seperti ini semasa kecilnya adalah anak laki-laki yang diberi kepercayaan dan kesempatan orang tuanya untuk mencoba dan berbuat salah. Naik sepeda di jalan raya, contohnya.

Sebagai orang tua Anda pasti khawatir dia akan jatuh. Tanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa Anda percaya pada kemampuannya. Kalaupun akhirnya dia terjatuh, Anda pun tidak perlu langsung heboh menunjukkan kepanikan. Berikan kepercayaan bahwa dia bisa mengatasi masalah. "Begitu juga ketika dia berangkat remaja dan mulai bergaul dengan lawan jenis. Kenalkan anak pada bentuk-bentuk tanggung jawab yang harus dipikulnya. Tentu saja agar bisa memberi kepercayaan, kita harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri lebih dulu."

* PENASEHAT

Menghadapi tipe suami seperti ini, biasanya Anda justru jengkel dan merasa dianggap sebagai anak kecil yang perlu dicereweti terus-menerus. Suami tipe ini, kata Drajat, superegonya terlalu banyak terisi oleh nilai-nilai idealistik, hingga ia cenderung menasehati semua orang dalam setiap hal.

Ia baru bisa dibilang penasehat sejati kalau pengalaman hidupnya cukup kaya dan petuah-petuahnya pun muncul dari kedalaman rohani. Hingga dengan bekal itu, ia betul-betul mampu memberikan arah dan membantu mencarikan solusi. Tipe ini pun biasanya sebatas memberi nasehat tanpa memaksakan kehendak, tidak menuntut dan tidak pula menghujat orang lain. Melainkan mencermati pengalaman hidup yang diracik dengan nilai-nilai moral untuk menuntun, mengayomi dan melindungi keluarga dan orang lain.

* MUNAFIK

Sebenarnya karakter ini hampir mirip dengan karakter suami penasehat. Hanya saja, kata Drajat, munafik muncul dari pribadi yang tidak hidup di alam nyata atau mendasarkan diri pada pengalaman hidup. Tak mengherankan kalau pesan atau nasehatnya bombastis dan melambung dengan bahasa bagus, namun sama sekali tidak membumi. Dorongan menasehati pun timbul hanya karena merasa dirinya paling hebat. "Jangan merokok" tapi dia sendiri merokok. Menasehati orang lain untuk hidup jujur, namun ia sendiri korupsi, misalnya."

* PENUNTUT

Dalam masyarakat dulu, mungkin suami model begini tidak kelewat menimbulkan masalah. Tapi buat keluarga masa kini yang semua pihak sudah repot dengan urusan masing-masing, suami seperti ini betul-betul bikin jengkel. Bagaimana tidak? Kopi, sarapan dan keperluan mandi sudah harus tersedia saat dia membuka mata.

Makanan pun harus betul-betul istimewa dan disiapkan secara istimewa. Sementara bila istri kerepotan menangani urusan rumah tangga, dia seolah tak peduli. Begitu juga bila si kecil nangis, ia tenang-tenang saja baca koran. Nyebelin,  banget, kan?

Menurut Drajat, sikap ini juga merupakan tanda-tanda kejiwaan yang kurang sehat. "Yang bersangkutan merasa khawatir superioritasnya akan ditumbangkan pihak lain. Ia menganggap perlu membentengi diri dengan perlakuan yang eksesif atau berlebih."

Meski awalnya pasti berat, Drajat menyarankan agar istri justru membantu suami menumbuhkan kepercayaan dirinya. Beri dorongan dan upayakan agar suami merasa positif. Jangan malah menggerogoti, "Uh, suami saya memang payah!" Pokoknya, tegas Drajat lebih lanjut, jangan menunjukkan sikap frontal atau konfrontatif.

Tumbuhkan kepercayaan pada suami bahwa dia bukan kerbau dungu. Dia pasti punya rasa cinta pada keluarga, kok, meski kelihatannya egois. Karena jauh di lubuk hatinya ia justru ingin berteriak memekikkan rasa sakit yang dideritanya. Sementara ada budaya mengajarkan laki-laki pantang mengeluh dan menangis.

* KEIBUAN

Biasanya ia mau, lo, menyelesaikan segala tetek bengek urusan rumah tangga, sampai-sampai si istri merasa tidak berperan dalam keluarga. Menurut Drajat, karakter ini lebih dibentuk minat pribadi, bukan karena pembagian peran yang tidak jelas saat kecil. Pria model ini biasanya sudah terbiasa dan dilatih atau dilibatkan ibunya sejak kecil untuk selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan tempat tidur, menyapu lantai atau ke pasar. "Kalau kebiasaan tersebut sudah mendarah daging, tak perlu dilarang," saran Drajat.

 Toh, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi harga dirinya sebagai lelaki sejati. Kalau saat ini Anda pun sudah terbiasa melibatkan semua anak dalam pekerjaan rumah tangga tanpa membedakan gender, tak perlu terlalu khawatir anak laki-laki Anda tak akan tumbuh jadi pria kewanita-wanitaan, kok.

* CUEK

Suami tipe ini sebetulnya minta diladeni dan diperhatikan, meski kelihatannya tidak membutuhkan orang lain. Sikap ini bisa muncul karena ia terlalu diperhatikan, hingga perhatian Anda dirasa tidak istimewa. Atau sebaliknya sama sekali jarang mendapat perhatian, namun gengsi mengakuinya. Rasa sebal Anda pada sikapnya sebetulnya sia-sia karena ia memang terbiasa untuk tidak menaruh peduli pada orang lain.  

Views : 20450

blog comments powered by Disqus