Kamis, 22 Oktober 2009
Anak Jadi Penakut
Yth Ibu Rieny Hassan,
Saya memiliki seorang putri yang saat ini sudah duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari kelompok bermain, putri kami sangat mandiri. Di sekolah tidak pernah ditemani, pulang dan pergi sekolah dengan jemputan. Bahkan pernah menjadi murid teladan.
Tetapi, akhir-akhir ini putri kami banyak berubah, dan yang paling membingungkan dia sering sekali tidak mau sekolah dan mencari alasan supaya tidak ke sekolah. Kalaupun berangkat, harus ditemani. Pengasuhnya harus duduk di dekat kelas. Apabila ditinggal ia akan menangis. Analisa saya sementara ini, pelajaran sudah mulai susah dan gaya belajar di SD beda dengan TK. Gurunya juga cukup disiplin dan tegas sehingga anak saya menjadi tidak percaya diri dan malas ke sekolah.
Sekarang dia juga berubah menjadi penakut, meskipun di dalam rumah. Takut penculik atau orang jahat. Juga takut pada sesuatu yang baru misalnya tamu atau guru baru. Apakah ini dampak terlalu sering menonton acara TV yang penuh kekerasan dan hampir tiap hari ada penculikan anak?
Mungkin juga karena saya sering terlalu khawatir apabila dia berada jauh. Jadi seperti kontak batin. Atau, karena suami sering memperingatkannya agar waspada kalau diajak bicara oleh orang yang tak ia kenal, atau jangan mau diajak pergi siapa pun, walau saudara sendiri kalau saya tak ada di situ. Bagaimana, ya, Bu, kalau tidak dibekali pengetahuan ini, nanti dia diculik, tapi diberi tahu, kok malah jadi begini reaksinya.
Mohon saran Ibu agar anak saya kembali ceria seperti waktu ia masih kecil dahulu. Melihat perkembangan permasalahan anak saya, rasanya belum ingin punya anak lagi, Bu. Padahal suami sudah mendesak terus karena umur kami sudah 35 dan 37 tahun, tetapi saya masuh ragu. Satu saja sudah bingung begini. Terima kasih.
Dewi - somewhere
Bu Dewi dear,
Kita sering mengira bahwa yang bisa stres itu cuma orang dewasa, padahal bayi pun sudah bisa bereaksi terhadap stressor yang datang pada dirinya. Saya kok sepakat dengan analisa Anda tentang stres yang menimpa putri Anda sehubungan dengan sekolahnya. Mudah-mudahan, ini ádalah reaksinya terhadap perubahan saja. Dari TK ke SD memang butuh masa penyesuaian ya, Bu, dan karena selama ini ia terbiasa punya prestasi bagus, tekanan bisa terasa makin berat karena ia khawatir prestasinya tak sebaik masa TK dulu, sehingga ibunya akan bersikap lain kepadanya.
Sebenarnya, untuk berhasil melampaui masa penyesuaian diri dengan lingkungan dan tuntutan pelajaran di SD, anak bukan cuma butuh IQ atau kematangan intelektualitas saja, tetapi ia juga butuh kematangan sosial (social maturity) yang membuatnya lebih luwes dan mampu merasa nyaman berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan SD-nya, teman maupun guru, serta ia sendiri juga mampu membuat orang lain merasa kehadirannya tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Kalau sisi IQ kata kuncinya, paham, mampu menyelesaikan penugasan, bisa matemátika dan menulis serta membaca, maka untuk faktor non IQ, termasuk kematangan sosial, kata kuncinya ádalah peka, peduli, berbagi, mampu menunda keinginan, dan fleksibel.
Anda bisa berperan amat besar untuk membantu anak melampaui masa-masa ini dengan pendampingan yang ketat tetapi tidak memberi kesan sedang menuntut atau memaksanya. Karena ia cerdas, Anda bisa memakai cerita sebagai medianya. Ceritakan bahwa saat Anda masuk SD dahulu, Anda juga pernah merasa gamang, tidak yakin akan mampu mengatasi tuntutan pelajaran yang makin sukar, tetapi ibu Anda meyakinkan Anda bahwa it is okay bila di awal-awal SD prestasi masih naik turun. Dia juga begitu, tak usah cemas, yang penting tetap rajin belajar bersama bundanya, bertanya kalau belum paham, dan mau bercerita, apa yang membuatnya enggan bersekolah.
