Membership
Lupa password?
Anak

Mengembangkan Kecerdasan Lewat Bentuk dan Warna
Minggu, 02 Januari 2011
Anak 74 3

Rohedi/nakita

T ernyata, mengenalkan anak pada bentuk dan warna bisa mengembangkan kecerdasan, lho. Bukan hanya mengasah kemampuan mengingat, tapi juga imajinatif dan artistik, pemahaman ruang, keterampilan kognitif, serta pola berpikir kreatif.

Di usia batita, menurut Drs. Hapidin, MPd . , anak memang harus dikenalkan pada bentuk dan warna. "Malah, pengenalan bentuk dan warna merupakan salah satu komitmen pendidikan yang dilontarkan oleh pakar pendidikan dari Jerman, John Hendrick Pestalozzi. Dia mengatakan, pembelajaran pada anak batita harus menekankan pada AVM, yaitu Auditory, Visual dan Memory," tutur Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakutas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini.

Soalnya, pengenalan AVM sangat berpengaruh pada perkembangan intelektual anak. Hasil penelitian menunjukkan, pengetahuan yang kita miliki, 74 persennya diperoleh dari kemampuan visual, 12 persen dari pendengaran, dan sisanya dari sumber pengetahuan lain. Itulah mengapa, pengembangan auditori-visual (pendengaran-penglihatan) merupakan pintu gerbang untuk masuknya pengetahuan dan berkembangnya semua fungsi intelektual anak.

SEJAK USIA 40 HARI

Sebenarnya, ujar Hapidin, pengenalan ini sudah bisa dimulai saat bayi usia 40 hari atau malah 2 minggu, "karena saat itu bayi mulai 'melihat' dunia luar dengan jelas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan mengingat atau memorinya." Tapi pengenalan di usia 40 hari ini bukan berarti an sich pada usia itu, lho. Maksudnya, inilah saat tepat bagi orang tua untuk menguji apakah kemampuan mengamati melalui matanya dan kemampuan auditori bayinya normal atau tidak. "Nah, ini, kan, enggak perlu harus ke dokter untuk serangkaian tes yang butuh waktu dan biaya tak sedikit."

Dengan pengenalan itu, lanjutnya, kita bisa memperoleh manfaat ganda, yakni mengecek pendengaran dan penglihatan bayi sekaligus mengasah kemampuannya. Misal, dengan menggunakan kerincingan warna-warni. "Perdengarkan dari sebelah kiri dan kanan. Kalau fungsi auditorinya berjalan bagus, pasti ia akan segera mencari-cari dan menoleh pada bunyi kerincingan itu. Nah, sewaktu ia melihat benda tersebut, bukankah ia 'belajar' mengenal warna dan bentuk sekaligus berorientasi pada bunyi?"

Namun dalam memperkenalkan warna pada bayi, hendaknya warna primer atau dasar dulu, yaitu merah, biru, dan kuning. Pengenalannya pun satu per satu, baru kemudian kombinasi dua warna, dan seterusnya kombinasi tiga warna. "Pengenalan ini akan terekam dalam ingatan anak."

Selanjutnya, proses pengenalan kembali atau recognizing mengenai warna akan didapat anak melalui interaksi sosial. Misal, "Sepatu Adek yang warna kuning mana, ya?" Hendaknya pengenalan kembali diaktifkan sejak anak usia 1 tahun, yaitu ketika ia mulai bersosialisasi dengan lingkungannya. Menurut Hapidin, jika orang tua telaten, hasilnya akan tampak kala anak usia 1-2 tahun. Ketika diminta mengambilkan/menunjukkan sebuah benda berwarna merah, misal, ia bisa melakukannya dengan benar. Jadi, tak perlu lagi kita berteriak mendiktenya, "Perhatikan, ya, ini warna merah!" Begitu pula dengan pengenalan bentuk, sebaiknya juga dikenalkan sedini mungkin. Meski saat itu anak pasti belum mengerti apa bentuk benda yang dipegangnya, biarkan ia meraba-raba bantal dan gulingnya, kerincingan, dan "radio" kesayangannya yang berbentuk boneka atau binatang lucu. Pengenalan sederhana inilah yang kelak akan menuntunnya untuk mengenal aneka bentuk benda.

