Membership
Lupa password?
Anak

Mengenalkan Anggota Tubuh
Kamis, 28 Juli 2011
Anak 112 3

Iman/nakita

A nak harus dikenalkan pada bagian-bagian tubuhnya agar ia mau merawat dan menyayanginya.

"Ngapain, sih, harus repot-repot ngenalin anggota tubuh? Toh, nanti anak juga bakal tahu sendiri," begitu pikir kita.

Memang benar, Bu-Pak, pada akhirnya si kecil bakal tahu sendiri anggota tubuhnya dan kegunaannya masing-masing, entah dari "sekolah" atau cerita gurunya. Namun demikian, tak ada salahnya bila pengenalan itu dilakukan di rumah. Apalagi, seperti dikatakan Dra. Rose Mini A.P., M.Psi., dalam tes psikologi ada pertanyaan mengenai kegunaan anggota tubuh. Misal, kalau melempar sesuatu dengan apa atau kalau menendang sesuatu dengan apa. "Nah, bila anak tak pernah dikenalkan dengan anggota tubuhnya dan fungsi-fungsinya, tentu ia bisa salah menjawab. Jadi, penting sekali mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya."

Lebih dari itu, lanjut psikolog yang akrab disapa Romi ini, dengan kita mengenalkannya sejak dini, anak pun akan merawat dan menyayangi anggota tubuhnya sendiri. Bukankah menjaga kebersihan anggota tubuh amat penting untuk kesehatan?

LEWAT PERMAINAN

Namun, sebelum kita mengenalkan anggota tubuh berikut fungsi-fungsinya, Romi menyarankan agar kita mempelajarinya lebih dulu dengan membaca buku, misal. Tujuannya tentu agar kita tak salah memberikan informasi. Setelah itu, barulah kita kenalkan pada si kecil. Namun dalam mengenalkan juga harus memperhatikan usia anak. "Untuk batita, pengenalannya tak perlu sampai terlalu njlimet, cukup rangka luar saja semisal pancaindra, tangan-kaki, dan bagian-bagian tubuh lain yang terlihat."

Tentu cara mengenalkannya harus fun agar semua informasi dapat diterima dengan baik oleh si kecil. Dengan lagu, misal, "Kepala pundak lutut kaki lutut kaki..." atau dengan boneka manusia karena merupakan miniatur manusia yang paling baik. "Ketika ia menarik kaki bonekanya hingga putus, misal, kita bisa bilang, 'Aduh, kasihan, lo, Dek, kalau kakinya ditarik-tarik sampai patah seperti itu, bonekanya sakit.' Dengan begitu ia sadar, kaki dan anggota tubuh lainnya tak boleh diperlakukan kasar."

Media lain adalah orang yang ada di depan si kecil sendiri. Misal, "Ini tangan Mama, tangan Adek mana?" Bisa juga kita minta dia menggambar tangan. "Eh, tangan ternyata bisa gambar tangan, ya, Dek?", misal. Dari sini si kecil jadi tahu bahwa salah satu fungsi tangan ialah dapat digunakan untuk menggambar. Cara lain, minta ia mencetak tangan dan kakinya di atas kertas, lalu kita pun mencetak tangan dan kaki kita di kertas yang sama, "Wah, kaki Bunda lebih besar, ya, dari kaki Adek." Secara tak langsung, kita pun sekaligus mengenalkan konsep besar dan kecil padanya.

Bisa juga dengan membuat permainan, misal, kenapa ada sandal, karena ada kaki; kenapa ada cincin, karena ada jari: kenapa telunjuk diberi nama telunjuk, karena telunjuk merupakan jari yang digunakan untuk menunjuk; kenapa jempol dinamakan ibu jari, karena paling gendut dan paling besar di antara jari-jari lain; kenapa kita harus memakai topi, karena untuk melindungi kepala dari terik matahari atau hujan; dan lainnya.

Jadi, bilang Romi, banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya pada anak.

BELAJAR MERAWAT TUBUH

Dengan mengenalkan anggota tubuh dan fungsi-fungsinya, kita pun bisa mengajarkananak untuk merawat dan menyayangi anggota tubuhnya. Namun dalam mengajarkannya jangan cuma mengambil bagian akhir saja, lo, alias tak dijelaskan, misal, "Dek, cuci tangan, dong. Pokoknya, tiap Adek mau makan harus cuci tangan dulu!" Cara begini, menurut Romi, hanya membuat anak bingung karena ia tak tahu mengapa ia harus cuci tangan dulu sebelum makan.

Sebaiknya katakan, "Dek, sebelum makan, kita harus cuci tangan dulu, karena tangan, kan, kita gunakan untuk macem-macem, untuk main pasir, main boneka. Nah, tangan kita, kan, jadi kotor. Kalau kita makan dengan tangan kotor, nanti kita bisa sakit. Jadi, sebelum makan kita harus cuci tangan dulu."

Dengan begitu, ia tahu, kalau mau memegang makanan harus cuci tangan dulu. Begitu juga dalam menjelaskan mengapa ia harus cuci kaki dulu sebelum tidur, "Tadi Adek, kan, habis jalan-jalan. Kaki Adek jadi kotor. Kalau kaki Adek enggak dicuci dulu, nanti tempat tidurnya jadi kotor. Makanya, sebelum tidur, Adek harus cuci kaki dulu."