Pada saat yang sama, jalinlah hubungan informal yang berjangka panjang dengan gurunya. Banyak orangtua murid yang saya perhatikan memberi hadiah sekali saja pada sang guru, mahal hadiahnya, tapi tak ingin kenal lebih lanjut. Mampir, ngobrol membawakan lontong sayur untuk sarapan, minggu depan lagi sambil menjemput bawakan pempek, lalu secara sekilas bercerita tentang anak, pasti akan lebih terasa nyaman untuk bu guru.
Saya bukan mau mengatakan bahwa guru cukup "disogok" dengan lontong sayur, tetapi menggarisbawahi bahwa interaksi yang terjalin dengan baik akan membuat Anda tak terasa berjarak dengan guru, demikian pula sebaliknya sehingga sebagai teman, kita juga bisa bicara tentang hambatan belajar anak maupun menjajagi persepsi guru tentang anak kita. Manusia selalu merasa nyaman bila ia dihargai dan diperhatikan.
Lebih jauh, cari tahu siapa teman yang terasa cukup akrab dengan anak Anda, cobalah untuk mengenal ibunya sehinga Anda bisa mengadakan double date. Makan siang berempat misalnya, dia dengan anaknya dan Anda dengan anak Anda. Semakin banyak teman, semakin besar peluang anak untuk merasa nyaman di sekolah.
Tolong jangan katakan tak ada waktu karena Anda bekerja. Sehari selalu 24 jam dan seminggu cuma 7 hari, sehingga masalahnya bukan ada atau tak ada waktu, tetapi bagaimana kita mengalokasikan waktu untuk sesuatu yang kita anggap penting, bukan? Saya yakin, anak Anda ádalah sesuatu yang penting untuk Anda.
Mudah-mudahan rasa takut yang meningkat juga terkait dengan hal yang baru kita bahas di atas, sehingga bisa teratasi ketika makin yakin akan dirinya.
Saya sepakat dengan Anda mengenai culik menculik ini, wong saya yang menonton di TV saja bisa ikut berdebar-debar membayangkan bagaimana rasanya jadi orangtua Raisyah yang diculik itu, apalagi mereka yang punya anak kecil? Do not talk to stranger, itu tetap harus kita tanamkan pada anak, juga untuk tidak tergiur oleh iming-iming. Tetapi, tampil percaya diri, itu lebih penting lagi, karena penculik pasti akan berpikir ulang kalau anak kecil yang akan diculiknya tidak takut padanyaa, bahkan berteriak meminta tolong ketika akan dibawa. Ajari anak Anda untuk bisa berkata TIDAK secara tegas, kalau perlu berteriak dan berlari ke arah orang dewasa di dekatnya.
Waktu anak-anak saya masih kecil, mall belum begitu banyak di Jakarta,juga belum ada ponsel. Setiap ke mall, saya selalu perlihatkan pada mereka kemana harus pergi kalau ia terlepas dari saya. Untuk tidak takut melihat orang berseragam satpam atau seperti tentara. Untuk masuk ke dalam counter customer service,bila ingin mamanya dipanggil lewat pengeras suara karena anak kecil tak akan terlihat bila ia bicara di depan counter itu. Dan saya ajari juga apa yang harus dia katakan kepada satpam kalau tersesat, kehilangan mama dari pandangan ataupun diganggu orang. Makin tahu apa yang harus dilakukan, seorang anak akan makinerpeluang untuk tidak cepat panik apalagi menangis melolong-lolong ketika ada hal tak terduga terjadi pada dirinya.
Mudah-mudahan masalah anak Anda lebih cepat selesai setelah ini dan anda lalu siap untuk memberinya adik. Salam.