KENALKAN SEMUA BENTUK

Hapidin yakin, kemampuan arsitek seni tata warna dan tata letak bisa sedemikian berkembang hingga menghasilkan karya yang bagus sekali bila sejak bayi sudah diberikan pengenalan. "Anak, kan, enggak mungkin bisa membedakan mana yang segitiga, segi empat, lingkaran, silinder, atau setengah lingkaran, dan sebagainya kalau sebelumnya ia tak pernah mengenal bentuk-bentuk tersebut." Jadi, tegasnya, memang harus distimulasi karena kemampuan itu enggak datang tiba-tiba dengan sendirinya.

Dengan demikian, saat masuk usia sekolah bukan tak mungkin anak sudah pandai membuat rancang bangun sederhana dari berbagai bentuk dan bidang. Kemampuan imajinasinya pun semakin "hidup", hingga ia bisa
berteriak bangga, "Eh, lihat, ini rumahku!" Atau tak sedikit pula yang mampu mendisain bangunan istana dengan konsep warna yang betul-betul cemerlang. Dengan kata lain, kemampuannya memilih dan menempatkan bentuk-bentuk seperti lingkaran, segitiga, persegi panjang, bujur sangkar dan sebagainya sungguh mengagumkan. "Saya sampai nyaris setengah percaya kalau itu karya seorang murid TK, lho," komentar Hapidin penuh kekaguman.

Itulah mengapa, tekan Hapidin lagi, seyogyanya sejak usia bayi, anak sudah diperkenalkan pada bentuk dan warna. "Orang tua tak perlu bingung untuk menentukan bentuk apa saja yang perlu diperkenalkan dan mana yang harus diprioritaskan. Tak cuma terbatas pada bentuk yang beraturan seperti segi tiga, segi empat, dan seterusnya, tapi semua bentuk."

Di dalam susunan IQ, tambah Hapidin, ada satu subpotensi intelektual yang namanya spacial ability atau pemahaman ruang. Nah, mereka yang kemampuan spasialnya rendah, saat melihat sebuah ruangan mungkin akan mengatakan "Ah, biasa-biasa saja, kok, nggak ada yang istimewa." Tak demikian halnya dengan mereka yang kemampuan spasialnya bagus; hanya dengan melihat sekilas ia langsung bisa tahu, "Ini miring, lho. Segi panjangnya nggak imbang antara yang kiri dan kanan." Kalau pengenalan semacam ini tak distimulasi, tak dipekakan sejak dini, tak akan sedemikian terasah saat anak besar.

Tapi belum terlambat, lho, Bu-Pak, bila si kecil baru diperkenalkan di usia batita. Bukankah yang namanya pendidikan tak kenal kata terlambat? Nah, perkenalkan anak pada berbagai bentuk lewat mainan dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Biarkan ia sibuk dengan panci, ember plastik, terompet, bahkan sapu dan kursi. "Lewat pengalaman bermainnya ini, minimal ia bisa menangkap makna aneka warna dan bentuk," kata Hapidin. Semakin orang tua mendorong atau memancing anak secara kreatif memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitarnya, semakin positif pula dampaknya bagi anak. "Keterampilan kognitifnya akan semakin terasah."

Namun Hapidin mengingatkan agar orang tua tak terjebak dalam pengenalan yang terkotak-kotak untuk masing-masing kelompok anak usia 1, 2 atau 3 tahun. Soalnya, mengenalkan konsep bentuk dan warna harus dilakukan secara terpadu dan bertahap karena kemampuan ini akan mengalami peningkatan sesuai pertambahan usia anak. Misal, bayi "hanya" bisa mengenal warna-warna dasar, sementara anak yang lebih besar, kemampuannya lebih terasah hingga bisa mengenali warna-warna yang lebih kompleks.

Seiring dengan pengenalan tersebut, berilah kesempatan pada anak untuk bersosialisasi agar ia tak "ketinggalan kereta". Hapidin lantas mengambil contoh seorang anak yang orang tuanya berasal dari pendidikan dan ekonomi sangat bawah, namun survive dan memiliki interaksi sosial sangat tinggi. "Meski di rumahnya nggak punya mainan, ia bisa pinjam mainan di tempat teman-temannya, termasuk mengoperasikan mainan secanggih play station. Akhirnya, ia punya bekal tentang konsep tata warna, tata letak, dan bentuk bangunan hingga bisa merangkai dan menuangkannya dalam lukisan yang luar biasa bagus."

