Selasa, 7 Juli 2009
Pria 'Matre' yang Ingin Bertobat
Ibu Rieny Yth.,
Saya (25) pria dan masih kuliah. Saat ini tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita (G) matang. Saya mencintainya bukan karena hartanya, tapi ia berhati mulia dan membuat nyaman. Bila bersamanya saya merasa ia sangat baik hati, permintaan saya selalu dituruti, karena ia memang sudah mapan.
Kami mulai kenal saat saya berusia 20 tahun, dan ia berusia 35 tahun. G punya posisi tinggi di kantornya dan pintar. Itulah yang membuat saya senang menjalin hubungan ini. Bahkan tugas kuliah saya pun ia bantu selesaikan, apalagi kami sama-sama berlatar belakang jurusan teknik.
Namun, tahun lalu ayah hendak menjodohkan saya dengan putri sahabatnya yang berprofesi sebagai pegawai bank. Wanita ini juga sudah mapan. Tapi saya telah terlanjur mencintai G, terlebih kami sudah tinggal satu rumah dan telah sering melakukan hubungan suami isteri.
G sering mendesak untuk dinikahi, tapi saya merasa belum mampu karena belum bekerja. Saya pun takut kepada kedua orangtua. Cerita kepada mereka pun tak berani. Rasanya orangtua sudah menduga saya dekat dengan seseorang, karena saya makin jarang minta uang kepada mereka. Semua biaya kehidupan sehari-hari saya memang ditanggung G.
Saya pun pernah menghamili G, tapi saat usia kandungannya baru 7 minggu ia keguguran. Saya sadar, beda usia kami terlalu jauh sehingga saya khawatir, saat ia sudah jadi nenek-nenek, saya masih muda. Tapi, meninggalkannya rasanya tak tega. pegawai bank yang dijodohkan ayah, saya punya tertarik, karena ia memang cantik dan usianya lebih muda dari saya. Bagaimana ya Bu, jika saya menikahi G, apakah masih bisa punya anak? Bagaimana jika nanti anak saya butuh biaya dan istri sudah pensiun?
Saat ini saja teman-teman saya sering meledek, berpacaran dengan tantenya-lah, uwaknya-lah, odipus kompleks-lah. Lama-lama telinga saya merah juga. Tapi karena G santai saja menanggapinya, saya jadi tenang. Saya ingin masalah ini selesai tanpa merugikan siapapun. Langkah apa yang harus saya lakukan?
Perlu Ibu ketahui, G anak tunggal di keluarganya, warisannya banyak, tapi ia jarang menengok orangtuanya di Sulawesi. Katanya, memang sejak SMP ia tinggal di Jakarta dan hidup mandiri. Orangtuanya terlalu sibuk mecari uang, dan G memang hampir tak punya teman. Hanya sayalah teman berbaginya. Saya normal, kan, Bu? Tolong ya Bu! Terima kasih.
V – Jakarta
Bung V Yth.,
Sayang sekali Anda tak menyebut secara jelas, apa yang dimaksud sebagai penyelesaian yang tak merugikan siapapun. Menurut saya, yang paling berpeluang sangat kecil untuk merasa rugi adalah calon yang dijodohkan ayah, yang pegawai bank itu.
Mengapa? Karena ia lalu punya peluang untuk bertemu pria yang lebih besar kebutuhannya untuk memperlihatkan tanggung jawab sebagai suami, lalu ia tak harus menyesal untuk punya suami yang punya sejarah panjang ongkang-ongkang kaki saja menikmati harta perempuan.
Sedangkan yang paling rugi, tentu saja G, karena setelah berkorban dan berjuang sekian lama, dengan harapan ada komitmen yang lebih permanen dari Anda, tetap saja Anda belum bisa memberinya kepastian. Dan usianya terus saja bergulir bertambah tua, yang biasanya lalu berarti peluangnya untuk menikah juga mengecil. Anda? Jelas tidak rugi, Bung V.
Tetapi, apakah menilai kualitas hidup harus dilakukan dalam timbangan untung dan rugi? Rasanya, hidup kita akan bisa dikatakan berkualitas ketika sejalan bertambahnya usia, makin mampu bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang diambil dalam hidup ini. Terhadap Tuhan, diri sendiri, serta orang lain yang harus ikut menanggung konsekuensi dari keputusan yang kita ambil dalam hidup ini.
Ketika Anda memutuskan untuk hidup bersama, bukankah rapor Anda dihadapan- Nya, merah angkanya? Lanjut pula dengan bergantung penuh pada G, makin banyak lagi angka merah Anda, karena berarti sudah melanggar larangan Tuhan. Dalam ukuran duniawi pun, Anda tak mandiri dan menikmati fasilitas dari perempuan, sambil tetap bisa berpikir untuk serius dengan perempuan lain yang lebih muda darinya.
