Sabtu, 8 Agustus 2009
Benci Ayah Poligami (2)
Ibu X Yth.,
Oleh karena kita keluarga, maka apa saja yang menimpa salah satu anggota keluarga “rasa”nya akan sampai juga kepada anggota keluarga lainnya. Bila Ibu tampak bahagia di hari tuanya, anak-anaknya pun akan happy. Dan bila ibunda tersakiti hatinya, tanpa diminta, anak-anak mudah sekali membentuk barisan pendukung ibunda.
Pada perselingkuhan di usia mapan, saya punya banyak pengalaman, campur tangan anak-anak yang juga sudah dewasa memang banyak mewarnai akhir dari solusi yang diambil. Akan tetapi, sayangnya saya juga melihat kecenderungan, bila anak-anak sudah mulai mapan, merekalah yang justru kurang mampu memaafkan ayahnya. Lebih jauh lagi, lupa bahwa hidup perkawinan orangtuanya bukanlah hidupnya.
Jadi, apa yang dihayati dan dirasakan ibu maupun ayahnya, sesungguhnya tak semuanya bisa dipahami secara proporsional. Artinya, seseorang tak pernah bisa memahami 100 persen orang lain, termasuk penghayatannya tetang makna perkawinan dan arti pasangan hidup bagi dirinya, meski orang itu adalah ibundanya sendiri.
Namanya juga manusia, mana bisa obyektif, Bu X? Nilai-nilai yang kita anut, gengsi, ego, dan peran yang kita sandang di masyarakat, biasanya kental mewarnai penilaian dan keputusan yang kita ambil atas dasar penilaian tadi. Akhirnya akan banyak terkontaminasi kepentingan diri sendiri.
Malu, kan, masak sih ayahanda meniduri babby sitter cucunya? Nista! Begitu kata seorang ibu muda, dan ia lebih marah lagi ketika ternyata ibundanya, kok, memaafkan ayahnya. Sebab ia adalah pendukung dana terbesar hidup kedua orangtuanya kini, ia merasa punya hak untuk mengusir ayahnya.
Apa yang terjadi? Ibundanya ternyata ikut juga membuntel barang-barangnya, “Biar deh, hidup dari pensiun ayah, karena bunda tak bisa pisah dari ayah.” Apa tidak pusing? Mengapa ini bisa tejadi? Sebab, sang anak yang sebenarnya amat sayang dan melindungi ibundanya tak tahu, dorongan seksual ayah yang demikian besar tak bisa diimbangi lagi oleh ibunda. Yang ini, tak bisa diceritakan kepada anak, karena memakai ukuran apapun, berzinah ya tetap berzinah, bukan?
Jadi, memang suami yang salah. Akan tetapi, memaafkan suami, melanjutkan kehidupan bersama adalah opsi juga, dan bercerai memang bukan satu-satunya penyelesaian. Kasus ini barangkali happy ending, karena sang ayah yang ternyata mengindap diabetes, pelan tapi pasti akan makin loyo, sehingga ketika maut menjemputnya, mereka berdua tetap utuh besama. Baru deh, anak-anaknya berkata, “Ibunda memang hebat ya, ternyata kalau sabar dan tabah, buahnya manis.”
Ini yang ingin saya bagi bersama Anda, Bu X. We never know, kita tak pernah bisa tahu sepenuhnya, isi hati, harapan, dan mimpi yang ada dalam benak orang lain, meski ia ibu kita sendiri. Sebab ini adalah soal hidup perkawinannya, selalu libatkan ibunda dalam tindakan apapun yang Anda dan adik-adik lakukan kepada ayah.
Biarkan ibunda punya kemerdekaan penuh untuk memilih, apa yang akan ia putuskan bagi perkawinannya. Sakit hati? Pastilah demikian, apalagi perempuan itu masih kerabatnya. Menyesalkah ayah? Iya juga, wong perempuan itu juga berkencan dengan pria lain, kok? Bisa saja ayah terpilih jadi suami, justru karena paling mudah dibohongi, bukan?
Tetapi, sekali lagi, jika Anda tanya saya, bagaimana harus bersikap, mulailah dengan menghargai otonomi kedua orangtua untuk menentukan arah perkawinan mereka. Tetap sayangi ibunda, lindungi haknya sebagai istri sah dari ayahanda. Jadi, bila ayah mulai mengutak-atik sertifikat rumah, misalnya, Anda boleh meradang dan menanduk ayah!
Pelihara akses ke perusahaan ayah, agar ibunda dan anak-anak tetap berada di kolom tunjangan dan penerima pensiun nantinya. Walau hati Anda panas dan sebal, jangan pernah putuskan hubungan dengan ayahanda. Bahkan, bila ibu sakit hati kepada ayah sekalipun, usahakan tetap pelihara silaturahmi, karena ini wajib hukumnya dalam agama yang kita anut Bu X.
Dengan istri barunya, tak ada kewajiban Anda untuk berhubungan. Tetapi dengan ayah, beri ia perasaan bahwa Anda memang tak menghargai keputusannya untuk hidup bersama istri sirinya dan mengabaikan ibunda. Tetapi Anda tak mengingkari, ayah tetap ayah yang Anda ingin agar ia tetap dekat dengan cucunya.
Bila mau memberi ayah rasa nyaman lebih dari sekadar bersilaturahmi, belajarlah berinteraksi dengan perempuan itu. Tak perlu akrab, karena ini tentu akan menyakiti hati ibunda, tapi ayah jangan dimusuhi atau dijauhi. Sehingga, kapan saja ayah butuh Anda atau sebaliknya, perempuan ini tak akan jadi penghalang di benak ayah, yang pastinya tak mau ada masalah timbul dalam hidup barunya.
Ramadhan adalah bulan baik untuk memulai hal-hal baik, bukan? Undang mereka berbuka puasa, misalnya. Dorong cucu-cucu untuk aktif menghubungi kakeknya. Untuk ibunda, amati dengan saksama perkembangan ketahanan mentalnya menghadapi perselingkuhan parah ini.
Sekali lagi, jika Anda bisa menjalin hubungan baik dengan ayah, bukankah selalu ada peluang untuk membuat ayah, paling tidak, sesekali tetap datang untuk istri yang sudah terbukti setia berpuluh tahun mendampinginya, walau selalu diselingkuhi? Salam sayang.
Konsultan: Dra. Rienny Hasan

