Membership
Lupa password?
Pasangan

Hamil dan Libido Ibu
Rabu, 01 Juni 2011
Hamil libido

Foto: Agus Nakita

Tia merasa heran, kenapa justru di masa hamil dia makin berselera melihat suaminya. Keinginannya untuk bercinta begitu menggebu-gebu. Padahal saat melakoninya, Tia khawatir akan mengganggu janinnya. Wajarkah yang dialami Tia?

Hasrat yang menggebu atau tingginya libido semasa hamil sebenarnya merupakan hal wajar. Alasannya, pada masa hamil terjadi perubahan hormonal dalam tubuh, terutama kadar hormon progesteron, estrogen, dan androgen. Seberapa tinggi peningkatan kadar hormon selama kehamilan sangat bervariasi secara individual. Itu karena ada banyak organ terlibat dalam produksi dan keseimbangan hormon khususnya selama kehamilan, di antaranya plasenta, ovarium, kelenjar adrenal, timbunan lemak tubuh, serta hati, baik ibu maupun janin.

Perubahan hormonal inilah yang dapat memengaruhi libido. Bila tinggi, bisa jadi hormon androgen dalam tubuh ibu mengalami peningkatan karena hormon inilah pencetusnya. Padahal perubahan hormon androgen dalam tubuhnya hanya kecil sekali (perubahan terbesar justru ditunjukkan oleh hormon progesteron).

Namun, faktor hormonal ini bukan satu-satunya penentu. Meninggi atau menurunnya gairah seksual juga dipengaruhi oleh sensitivitas seseorang. Pada wanita yang sangat sensitif, perubahan hormonal sedikit saja sudah mampu mengguncang kehidupan emosionalnya. Penjelasan yang sama juga berlaku untuk peningkatan hormon androgen di masa kehamilan.

PENDUKUNG LAIN

Selain pengaruh hormonal, meningkatnya libido semasa kehamilan juga dipengaruhi beberapa faktor lain. Di antaranya, persepsi terhadap bentuk tubuh. Kalau ibu hamil justru merasa makin seksi dengan bentuk tubuhnya sekarang, rasa percaya diri ini dapat menumbuhkan gairahnya untuk bercinta. Apa-lagi kalau suami tampak lebih "sayang" dan "memanjakan" istri karena kehamilannya. Adanya perasaan nyaman dan dipercaya oleh pasangan juga dapat menjadi pendorong meningkatnya libido ibu. Kalau suami rajin memuji dan memberikan perhatian, istri mana sih yang tidak ingin dekat-dekat dengannya?

Suasana lingkungan, bila dibuat romantis dan menyenangkan bukan mustahil mampu membangkitkan keinginan bercinta dan mengalahkan perasaan tak enak di masa hamil. Apalagi, "sex appeal"  sang ibu juga makin menonjol karena pengaruh kehamilan. Tubuh makin montok dan "seksi" terutama dalam pandangan suaminya.

DI MINGGU KE-16 SAMPAI 30

Bila dikaitkan dengan peningkatan/perubahan hormonal, mestinya peningkatan libido ini sudah dialami sejak awal kehamilan. Bukankah peningkatan jumlah hormon androgen dan progesteron sudah terjadi sejak awal kehamilan? Kalaupun tidak terjadi, umumnya karena di awal kehamilan mayoritas ibu hamil didera gangguan mual-muntah. Hal inilah yang di antaranya seolah mematikan hasrat seksual mereka.

Gairah biasanya baru pulih dan meningkat di antara minggu ke-16 sampai ke-30 ketika keluhan mual-muntah mulai menghilang. Ibu pun kini semakin terbiasa sekaligus bisa menikmati kehamilannya.