Jarak yang terbentang antara usia Anda dan usianya memang cukup jauh dan saya tak heran bila Anda nyaman bersamanya. Sebab, pastilah di usianya ia tahu benar bagaimana caranya membuat Anda nyaman. Apalagi, lingkup sosialnya juga kecil, sehingga peluangnya untuk memilih pria seusia tentu sudah makin kecil. Bisa saja di dasar hatinya ia juga ragu akan keseriusan Anda, tapi sudah dalam taraf, “Bila bukan V lalu siapa lagi?”
Jika Anda tanya, bisa punya anak atau tidak, sepanjang fungsi reproduksinya baik dan ia masih menstruasi, ia tetap berpeluang untuk hamil. Namun, jika pertimbangan Anda untuk tetap bersamanya condong kepada ketergantungan materi, bukakah ini terasa tidak fair, Bung V?
Mengapa Anda khawatir jika nanti punya anak, belum-belum G sudah pensiun? Kan, ada Anda sebagai ayahnya? Pernahkah terpikir oleh Anda, suatu saat kelak G sebenarnya berharap Anda bekerja? Satu harapan yang sangat manusiawi sebenarnya. Ataukah selama ini yang membuat Anda masih bersamanya memang benar-benar hanya karena Anda menikmati fasilitasnya dan kelebihan materi yang ada pada G?
Kenyataan Anda masih bisa punya perasaan nyaman dengan perempuan lain, karena ia muda dan cantik menurut saya adalah pertanda Anda normal-normal saja. Hanya saja, Anda terlanjur berada di zona nyaman, dengan adanya penyandang dana yang siap memberi rasa nyaman kepada Anda. Sehingga Anda lupa, dalam pemberiannya, ada harapan tertentu kepada Anda.
Pemberian itu bisa kasih sayang, materi, juga ilmu yang ia miliki, yang lalu terasa memudahkan Anda benar. Terlepas dari bagaimana tanggapan dan ledekan lingkungan, saya sarankan Anda justru mengembalikan kepekaan diri pada perlunya seorang pria punya pekerjaan yang memberinya penghasilan yang mandiri. Bukan besar kecilnya gaji yang jadi masalah utama, tetapi justru perasaan bahwa bekerja adalah keharusan bagi pria.
Maka, asahlah terus kepekaan Anda untuk merasa tidak nyaman bila terus menerus harus berlindung di bawah ketiak perempuan. Dengan demikian ada daya dorong dari dalam diri untuk terus mencoba membangun kemandirian dalam masalah keuangan. Bila Anda berharap akan ada penyelesaian yang elegan, maka sejak saat ini kurangilah ketergantunga materi pada G. Pindah ke rumah orang tua lagi, tetap sambangi G, peduli pada kesehariannya, tapi kali ini tak disertai berhubungan intim.
Bila ia bertanya, katakanlah Anda ingin agar ia tak harus menanggung dosa berat karena berzinah. Makin besar kekuatan Anda untuk mengajaknya melakukan hal-hal baik, akan membuatnya, insya Allah, lebih cepat menyadari apa yang ia lakukan kini tak akan berbuah seperti yang diharapkannya.
Jika toh ada kebaikan yang bisa Anda berikan kepada G dalam proses menjauhkan diri darinya, lakukanlah tidak drastis. Dalam proses menjauh ini jangan mengikatkan diri dulu dengan si pegawai bank ataupun perempuan lain, sebelum Anda benar-benar yakin telah tiba saatnya Anda benar-benar akan hilang dari kehidupan G. Paling tidak, sakit hatinya tak berlipat-lipat karena tahu Anda sudah punya perempuan lain.
Sekali lagi, tak mudah meninggalkan zona nyaman Bung V, apalagi bila kebutuhan lahir batin Anda memang selama ini nyaris sempurna dipenuhinya. Akan tetapi, jika masih boleh memberi saran, mulailah belajar untuk tetap memprtimbangkan kepentingan orang lain ketika Anda memperoleh manfaat atau keuntungan dari berinteraksi dengan orang lain, utamanya perempuan.
Sehingga, Anda tak dikatakan sebagai “cowok matre”. Dan lebih penting lagi, jadi terbiasa untuk hidup dengan kekuatan sendiri, menikmati apa yang memang berada dalam jangkauan kemampuan Anda, dan merasa sungkan bila ada orang yang menghujani Anda dengan begitu banyak materi dan kemudahan, bila Anda tak bisa membalasnya sesuai harapan orang itu.
Tak mungkin, kan, ada orang yang mau memberi demikian banyak seperti G, seraya tak mengharap apa-apa dari Anda. Rajinlah beribadah dan jangan lupa doakan agar G dapat segera memperoleh ketenangan dan sembuh dari luka hatinya. Salam.
Asuhan: Dra. Rieny Hassan

