Minggu, 16 Agustus 2009
Teganya Mama Putuskan Hubungan Darah (2)
Jeng Susi Yth.,
Ibunda tampaknya memang lain dari ibu yang lain ya? Extra ordinary. Pernah menjadi TKW, pernah menikah 3 kali, dan sanggup pula menekan anaknya untuk membayar apa yang sebenarnya merupakan kewajiban orangtua kepada anaknya, menyekolahkan setinggi mungkin.
Memang sedih ya Jeng Susi bila dimusuhi keluarga, apalagi ”motor”nya adalah ibu kandung sendiri, sehingga semua saudara ramai-ramai memusuhi Anda. Yang sudah terjadi, tak bisa diperbaiki, Jeng Susi cantik.
Yang bisa dilakukan adalah melakukan rekonstruksi mental, dengan mencoba mengubah cara pandang atas masalah, cara memposisikan diri, dan menambah upaya untuk memahami mengapa ibunda berlaku demikian.
Ini semua, insya Allah akan membuat Anda berpeluang untuk punya emosi yang berbeda dari apa yang kini terasa di hati. Seluruh proses ini jangan diletakkan dalam bingkai siapa yang benar dan siapa yang salah, karena akan amat melelahkan jadinya.
Taruhlah selama ini Anda ”merasa”, kok, ibunda tega berbuat demikian? Dosa, kan, memutus hubungan dengan anak sendiri? Apa yang Anda dapat? Merasa menang? Toh, meski terasa Anda benar dan berada di pihak yang menang, hubungan tetap terputus, kan? Merasa kalah? Jadi terpuruk-puruk seperti yang saat ini terasa, bukan?
Lebih baik coba saja meneropong masalah ini dengan pemahaman yang lebih kepada ibu dan kakak-kakak, sehingga Anda jadi bisa mengerti, kenapa mereka berlaku begitu. Tak harus Anda setuju, tapi cukup pahami saja, pasti akan terasa lebih melegakan.
Kata psikolog, empati namanya. Lebih jauh lagi, coba letakkan diri Anda di posisi ibunda and the gang. “Sudah dibayari sekolah sampai jadi sarjana, kini membantu Rp 2 juta saja, kok, susah benar?” Belum lagi bila Anda ingat, bagaimana dengan mudahnya ibu kawin-cerai.
Bukankah ini menyiratkan, ibunda punya kebutuhan besar untuk melakukan apa saja yang ia anggap benar? Tanpa harus terlalu peduli, bagaimana anak-anak dari 3 ayah ini bisa rukun?
Nah, sudah ngotot, mau selalu dapat apa yang ia inginkan, plus rasa sayang yang besar kepada anak lelakinya, bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Anda tampak demikian salah dan tak menurut kepada beliau?
Ini masih belum cukup, ada lagi ”bumbu pelengkap”nya. Bukankah sejak awal keluarga memang tak terlalu setuju dengan pilihan Anda untuk seorang suami? ”Kok, mau-maunya menikah dengan lelaki yang pehasilannya pas-pasan?”
Nah, ketika cincin yang cuma segitu-gitunya, harus lewat izin suami untuk Anda berikan kepada keluarga, pantas dong Bu Susi, bila ibunda lalu meledak emosinya dan menghukum Anda. ”Coba dulu kawin dengan orang kaya, kita, kan, bisa minta tolong!”
Manusiawi sekali Bu, jika dalam membuat keputusan, manusia cenderung meletakkan dirinya di posisi ia yang benar, bahkan paling benar. Nah, jika Anda sudah tahu ini, kurangilah keinginan untuk membenar-benarkan diri. Sebab, jika merasa diri benar, ego lah yang mengemuka, ”Masa bodoh mau marah, wong aku yang benar, kok! Mama dong yang harus tahu kalau salah!”.
Tak bisa ada yang memulai proses perbaikan hubungan, kan? Saya memang tak menganjurkan mengalah, karena menurut saya, susah sekali lho, mengalah yang benar-benar mengalah, secara ikhlas. Jadi, lebih baik saya sarankan yang lebih mungkin untuk dilakukan, deh ya?
Yaitu memahami orang lain sambil tetap sadar, orang lain memang berbeda, kok, dengan kita. Hal berikut yang ingin saya ingatkan, pemahaman tentang perbedaan diri kita dengan orang lain akan memudahkan kita memberi maaf, kemudian tak putus asa mencoba menjalin silaturahmi dengan keluarga besar.
Bila ibunda tetap ngotot tak mau menerima Anda, inilah saatnya kembalikan semua kepada Allah. Anda sudah mencoba memuliakan diri dengan datang dan memohon maaf, tapi hidayah belum turun kepada ibunda, doakan saja ya Bu.
Saya, kok, percaya, hal yang tak pernah bisa dihilangkan meski kita tutup-tutupi, adalah KEBENARAN. Sebab semua kebenaran akan terlalu besar, terlalu berkilau, dan terlalu tinggi untuk bisa disembunyikan. Kapan kebenaran akan muncul ke permukaan dan menggantikan kebohongan dan kemunafikan, hanya Allah yang tahu.
Oleh karena itulah, kita, manusia dibekali kemampuan untuk mengembangkan kesabaran, sebagai adonan dasar dari keimanan kita, untuk tetap ikhlas menjalani hidup walau sedang dinista atau dimusuhi. Setuju, kan?
Yang terakhir, melalui sepupu atau siapapun yang memang berhubungan dengan ibunda dan kakak-adik, tetap beri informasi tentang diri dan keluarga Anda. Sehingga pelan tapi pasti, semoga ada yang kelak berubah di hati keluarga besar.
Dan insya Allah, lalu membuat mereka lebih paham mengapa Anda tak melakukan apa yang mereka harapkan. Soal emas 50 gram, bagaimana bila Anda anggap saja itu ekspresi dari kemarahan dan kekecewaan ibunda?
Sabar ya Jeng, semoga berkah Ramadhan datang bertubi-tubi kepada Anda, suami dan anak-anak, sehingga Anda makin bahagia dan tawakal menjalani hidup ini. Salam sayang.