Selain itu, memasuki minggu ke-16 plasenta pun sudah menempel kuat di rahim. Dengan demikian kalaupun terjadi kontraksi saat berhubungan intim, janin tetap aman dalam rahim. Begitu juga risiko terjadinya kelahiran prematur yang relatif lebih aman dibanding ketika plasenta belum menempel kuat. Hanya saja memasuki minggu ke-30 hasrat untuk berhubungan intim umumnya mulai kembali menurun seiring dengan semakin membesarnya perut. Kondisi seperti ini tentunya juga berpengaruh pada kenyamanan saat berhubungan intim.

Khusus untuk wanita yang mengalami kehamilan lewat waktu, hubungan intim sepanjang akhir kehamilan malah amat dianjurkan. Mengapa? Rangsangan seksual selama bercinta maupun semburan sperma yang mengandung prostaglandin ke dalam vagina diyakini dapat merangsang terjadinya kontraksi dalam jangka waktu relatif lama. Kontraksi yang terjadi ini diharapkan dapat merangsang terjadinya persalinan.

RAMBU-RAMBU BERCINTA

Agar tak membahayakan kehamilan, perhatikan rambu-rambu berikut:

1. Pilih posisi aman dan jadilah pasangan yang kreatif.

Memasuki usia kehamilan 16 minggu umumnya perut ibu mulai membuncit. Sebaiknya cari posisi tertentu agar ibu hamil tetap nyaman dan perutnya tak mengalami tekanan berlebih. Posisi yang dianjurkan knee-chest position, dog style atau side by side. Selain itu dibutuhkan pula ide kreatif lain. Maksudnya, untuk menyalurkan hasrat keduanya, suami tidak selalu harus melakukan penetrasi. Untuk membantu suami berejakulasi dapat dilakukan pilihan lain berupa manipulasi ekstragenital. Misalnya, dengan tangan istri (assisted masturbation), ejakulasi di antara kedua payudara ibu (coitus intermammae ), atau koitus interfemora (di antara kedua paha ibu).

2. Yang pernah keguguran, perlu ekstra hati-hati.

Mereka yang pernah mengalami keguguran hendaknya sedikit mengerem keinginan untuk berhubungan intim dengan pasangan, terutama sepanjang trimester pertama. Ini untuk menghindari kontraksi yang dapat merangsang terjadinya persalinan dini.

3. Perlu waspada yang memiliki kelainan semasa kehamilan

Kelainan yang dimaksud antara lain plasenta previa, yakni posisi plasenta berada di bagian bawah rahim. Kondisi ini dikhawatirkan bakal memicu terjadinya pendarahan usai berhubungan intim. Pasalnya, hubungan intim dipastikan akan merangsang terjadinya kontraksi. Selain plasenta previa, ibu hamil yang telah memasuki usia kehamilan minggu ke-32 dengan posisi janin sungsang sebaiknya juga menghindari kontraksi yang timbul akibat hubungan intim. Sebabnya, di saat terjadi kontraksi, posisi janin jadi tidak berputar. Akibatnya, posisi janin tetap sungsang karena ia tidak sempat memperbaiki posisinya untuk masuk ke jalan lahir.

4. Hati-hati dan bijaksana

Hubungan intim hanyalah salah satu bentuk hubungan kasih di antara pasangan. Mengenai frekuensi dan bagaimana tekniknya tentu perlu dibicarakan berdua. Tak ada batasan normal secara umum. Setiap pasangan tentunya punya persepsi dan kebutuhan yang berbeda dalam pemenuhan keinginannya. Namun, pada masa kehamilan sebaiknya semua dilakukan lebih hati-hati, perla-han dan lebih jarang.

Lazimnya di luar kehamilan, pasangan bercinta 2­3 kali seminggu. Nah, di masa kehamilan, misalnya menjadi sekali seminggu. Jika biasanya sekali seminggu, mungkin selama kehamilan frekuensinya menjadi 1­2 kali sebulan. Jangan lupa senantiasa konsultasikan dengan petugas kesehatan apabila ada hal yang diragukan. Jangan malu bertanya.

Utami

Views : 6635

blog comments powered by Disqus