Jumat, 10 Juli 2009

Mama Keberatan Aku Bersatu dengan Suami

Ilustrasi: Aries Tanjung/NOVA

Bu Rieny Yth.,

Saya sudah berkeluarga selama 10 tahun dan punya 3 putra. Alhamdulillah mereka sehat dan hubungan saya dengan suami pun baik-baik saja. Hanya saja bahtera perkawinan ini kami jalani secara jarak jauh. Suami seorang PNS yang bertugas di luar Jawa. Sedangkan saya masih tinggal bersama orangtua.

Pada tahun ke 5 perkawinan, saya putuskan berhenti bekerja karena berniat ikut suami, tapi ternyata mama tak memberi izin. Saya tahu alasan mama, masih berat melepas saya. Demi mama, saya menurut sambil memberi pengertian ke suami agar memahami dan bersabar, semoga seiring berjalannya waktu mama bisa mengikhlaskan saya.

Bila saya bicara sedikit memaksa, mama tersinggung dan jatuh sakit, akhirnya saya sering menunda membicarakan hal ini. Meski sedih, saya terima saja dan lagi-lagi suami diminta bersabar. Untunglah ia tetap bersabar. Akhirnya saat usia perkawinan menginjak 10 tahun, saya ajukan lagi “proposal” untuk pindah ikut suami.

Tapi alangkah terkejutnya saya, mama ternyata masih belum bisa menerima kenyataan. Berbagai alasan dikemukakan, seperti ekonomi belum mapan, anak-anak tak mau pisah dengan neneknya, dan akhirnya mengaku, mama tak mau dipisahkan dari saya dan anak-anak.

Saat itu mama pingsan dan asmanya kambuh. Padahal saya menyampaikan rencana itu dengan baik-baik. Saat itu suami juga mohon restu kepada mama melalui telepon, karena belum bisa pulang. Saya, ayah, dan kakak sempat bingung. Saya sedih dan menangis melihat kondisi mama terkulai lemas. Sampai kapan keluarga kecil saya harus berjauhan begini?

Ayah yang biasanya menjadi penengah dalam keluarga untuk semua masalah, kali ini angkat tangan. Tante saya pun sering menasehati mama, agar mengikhlaskan kami untuk berkumpul. Tapi semua diacuhkan mama. Segala alasan saya berikan, terutama kami ingin agar urusan “dapur” tidak perlu jadi dua begini.

Belum lagi jika suami ingin menengok anak-anak dan saya, harus menabung lebih dulu. Maka pertemuan kami adakan paling cepat dua bulan sekali. Anak-anak sudah waktunya butuh pehatian ayahnya. Bila mama mau ikut kami, saya akan sangat senang. Mama beralasan, tak bisa jauh dari ayah. Tapi, kok, mama tega memisahkan kami, ya Bu?

Suami pernah berinisiatif mengajukan mutasi ke Pulau Jawa, tapi setelah mengetahui berbelit-belitnya birokrasi dan butuh dana (pelicin) tak sedikit, akhirnya dibatalkan. Sampai kini, saya tak pernah lagi bicaran soal itu ke mama, percuma saja karena hasilnya akan sama saja, “tidak setuju”.

Saya jadi seperti orang hilang harapan, tak ada semangat, sering termenung dan menangis. Sampai kapan mama bisa membuka hati dan mengikhlaskan saya dan anak-anak berkumpul bersama suami? Sementara waktu berjalan terus dan anak-anak mulai besar. Kekhawatiran lain pun muncul di otak saya, bagaimana bila suami berpaling? Duh, jangan sampai deh, Bu! Bagaimana saya harus menghadapi kondisi ini?

Mama bagi kami (anak-anaknya) memang merupakan sosok teladan. Saat kami kecil seluruh kasih sayang dan perhatiannya dicurahkan kepada kami. Rasa sosialnya pun sangat tinggi terhadap masyarakat sekitar. Tapi akhir-akhir ini mama begitu sensitif. Bila disinggung mengenai rencana saya, selalu diacuhkan karena akan membuatnya sedih dan sakit. Merasa tak ada solusi, saya hanya bisa menangis, menangis, dan menangis.

Mengetahui saya diam dan sedih, mama malah tersinggung dan merasa dipojokkan. Sikap saya selalu salah di depannya. Untuk membahagiakan mama, saya berusaha tetap tersenyum dan berkata, “Everything is ok, Mom!” Meski sedih, saya harus terlihat ceria di depan mama.

Bu, saat ini posisi saya sangat sulit, di satu sisi menghadapi sikap mama dan si sisi lain menghadapi sikap suami yang makin semosi terhadap sikap mama. Belakangan ini saya khawatir akan terjadi perselisihan antara suami dan mama. Bu, mohon beri masukan agar saya bisa mengambil sikap tanpa ada yang tersakiti. Bagaimana menyadarkan mama agar mau menerima kenyataan, putrinya sudah menikah?

Bu, bagaimana nasib rumah tangga kami kelak, bila kondisinya seperti ini terus? Saya tak bisa berpikir jernih dan khawatir bertindak nekat, bahkan merugikan semua pihak. Saya minta tolong Bu, berikan masukan dan petuah untuk menjernihkan pikiran dan hati, sehingga saya bisa bertindak bijaksana. Seperti buah simalakama memang, tapi saya tetap harus memilih, kan, Bu? Saya tunggu jawaban Ibu. Terimakasih.