Artinya, jelas Hapidin, orang tua boleh saja punya keterbatasan, namun dengan tak mengkungkung anak dalam keterbatasannya tadi, anak akan tetap mengalami proses tumbuh kembang yang maksimal. "Dengan memberikan kebebasan yang terkontrol, anak akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang menakjubkan melalui interaksi sosialnya." Jadi, tandasnya, pengaruh lingkungan bisa mengoptimalkan potensi yang ada pada anak.

MENGEMBANGKAN BERPIKIR ALTERNATIF

Penting diketahui, pengenalan warna erat kaitannya dengan pengasahan kemampuan imajinatif dan artistik anak. Dalam bahasa lain, lebih mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni. Soalnya, salah satu faktor pembangun imajinasi dan kreativitas adalah aspek warna. Bukankah orang seni biasanya paling kreatif? "Nah, anak yang memperoleh stimulasi mengenai tata warna, tentu akan dengan cepat memadukan warna yang serasi antara benda yang satu dengan benda lainnya hingga betul-betul enak dilihat. Sementara yang tak distimulasi, boleh jadi dalam memilih warna baju pun akan 'tabrakan' dan terkesan norak," tutur Hapidin.

Selain mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni, pengenalan warna juga berkaitan erat dengan pola berpikir alternatif. Misal, anak memilih hijau untuk warna genting. Mungkin ia pernah melihat genteng hijau. Bukankah sekarang banyak perumahan yang gentengnya hijau? Tapi boleh jadi karena ia memang punya pemikiran lain. Misal, seandainya suatu saat terjadi perang, maka genteng yang hijau akan dilihat pesawat pengintai bukan sebagai perumahan hingga terlepas dari sasaran pengeboman. "Nah, kita harus memuji anak atas kemampuannya 'berpikir panjang'. Kita saja enggak berpikir sejauh itu, mereka malah bisa, lho."

Jadi, Bu-Pak, kalau si kecil kedapatan menggambar ayam dan diberi warna hijau, misal, jangan dilarang atau disalahkan, ya. Yang perlu dilakukan adalah menggali alasannya memberi warna tersebut. "Karena waktu ke Kebun Binatang, aku melihat ayam warnanya hijau," mungkin begitu jawabannya. Padahal yang dimaksud adalah ayam merak. "Selama anak punya reasoning atau alasan, kita tak berhak melarang anak menggunakan warna tertentu yang jadi pilihannya. Biarkan ia memilih warna sesuai pengalamannya. Ingat, pengetahuan dan pengalamannya masih terbatas. Jadi, biarkan ia belajar dari pengalamannya." Menurut Hapidin, kita hanya perlu mengarahkan karena anak yang asal mewarnai tentu berbeda dengan anak yang punya reasoning.

Pola berpikir alternatif juga akan berkembang melalui "permainan" mencampur beberapa warna untuk menghasilkan suatu warna baru. Bukankah dalam menentukan suatu warna yang hendak digunakan tak harus 100 persen merah, misal, atau kuning, tapi juga bisa warna hasil campuran merah dan kuning, yaitu jingga? Untungnya, kini banyak kelompok bermain yang sudah memperkenalkan program eksperimen mencampur warna. "Dalam program ini, anak bebas berekspresi mencampur warna apa saja. Saat mencampur, ia melihat sendiri apa hasil percampuran warna-warna tertentu; merah dengan kuning, merah dengan biru, biru dengan kuning, dan seterusnya."

Selain mengembangkan pola berpikir kreatif, "permainan" ini juga akan menggugah rasa ingin tahu anak untuk mendalami ilmu pengetahuan. "Ada proses pengembangan visual dan science, meski baru taraf paling sederhana, karena mau tak mau, anak tertantang untuk tahu lebih banyak tentang kejadian-kejadian alam di sekitarnya." Misal, mencampur air dan gula hingga terhidang segelas air manis atau air dan sirup menjadi larutan berwarna tertentu yang menarik dan menggugah selera.

Ternyata manfaatnya luar biasa, ya, Bu-Pak, dari pengenalan warna dan bentuk. Nah, tunggu apa lagi? Buruan, deh, kenalkan si kecil pada aneka warna dan bentuk.

Julie/nakita


blog comments powered by Disqus