Membership
Lupa password?
Anak

Yang Harus Selalu Tersedia Di Lemari Obat
Jumat, 05 Maret 2010
obat

P unya anak kecil, kita harus siap repot. Salah satunya, selalu menyediakan obat-obatan di rumah. Tapi hati-hati, tak semua obat bebas bisa diberikan ke anak.

"Bu Joko! Bu Joko, punya obat? Anak saya panas!" teriak seorang ibu dengan panik dalam salah satu iklan obat penurun panas di TV.

Mungkin Anda pun pernah mengalaminya. Kehabisan obat atau bahkan tak punya persediaan obat sama sekali kala si kecil tiba-tiba menunjukkan gejala sakit. Saat itulah, biasanya, kita baru berpikir, pentingnya punya persediaan obat di rumah. Tapi, obat apa saja, sih, yang harus kita sediakan?

Menurut dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A. , dokter anak, "Yang pasti, obat yang bisa dibeli bebas. Terutama obat pereda penyakit ringan seperti batuk, panas, demam, dan diare." Di samping itu, yang juga mutlak adalah obat luar dan perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).

Sedangkan obat kumur serta obat tetes (untuk mata, hidung, dan telinga), tak direkomendasikan Waldi. "Yang biasa diderita anak, kan, radang telinga luar. Nah, kalau dia tak dibiasakan korek-korek telinga, radang tak akan terjadi," katanya. Telinga, sambung Waldi, seperti halnya kulit, secara periodik akan mengeluarkan sekresi/cairannya. Bersama pelepasan kulit yang telah mati, cairan ini akan keluar dengan sendirinya atau biasa disebut kotoran telinga. "Cuma, kadang kita enggak sabaran . Maunya, kotoran cepat keluar. Jadilah dikorek-korek dengan cotton buds , peniti atau jepit rambut," tutur Waldi.

Padahal, itu hanya akan membuat kulit telinga terluka dan menimbulkan radang yang sakit sekali. Jika pakai cotton buds , sebagian kotoran memang bisa keluar. Tapi sebagian lagi malah membuat si kotoran terdorong makin dalam. "Lebih baik biarkan kotoran itu keluar sendiri," anjur Waldi. Bila kotoran itu mengeras di dalam, tetesi dengan cairan karbogliserin sehingga bongkahan kotoran (serumen) tadi akan leleh dan keluar sendiri.

VITAMIN TAK HARUS

Vitamin, kata Waldi, juga tak perlu disediakan di rumah. Sebab, vitamin hanya diberikan pada anak-anak yang baru sembuh dari sakit atau sedang sakit berat. "Jangan hanya karena anaknya tak nafsu makan atau tubuhnya kecil, lantas diberikan vitamin," tukasnya. Lebih baik, ayah atau ibu mencari tahu dulu, kenapa anaknya tak mau makan. Karena sakit atau jangan-jangan menunya yang kurang bervariasi sehingga anak bosan dan tak mau makan. Lagi pula, tambahnya, vitamin banyak terdapat di dalam makanan. Jadi, bila memang nutrisinya seimbang, si kecil tak harus diberikan vitamin.

Tubuh kecil, juga jangan selalu diartikan harus diberi tambahan vitamin. "Tanyakan dulu ke dokter, apakah itu karena penyakit. Kalaupun sakit, vitamin belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Tergantung penyakitnya," tutur Waldi. Tubuh kecil, terangnya, bisa juga disebabkan cacingan atau TBC. "Nah, TBC dan cacingannya itu yang harus diobati!" tandasnya.

SOALNYA OBAT BEBAS

Ada dua jenis obat bebas, yakni obat bebas yang boleh terus diminum seperti vitamin dan bebas terbatas (digunakan terbatas karena mengandung beberapa zat yang tak boleh dimakan terus-menerus seperti obat batuk). Cara membedakannya bisa dilihat dari tanda lingkaran yang terdapat pada kemasan obat. Jika lingkarannya berwarna hijau dengan garis tepi hitam, berarti obat bebas yang boleh terus dimakan. Sedangkan obat bebas terbatas bertanda lingkaran biru dengan garis tepi hitam.

Untuk membeli obat bebas (meskipun bentuknya cuma vitamin) khusus bagi anak, disarankan pula agar memilih yang khusus anak (bukan yang bisa dikonsumsi anak dan dewasa sekaligus).

Obat bebas umumnya tak berakibat langsung pada penyebab gejala penyakit, namun bisa meredakan nyeri atau gejala yang mengganggu. Misalnya, influenza disebabkan virus. Virus tak ada obatnya. Ia akan sembuh sendiri setelah 2-3 hari. "Jadi, yang diobati keluhannya. Saat virus masuk, timbul keluhan sakit kepala, mual, nyeri otot, atau ingusan. Jika panas, ya, beri parasetamol. Jika batuk, beri OBP (obat batuk putih). Tapi, penyakit sesungguhnya masih ada," terang Waldi.

Sebenarnya, lanjut Waldi, influenza bisa sembuh sendiri asal si kecil cukup istirahat. "Masalahnya, mampukah anak menahan pegal atau pusing akibat hidung tersumbat? Selain itu, anak kecil, kan, senang bergerak. Bila ia belum merasa betul-betul sakit, biasanya ia tak akan betah istirahat lama-lama," paparnya.

TANDA KEDALUARSA

Ingat, obat adalah senyawa kimia yang sangat kuat. Jika tak dikonsumsi secara tepat, bisa jadi malapetaka. Jadi, perhatikan selalu aturan pemakaiannya, apakah sebelum atau sesudah makan? Jika aturannya harus dengan perut kosong, minumlah 1-2 jam sebelum makan.

Perhatikan pula dosis/takarannya. Kesalahan kerap terjadi pada penggunaan sendok takar. Jika aturannya 3 kali sehari 1 sendok teh, maka yang dimaksud bukan sendok teh di rumah. Melainkan sendok takar yang biasanya sudah tersedia dalam kemasan obat. Dalam kedokteran atau farmasi, sendok takar itu memang dinamakan sendok teh, tapi tak sama dengan sendok teh di rumah. Sendok teh di farmasi takarannya 5 ml, sedangkan sendok teh di rumah takarannya bervariasi dan tak ada yang 5 ml.

Perhatikan pula tanggal kadaluarsanya. Jangan sesekali mengkonsumsi obat yang tanggal kadaluarsanya sudah lewat. Tanggal ini biasanya tercantum di kemasannya. Jika tak dicantumkan, perhatikan jenis, bentuk dan warna obat. Antalgin, misalnya, yang seharusnya berwarna putih tapi sudah berubah menjadi cokelat, berarti sudah kadaluarsa. Jika berupa sirup, perhatikan baunya. Apakah sudah berubah dan larutannya terlihat keruh. Jika ya, segera buang.

ANTIBIOTIK

Resep obat tak boleh diulang, kecuali dokter mengizinkan. "Jangan hanya karena ingin irit, obat untuk si kakak lantas diberikan ke adik yang sakitnya sama," kata Waldi. Meski cuma sakit batuk, bisa berbeda. Misalnya, si kakak batuk karena asma sementara adik batuk karena radang tenggorokan. "Nah, beda, kan? Racikan obatnya juga akan berbeda," tambahnya.

Jangan pula hentikan pemakaian antibiotik meski si kecil sudah tampak membaik. Bila memang diperuntukkan 5 hari, tetap habiskan sampai 5 hari. Dokter tentu sudah memperhitungkan, kuman akan bersih dari tubuh setelah 5 hari itu. Jika pengobatan dihentikan pada hari ke-3, misalnya, maka sisa kuman masih ada di dalam tubuh. Ditakutkan, kuman itu bisa mengenal antibiotik tersebut. Kuman itu akan membuat cara/metode yang bisa menangkal antibiotik itu jika datang lagi, sehingga ia punya kekebalan terhadap antibiotik tadi.

Dengan kata lain, antibiotik yang tadinya bisa untuk menyembuhkan penyakit itu, sekarang tak bisa lagi. Akibatnya, harus disembuhkan dengan antibiotik lain yang lebih bagus lagi. Padahal, antibiotik yang lebih bagus ini harganya pasti lebih mahal.

Yang juga patut diperhatikan adalah jika dokter memberi obat berbentuk puyer. Simak baik-baik, puyer tadi berupa bubuk atau tablet bersalut gula yang dibuat puyer. Nah, puyer dari tablet itu bisa berubah warna dan bentuk jika disimpan terlalu lama. Sebab, puyer tersebut menarik air dan akan jadi basah jika disimpan lama. Ini tentu bisa membahayakan.

JANGAN BOHONG

Pada umumnya obat untuk anak berupa sirup atau puyer sehingga lebih mudah ditelan anak. Nah, karena puyer biasanya terasa pahit, campurkan dengan sirup atau madu. Berikan sedikit demi sedikit ke mulut anak. Sebelumnya, siapkan minuman kegemaran si kecil untuk mengusir rasa tak enak setelah minum obat.

Hati-hati bila ingin mencampur obat dengan susu. Rasa susu pasti jadi tak enak. Takutnya, anak jadi tak doyan minum susu lagi karena sudah punya pengalaman tak enak. Selain itu, tak semua obat boleh dicampur susu.