M – somewhere

M sayang,

Jika mau membedakan mana yang disebut cinta kasih yang mendewasakan dan mana pula yang mengatasnamakan cita kasih untuk mengemas egoisme, kasus Anda inilah contohnya. Dan, untuk bisa menyayangi anak sambil tetap memberinya peluang untuk menjadi dewasa dan merasa harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, memang bukan hal yang mudah dear M.

Banyak sekali ibu-ibu, bahkan kadang saya sendiri pun begitu, kadang tak bisa membedakan mana saat sedang menyayangi anak, atau sebenarnya ia sedang menciptakan ketergantungan kepada anaknya. Bukankah bila anak-anak sudah beranjak dewasa, punya kehidupan sendiri, kemudian rumah tangga sendiri, sang ibu lalu akan sangat kesepian?

Tinggal lah si ayah, yang karena juga sudah makin sepuh, tak jarang malah makin rewel sehingga membuat si ibu makin merindukan kehangatan berada bersama anak-anaknya. Sebenarnya, dengan keinginan untuk mandiri yang sudah ada dalam diri Anda dan suami, ibu sudah berhasil membuktikan, ia mendidik anaknya dengan baik, bukan?

Ada seorang keponakan yang baru menjadi ibu, bercerita kepada saya betapa inginnya ia mengasuh anaknya sendiri, bahkan siap menjadi full time mother dengan melepaskan kariernya untuk menjadi ibu rumah tangga biasa.

Tetapi, ia mendapati betapa kerasnya upaya si ayah, sang Eyang Kakung, untuk membawanya kembali ke rumah orangtuanya, dengan alasan ia tak punya pengalaman merawat bayi, itu melelahkan, dan ia pasti lebih nyaman di rumah mama dan papanya, dengan bantuan babby sitter dan mamanya.

Saya tersenyum dalam hati ketika ia bercerita, “Memangnya waktu mama dulu melahirkan aku, papa sudah bisa bayar babby sitter? Kan, belum? Kita juga tinggal di rumah dinas kecil, mama mengasuhku sendiri, tapi aku bisa jadi seperti ini, kan, Tante?”

Saya amati, ibunya memang mampu menjadi teman yang baik bagi anak perempuannya setelah ia beranjak dewasa, sehingga anak ini tumbuh jadi perempuan yang enerjik dan punya pede yang baik. Di sisi lain, saya juga percaya, pasti akan ada saat-saat dimana ia akan panik menghadapi anaknya yang panas atau rewel, tapi toh dengan sinerginya bersama suaminya, pasti ini akan bisa dijalani dengan baik.

Idealnya begini Jeng M, yang harus terjadi pada rumah tangga muda, sejak awal belajar untuk memisahkan diri dan membentuk keluarga sendiri, dengan segala konsekunesinya. Menunggu 10 tahun, tentu saja sudah membuat anak-anak Anda terlanjur lengket dengan neneknya, punya rutinitas yang akan terasa hambar di saat-saat awal harus berpisah dengan neneknya. Sementara, si nenek sendiri juga sudah punya rutinitas yang ia merasa nyaman dengan salah satu acara, yaitu mengurus cucu.

Cara radikal adalah pergi dan, bismillah, mudah-mudahan setelah pingsan-pingsan, bila ia tetap mendapat okiygen dan minum obat asmanya, akhirnya ibunda akan belajar menerima kenyataan, ia memang sudah harus berpisah dari anak dan cucu-cucunya. Masalahnya lalu, tega kah Anda?

Kedua, mumpung sedang liburan, paksakan diri membawa anak-anak pergi dari rumah. Ke rumah orangtua suami, ke tempat wisata, atau malah ke bapaknya. Perpisahan sementara ini, buatlah cukup lama. Yang saya anjurkan, ke tempat ayahnya. Jangan pikirkan biaya, ambil tabungan Anda.

Ketika berjauhan, buat jadwal agar nenek tetap bisa berhubungan dengan cucunya, lalu biarkan anak-anak yang bercerita, mereka menyenangi tempat barumya, tapi tetap kangen neneknya. Denan cara ini, Anda memberi ruang bagi ibunda untuk belajar berpisah. Bila Anda mau menambahkan sedikit lagi keberanian, segera daftarkan anak-anak untuk masuk tahun ajaran baru di sekolah di kota ayahnya.

Setelah kembali ke rumah ibunda, mudah-mudahan Anda sendiri lalu tak merasa amat berdosa akan membuat keputusan besar dalam hidup. Rasanya, untuk saat ini restu akan sukar diperoleh karena ia belum ikhlas. Tapi, kembalikan lagi kepada Allah, selama niat Anda baik, pasti akan diberi kemudahan oleh-Nya.

Jadi, membenahi perasaan Anda, adalah juga “PR” yang mendesak. Bila telah bisa menghilangkan perasaan bersalah, insya Allah Anda akan sangat menikmati peran sebagai ratu rumah tangga. Jadi, niat baik ini wujudkan segera, saya sepakat dengan Anda, sudah cukup lama suami membuktikan ia setia.

Jangan perpanjang lagi waktunya untuk sendirian, nanti muncul masalah baru. Oke? Bulatkan tekad dan tetap berlaku manis ya, meski ibunda mungkin akan murka di awal-awal kepindahan Anda. Salam sayang.

Asuhan: Dra. Rieny Hasan

Asuhan: Dra. Rieny Hassan

Dilihat : 3032 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus