Membership
Lupa password?
Pasangan

Gairah Menurun, Obat Kuat Bukan Jaminan
Senin, 08 Februari 2010
Gairah

A da saat-saat tertentu di mana suami atau istri merasa tak lagi bergairah. Apa sebabnya? Dan, bagaimana mengatasinya?

Belakangan Wida tampak lesu. Di tempat kerja pun, ia makin sering uring-uringan. "Suami saya sekarang nggak bergairah lagi," akunya. Nasib seperti Wida banyak dialami pasangan lain. Banyak kejadian, suami-istri berpisah hanya karena alasan tak lagi menemukan kebahagiaan batin.

Umumnya, lanjut Gerard Paat, gairah seks tiap orang mulai menurun pada usia 45-50 tahun. Di usia itu, hormon yang mendukung gairah seks memang menurun. Penyebabnya bisa banyak, termasuk problem nonseksual, seperti kegemukan dan sebagainya. Tak heran, pria yang memasuki usia lansia mulai kelihatan loyo. "Selain gairah menurun, juga karena kemampuan ereksinya pun menurun," tuturnya. Dijelaskannya pula, gairah pria banyak ditentukan hormon laki-laki (testosteron) yang akan mulai menurun begitu pria menginjak usia 30-an tahun.

GAIRAH WANITA TETAP

Di sisi lain, gairah seks wanita tak dipengaruhi hormon wanita (estrogen dan progesteron), tapi justru dipengaruhi hormon laki-laki. Dan hormon yang bertanggungjawab pada gairah seks wanita ini justru tak menurun saat wanita usia lanjut.

Wanita, kata Gerard Paat, hanya punya sedikit testosteron. "Jikapun turun, sedikit sekali," ujarnya. Sehingga, pada wanita, menurunnya gairah seks tak begitu kentara. Yang terjadi, wanita kehilangan beberapa sifat kewanitaan, seperti kecantikan memudar atau menopause, seiring meningkatnya usia. Sementara gairah seksnya tetap. "Karena itu, jika bicara seks pada lansia, yang proaktif justru wanita," ungkap konsultan seksologi ini.

Penyebab fisik lain ialah penyakit semisal sakit gula, jantung koroner, atau lever. Bisa juga karena obat-obatan. Entah karena terlalu banyak mengkonsumsi obat penenang atau narkotika. Semua hal di atas bisa menjadi penyebab menurunnya gairah, "Bahkan bisa menyebabkan impotensi," tukas Gerard Paat.

Selain penyebab fisik, gairah seks menurun juga bisa disebabkan faktor nonfisik atau kejiwaan. Mungkin saja komunikasi di antara suami-istri tak berjalan lancar, sehingga hubungan mereka jadi kurang mesra dan tak lagi tertarik satu sama lain.

Penyebab lain ialah faktor pribadi, seperti munculnya perasaan rendah diri terhadap pasangan atau anggapan salah seorang pasangan bahwa seks hanyalah sekedar kewajiban. Bisa saja suami maunya to the point , tak ada "pemanasan" lebih dulu, sehingga istri tak merasakan kepuasan. Akibatnya, seks bagi istri hanya dianggap sebagai suatu kewajiban.

KETAHUI PENYEBAB

Yang perlu dilakukan untuk mengatasi turunnya gairah seks, baik pada istri maupun suami, ialah mengetahui lebih dulu penyebabnya. Yang paling mudah, jika penyebabnya bersifat jasmaniah, misalnya karena sakit. Maka, jika gairah seks menurun sementara komunikasi pasangan berjalan lancar, cobalah pergi ke dokter. Jangan-jangan menurunnya gairah seks itu karena penyakit. "Jika memang penyebabnya penyakit, penyakit inilah yang disembuhkan, minimal akibatnya dikurangi," kata Gerard Paat.

Banyak penyakit yang bisa menyebabkan menurunnya gairah seks. Misal, penyakit gula (diabetes). "Diabetes memang tak bisa disembuhkan, tapi akibatnya bisa dikurangi. Misalnya, dengan minum obat anti diabetes, sehingga kadar gula dalam darah terkontrol dan tak menyebabkan kerusakan pembuluh darah atau saraf, sehingga gairah bisa dipertahankan untuk masa tertentu," jelas lulusan FKUI pada 1962 ini. Contoh penyakit lain yang bisa menyebabkan turunnya gairah seks ialah darah tinggi (hipertensi). "Tapi pengobatannya harus dengan obat yang tak menambah kelemahan seks. Pasalnya, ada obat hipertensi yang justru mengurangi kemampuan ereksi," lanjutnya.

Yang seringkali terjadi, dokter merasa cukup ahli untuk menangani, misalnya dengan memberi obat penambah hormon. "Padahal, pemeriksaan hormon hanya bisa menunjukkan total hormon yang ada dalam darah. Ia tak bisa membedakan antara testosteron bebas dan tak bebas. Yang punya pengaruh terhadap gairah seks ialah testosteron bebas yang jumlahnya sangat sedikit dan subyektif," terang Gerard Paat.

