Membership
Lupa password?
Pasangan

Bangkit Dari Perceraian
Sabtu, 21 Juli 2012
pasangan cerai

Ilustrasi

Perceraian bagi beberapa perempuan meninggalkan luka yang teramat dalam. Sebagian bahkan  merasa hancur karena pernikahan berakhir. Jika merasa demikian, berikut beberapa saran dari A. Kasandra Putranto , psikolog dari Kasandra & Associate.

Kunjungi Konsultan Psikologi

Tak ada yang tabu dengan berkonsultasi dengan psikolog. “Ini adalah persoalan besar yang tak bisa diselesaikan sekedar dengan nasehat saja!” ungkap Kasandra.

Ketika rekan atau keluarga berusaha memberikan nasihat panjang maupun pendek mengenai masa depan Anda, belum tentu hal tersebut dapat menjadi  jalan keluar.  Masalah yang menjadi berat bagi Anda, artinya perlu pendalaman terhadap diri, masa lalu dan pemikiran Anda terhadap permasalahan.

“Kita bisa lihat sendiri,  tak semua orang bercerai menemui masalah berat dan mengganggu kepribadian,” terang Kasandra.

Serangkaian Tes Asesment

Mendalami permasalahan dilakukan dengan serangkaian tes asesment. Tes ini bertujuan menemukan permasalahan pokok penyebab dampak berat pada perceraian.

Mencari penyelesaian masalah rumah tangga semacam ini tak bisa dilakukan dengan spekulasi, sehingga perlu ditelusuri. Baru kemudian dilakukan konseling dan mencari solusi.

Dan, belum tentu dampak yang kini terlihat hanya disebabkan oleh masalah perceraian. “Keributan dan perubahan perilaku (termasuk berkurangnya skill sosial, Red.) ini juga dapat disebabkan latar belakang kedua belah pihak yang ikut mempengaruhi. Mengingat semua bergantung pada karakter dan kepribadian, ini harus diketahui melalui asesment,” tegas Kasandra.

Menata Harapan Masa Depan

Setelah diketahui permasalahan sebenarnya, konseling akan memberikan beberapa motivasi untuk menghadapi permasalahan. “Pesan saya, selalu ada pelangi setelah petir dan gledek. Hidup ini memang selalu penuh dengan hal itu. Kalau hujan sudah reda pasti akan ada pelangi, ini yang perlu terdapat dalam pemikiran orang yang bermasalah,” ungkap Kasandra.

Sayangnya banyak dari perempuan menghadapi  status baru setelah bercerai kurang mampu menata motivasi hidupnya. “Tinggal mau percaya atau tidak. Kalau dia selalu percaya hidup ini penuh dengan badai dan bencana, sulit membayangkan ada pelangi setelah hujan reda. Dan, dia akan selalu hidup dalam ketakutan,” ujarnya lagi.

Tak Perlu Menjelek-jelekkan

Masa lalu yang sudah terjadi memang tak bisa diperbaiki dengan memutar waktu. Namun bukan berarti Anda berhak menjelek-jelekkan mantan pasangan.  Ini tidak akan menghasilkan jalan keluar. Lebih baik, menata pemikiran dan bertemu dengan konseling dengan keinginan memperbaiki sesuatu yang salah dalam pemikiran.

Dengan demikian, berada dekat dengan dunia sang mantan pun tak akan menjadi masalah di kemudian hari.

Laili / dari berbagai sumber

Views : 2725

blog comments powered by Disqus