Senin, 7 September 2009
Benci Ayah Bermoral Bejat (2)
X sayang,
Sedih sekali ya, bila orang yang seharusnya memberi kita perasaan aman dan terlindungi di dunia ini, yaitu ayah, ternyata adalah predator alias pemangsa utama kita. Sebab, di usia dini Anda sudah terekspos dengan pengalaman seksual, maka kenikmatan yang datang sebelum waktunya itulah yang membuat Anda jadi punya kebutuhan yang cukup besar untuk memperoleh kepuasan seks di usia remaja.
Saya katakan kenikmatan, karena sesungguhnyalah, pada kasus-kasus pelecehan seksual pada anak, yang mendatangkan perasaan benci kepada diri sendiri, kotor, dan nista, adalah karena di saat pelecehan terjadi, ada kenikmatan yang terasakan.
Secara obyektif, ini adalah satu konsekuensi logis dari terangsangnya zona-zona sensitif terhadap seks yang dirangsang dan dimanipulasi, sehingga kemudian mendatangkan sensasi menyenangkan.
Tetapi, karena bingkainya adalah pemaksaan dan ancaman, muncul lah pemikiran bahwa dirinya kotor dan rendah, karena seolah-olah turut juga menyetujui perlakuan tak senonoh itu, karena ternyata toh ada sensasi seksual yang dinikmati.
Trauma ini yang biasanya menghambat perempuan yang pernah dilecehkan secara seksual ketika kecil, lalu mengalami kesukaran untuk menjalin hubungan mendalam dengan laki-laki. Untunglah, pada Anda ini tak terjadi, hanya saja di masa remaja dorongan seksual Anda yang menjadi susah dikendaikan ya?
Saya sepakat, ibunda sedapat mungkin tak diberi tahu tentang kualitas moralitas suaminya yang rendah itu. Akan tetapi, saya juga sepakat dengan Anda, secepat mungkin anak Anda harus berangkat dari rumah ibu! Apalagi, anak sekarang tumbuh lebih cepat sehingga di usia di bawah 10 tahun pun, ia sudah bisa tampak cantik dan menggemaskan bagi orang sejenis ayah, yang tak bisa mengendalikan nafsu seksnya itu.
Jangan bimbang karena permintaan ibunda, pakailah dalih, seorang anak paling ideal memang diasuh ibunya sendiri. Anda bisa katakan, kapan saja ibu kangen, beliau boleh datang untuk momong cucunya, tapi ayah yang jaga rumah.
Kepada ayah, hemat saya, Anda boleh mengatakan secara tegas, bahkan mengancam sekalipun, agar ia tidak menjamah anak Anda. Bila Anda mau berbaik-baik dengannya, anjurkan agar di usianya kini ia lebih banyak beribadah, sehingga punya rasa takut bila melakukan hal-hal yang tak disukai Allah.
Mengenai ayah kandung putri Anda, untuk sementara simpan saja dulu masalah ini, tapi besarkan anak dalam suasana keagamaan yang kental, sehingga rumah tangga Anda juga penuh berkah dari-Nya, dan anak Anda pun tumbuh dengan keyakinan agama yang sehat.
Dengan ini, Insya Allah ia akan terjaga dari perbuatan buruk dan mendapat pula kemudahan dari-Nya. Lebih penting lagi bila ia punya teladan yang baik dari perilaku ayah dan ibunya sehari-hari, yang mencerminkan ketakwaan kepada Tuhan. Dan Anda bisa merasa lebih tenang, karena ia pasti akan mencontoh perilaku baik ini.
Jangan lupa untuk terus bersyukur, karena punya suami yang baik, mau menerima kehadiran Si Kecil dan tak menghalangi eksistensi Anda untuk berkarier. Jangan pernah lupa ya Jeng, Allah selalu memberi lebih banyak nikmat dibandingkan cobaan-Nya, asal saja kita tabah, tak putus asa.
Dan yang terpenting, selalu mencoba untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya. Jangan berhenti mencoba menjadi istri dan ibu yang lebih baik ya? Salam sayang.
Asuhan: Dra. Rieny Hassan
Ingin curhat juga seputar masalah keluarga? Gabung di DI SINI!