Ada orang yang jumlah hormonnya sedikit, tapi masih punya gairah. Ada pula yang jumlah hormonnya cukup banyak, tapi gairahnya sudah tak ada, tergantung dari kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya saja faktor keturunan, gizi, kejiwaan, iklim, dan faktor kesehatan pada umumnya. Contoh soal iklim, kata Gerard Paat, "Cuaca yang dingin bisa membuat orang sakit, sehingga tak bisa ereksi. Nah, semua ini mempengaruhi kondisi tubuh secara menyeluruh yang bisa mempengaruhi kualitas hormon tadi."

Jika turunnya gairah disebabkan faktor penyakit, tergolong mudah penanganannya. Tak demikian halnya bila disebabkan faktor psikologis. "Acapkali penyebab psikologis menyangkut pribadi. Mungkin harga diri yang menurun di hadapan pasangan, mungkin stres yang tak ada hubungannya dengan perkawinan, stres karena krismon, atau stres dalam keluarga," jelas konsultan perkawinan ini.

Bila ini yang terjadi, psikolog atau penasehat perkawinan merupakan alamat yang tepat untuk dikunjungi. Pasangan yang memikili problem, harus berbicara tentang apa yang dirasakannya, diharapkannya, sehingga akhirnya menemukan jalan keluar.

OBAT KUAT MALAH BAHAYA

Apa pun faktor penyebabnya, pengobatan untuk meningkatkan atau memulihkan gairah, tak bisa langsung berhasil. "Jangan berharap, sekali datang ke ahli, lalu semua persoalan jadi beres," kata Gerard Paat. Juga, belum tentu sekarang diberi obat penambah hormon, lantas besoknya gairah membaik. Kadang butuh waktu lama untuk mendapatkan hasil. Apalagi jika penyebabnya faktor kejiwaan. Misal, stres karena utang bertumpuk. "Jika masalah utangnya belum selesai, bagaimana jiwa orang yang bersangkutan bisa tenang? Padahal, itu penting," lanjutnya.

Bagaimana dengan obat kuat yang belakangan ini makin gencar dipromosikan? "Penggunaan obat kuat juga tak menyelesaikan masalah. Secara ilmiah, obat kuat sebetulnya tak ada. Yang ada ialah obat penambah hormon. Mereka yang jumlah hormonnya menurun memang bisa diberi obat yang mengandung hormon. Nah, obat inilah yang biasa disebut obat kuat," jelas lulusan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat UI pada 1967 ini.

Obat semacam ini hanya berguna bagi para lansia yang hormon testosteron-nya rendah. Bagi mereka yang masih muda, sebetulnya tak perlu. "Bahkan justru bisa membahayakan. Pasalnya, jumlah hormon yang dimilikinya sebetulnya normal. Nah, begitu ia minum obat penambah hormon, maka produksi hormonnya justru berhenti sehingga perlu waktu lama untuk mengembalikan produksi hormonnya," papar Gerard Paat. Karena itu, suami-istri wajib memelihara gairah seks dengan mencegah sebab-sebab tadi. Kecuali yang sifatnya alami, seperti usia.

SEKS BUKAN UTAMA

Yang harus disadari oleh suami-istri ialah, setiap masalah seks dalam perkawinan tak bisa diselesaikan secara sepihak. Masalah harus diselesaikan bersama-sama. Suami yang impoten, misalnya, tak bisa hanya ia saja yang pergi ke dokter. Istri pun harus ikut agar mengetahui obat dan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu pengobatan sang suami.

Apalagi jika kemudian ditemukan penyebabnya adalah sang istri sendiri. Bisa saja suami tak bergairah pada istrinya, tapi pada wanita lain justru sebaliknya. Ini bisa terjadi karena berbagai sebab. Umpamanya, istri selalu menolak tiap kali diajak berhubungan seks, entah dengan alasan capek, tak berminat, sedang pusing, dan lainnya. Atau istri bersikap galak, mudah marah, dan tak menjaga penampilan. Karena menganggap cuma di rumah, ia berpakaian seenaknya, tak mengurus badan, dan lainnya. "Tentu saja, suami jadi tak bergairah," tukas Gerard Paat.

Perlu pula disadari, seks bukan unsur paling utama dalam sebuah perkawinan. Masih banyak hal lain yang bisa membuat hubungan suami-istri jadi bermasalah atau sebaliknya. "Banyak, kok, pasangan yang tak melakukan hubungan seks karena berbagai alasan. Misalnya karena sakit, usia, atau karena konsensus bersama. Jadi, tak selalu gairah seks yang menurun bisa menimbulkan masalah dalam perkawinan," kata Gerard Paat.

Termasuk juga, lanjut Gerard Paat, tak selalu kelainan seksual, seperti impotensi, menjadi masalah bagi pasangan. "Itu tergantung dari persepsi pasangan tentang seks," katanya. Jika pasangan menempatkan seks sebagai suatu kebutuhan mutlak, tentu saja menurunnya gairah seks bisa memicu timbulnya masalah. Tapi bila pasangan menempatkan seks sebagai suatu sarana untuk menciptakan kebersamaan dan kebersamaan itu sudah terwujud melalui sarana lain, maka seks bukan lagi menjadi satu-satunya hal yang pokok.

Agar Gairah Tetap Membara

Hasto Prianggoro

 
 
 
 
Views : 1771

blog comments powered by Disqus