Jangan pula membohongi anak dengan mengatakan obat pahit terasa manis. Ini akan membuat anak tak mau menelan/makan obat. Lebih baik beri pengertian pada si kecil bahwa ia sakit dan perlu makan obat. "Jika ia tahu obat itu untuk menyembuhkannya dan membuat tubuhnya lebih nyaman, ia akan mencari obat itu jika ia sakit lagi," tutur Waldi.

Tanamkan pengertian ini sejak mau berangkat ke dokter. "Nanti kamu diperiksa Om Dokter dan dikasih resep obat. Obatnya kita beli di apotek." Katakan terus terang jika puyer yang harus ditelannya terasa pahit. "Tapi nanti Mama campur madu atau sirop, biar tak terlalu pahit." Dengan demikian, si kecil merasa tak dibohongi dan akhirnya sadar, "O, iya, ya, biar pahit, tubuhku jadi sembuh."

Obat Yang Diminum

1. Obat Batuk

Sediakan obat batuk putih (OBP) atau potio alba untuk si kecil dan obat batuk hitam (OBH) atau potio nigra untuk dewasa.

2. Obat Penurun Panas/Demam

Yakni, parasetamol, ibuprofen, dan metamizol. Penting diingat, ibuprofen harus diminum sesudah makan, sebab merangsang lambung. Sedangkan parasetamol dapat diminum sebelum makan. Ingat pula, pemakaian parasetamol berlebihan dan jangka panjang bisa merusak hati. Obat penurun panas ini juga punya efek antinyeri. Jadi, bisa diberikan juga pada si kecil yang sakit menelan, pegal-pegal, atau terkilir. Khusus ibuprofen, juga punya efek antiradang. Yang pasti, ketiganya punya efek samping mual dan perut kembung.

3. Obat Diare

Larutan oralit. Harus diingat, bayi dan anak-anak dapat mengalami dehidrasi secara cepat. Segera periksa ke dokter bila gejala menetap walau sudah minum oralit.

Cara Penyimpanan

1. Simpan di tempat khusus dan jauh dari jangkauan si kecil. Setidaknya, tingginya 1,5 meter dari lantai. Akan lebih aman jika lemari obat selalu terkunci.

2. Ada jenis obat tertentu yang harus disimpan di lemari es. Biasanya dokter atau apoteker akan memberitahu. Bila tidak, tanyakan.

3. Simpan obat dalam botol kemasannya masing-masing. Jangan menukarnya ke botol lain demi mencegah perubahan kimiawi.

4. Obat cair yang telah dibuka, sebaiknya dibungkus plastik atau diikat karet.

5. Taruh obat di tempat sejuk dan gelap. Sebab, obat mudah terurai secara kimiawi oleh pengaruh cahaya, udara, dan suhu.

6. Beri catatan di kemasan masing-masing obat, terutama jika di keluarga mempunyai beberapa anak. Sehingga obat tak saling tertukar.

Obat Luar Dan Perlengkapan P3K

1. Obat Luar

* Boorwater untuk mata merah atau belekan. Tapi bila dalam 3 hari belum ada perbaikan, segera bawa ke dokter.

* Minyak telon untuk bayi dan minyak kayu putih untuk anak-anak. Oleskan di perut bayi/anak jika ia sakit perut. Jika sakit perutnya tak hilang setelah diolesi minyak itu, tanyakan ke dokter.

* Obat gosok untuk pereda sengatan serangga.

* Obat gatal-gatal seperti calamin lotion atau caladine , bedak basah, dan salep antigatal (phenergan) .

* Obat pencuci hama seperti alkohol 70 persen dan antiseptik.

2. Perlengkapan P3K

Kasa steril, kapas, kain segitiga steril, plester tahan air (beberapa ukuran), plester siap pakai, gunting, termometer, dan peniti.

Perlu diperhatikan, jangan gunakan kapas untuk menutup luka, sebab kapas akan menempel di luka. Sebaiknya gunakan kasa steril lebih dulu, baru diberi kapas.

Luka kecil boleh dibalut dengan plester siap pakai. Tapi untuk luka besar, sebaiknya memakai kasa. Jika terjadi perdarahan pada luka besar, cukup dibebat dengan kasa steril, lalu bawa si kecil ke RS untuk dijahit.

Jika ada benda yang menusuk semisal pecahan kaca, jangan ambil pecahan itu. Biarkan petugas medis yang mencabutnya. Dikhawatirkan pecahan kaca memotong pembuluh darah sehingga saat benda itu dicabut, perdarahan akan makin deras.

Membawanya ke RS pun harus segera. Jangan lebih dari 6-8 jam. Sebab, bila ada reaksi jaringan di sekitar luka (setelah beberapa jam), jaringan akan membengkak dan sulit diperbaiki. Belum lagi infeksi yang masuk ke luka, yang akan menyulitkan penyembuhannya.

Indah Mulatsih

Views : 3459

#Tag :


blog comments powered by Disqus