Contoh lain, lanjut Direktur Utama Essa Consulting Group ini, kala kita mengenalkan pancaindra dengan bermain ciluk-ba, misal, si kecil jadi tahu bahwa tanpa mata, ia tak bisa melihat. Nah, selanjutnya minta ia menjaga kebersihan matanya, "Kalau mata Adek enggak dibersihin, nanti Adek enggak bisa melihat orang, lo, karena ada kotorannya," misal, atau, "Mata enggak boleh dikucek-ucek, ya, Dek, karena tangan, kan, kotor. Nanti kalau matanya kemasukan pasir, Adek jadi enggak bisa melihat."

MANDI SENDIRI

Selanjutnya, kita jadi lebih mudah dalam mengajarkan kebersihan pada anak, khususnya mandi. "Biasanya orang tua, kan, sering mengeluh, kalau anaknya mandi sendiri pasti enggak bersih. Hingga, jalan keluar yang dipilih, anak selalu dimandikan," tutur Romi. Padahal, anak harus dilatih mandi sendiri agar ia belajar mandiri. Tentu dengan cara diajarkan secara perlahan dan diberi contoh.

Awalnya, anak biasanya hanya akan menyabuni perutnya, karena bagian itulah yang paling dekat dan terlihat oleh dirinya. Nah, kita bisa jelaskan, "Dek, kalau mandi, yang disabuni mulai dari bagian atas dulu, yaitu leher, baru bagian bawah, yaitu kaki, karena bagian bawah paling sering terkena macam-macam, hingga kotor. Bagian wajah belakangan.", misal. Untuk memudahkan, kita bisa ciptakan nyanyian dengan memberi nomor bagian tubuh, misal, nomor satu leher, kedua perut, ketiga tangan, dan seterusnya.

Jadi, tegas Romi, kita jangan hanya mengatakan, "Ayo mandi, Dek!", misal. "Anak kecil, kan, belum bisa mandi secara benar kalau tak diajarkan." Kemudian, usai mandi pun harus kita ajarkan memakai baju. Misal, bagian kerah yang lebih rendah berarti depan, lalu beri contoh bagaimana memakainya, hingga lama-lama si anak pun bisa melakukannya sendiri.

Dengan mengenal anggota tubuh, lanjut Romi, kita pun bisa membujuk anak untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tak disukai. Menyisir rambut, misal. "Anak batita biasanya tak mau nyisir. Ini wajar, karena ia belum punya kenikmatan melihat wajahnya bila rambutnya disisir rapi. Jadi, kita mesti omong, 'Dek, kalau rambut Adek enggak disisir, nanti kayak benang kusut, lo. Bunda jadi enggak bisa nyisirin Adek karena kalau disisir, Adek jadi kesakitan,' misal." Atau, jika si kecil tak mau potong kuku, kita jelaskan, "Dek, kita harus memotong kuku agar terlihat rapi. Kalau kuku Adek panjang-panjang dan ada item-item-nya, berarti kotor. Kita, kan, enggak tahu apa isinya. Kalau isinya telur cacing gimana? Nanti Adek bisa kena penyakit cacingan, lo."

TOILET TRAINING

Tentunya, dalam mengenalkan anggota tubuh, kita pun harus mengenalkan alat kelamin si kecil. Namun mengenalkannya harus menggunakan nama yang benar, lo. Jangan kita menyebut "burung" untuk alat kelamin si Buyung, melainkan penis. Begitu pula dengan alat kelamin si Upik, katakan namanya vagina, bukan "dompet" atau istilah lain yang tak tepat. Kita bisa bilang, "Ini alat kelamin pria, namanya penis, gunanya untuk pipis, tapi enggak usah disebut-sebut terus namanya, ya, Dek," misal.

Bila si kecil bertanya mengenai perbedaan alat kelamin laki-laki dan perempuan, jawablah seperlunya. Kita bisa bilang, "Hidung Ayah dan hidung Adek enggak sama, kan? Jadi, beda itu enggak apa-apa. Nah, penis itu untuk lelaki, sedangkan vagina untuk perempuan. Anak lelaki akan jadi Ayah dan anak perempuan akan jadi Bunda," misal. "Jadi, tak perlu sampai mendalam karena biasanya anak hanya ingin tahu kenapa berbeda. Cukup agar ia memahami bahwa perbedaan itu enggak apa-apa," tutur Romi.

Kemudian, ajarkan cara merawat alat kelaminnya. "Dek, kalau habis pipis harus dibersihkan, ya. Cara membersihkannya harus dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan karena kotoran yang ada di belakang bisa masuk ke depan." Katakan juga, kita harus menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir karena air yang mengalir lebih baik ketimbang air di bak. Dengan begitu, ia akan ingat terus. "Kalau sudah lebih besar, anak mulai dapat diajarkan bagaimana membersihkan dengan tisu."

Tentu awalnya ia harus dibantu. Lama-lama kita bisa minta ia untuk mencoba membersihkan alat kelaminnya tiap kali habis BAK/BAB. Namun kita tak boleh memperlihatkan kesan jijik manakala melihat kotorannya, lo, tapi katakan, "Kotoran ini punya Adek sendiri, tapi harus dikeluarkan dan dibuang, karena kalau tidak, perut Adek bisa kembung dan besar. Nanti Adek bisa sakit perut." Semua ini, jelas Romi, merupakan bagian dari toilet training.

Nah, banyak manfaatnya, kan, Bu-Pak?

Faras Handayani/nakita

Views : 2282

blog comments powered by Disqus