Membership
Lupa password?
Anak

Mengajak Anak Menonton Bioskop
Sabtu, 22 Mei 2010
Anak Menonton Bioskop

Iman Dharma/nakita

A sal si anak senang, nggak apa-apa kok. Yang penting orang tua harus kritis. Si kecil juga harus disiapkan.

Sering kita jumpai, orang tua mengajak anaknya yang berusia batita ke bioskop. Tak hanya untuk menonton film anak-anak, tapi juga kala si orang tua ingin menonton film dewasa. Meski pada akhirnya si anak mungkin tertidur di dalam gedung bioskop.

Menurut Dra. Ike Anggraika, M.Si. , boleh-boleh saja mengajak anak batita menonton. Namun orang tua harus bersikap kritis, "Ada perlunya nggak , sih? Apakah filmnya memang layak ditonton anak? Takut nggak si anak dibawa ke bioskop, dan sebagainya." Semua itu, lanjutnya, orang tua sendirilah yang harus bisa menilai baik-tidaknya untuk anak.

Jangan sampai, tambah psikolog dari Fakultas Psikologi UI ini, hanya gara-gara si orang tua kepingin menonton Pretty Woman , misalnya, lantas anaknya diajak. "Itu salah!" tandasnya.

DEMI ANAK

Alasan yang tepat ialah untuk kesenangan si anak. Seperti halnya mengajak ia ke kebun binatang atau tempat hiburan lainnya. "Jadi menonton itu suatu rekreasi dan demi kepentingan anak," ujar Ike.

Karena tujuannya sebenarnya ialah untuk memperkenalkan si anak dengan lingkungan tersebut. "Anak jadi tahu yang namanya bioskop itu seperti apa." Dengan begitu, kala teman-teman sebayanya bercerita tentang bioskop, si anak sudah mengerti.

"Jadi ada perlunya juga untuk pergaulan si anak," tukas Ike. Terutama bagi anak yang sudah masuk TK. Karena biasanya anak TK suka cerita sama temannya di kelas, "Kemarin aku diajak Ayah menonton film di bioskop. Seru, deh, filmnya."

Nah, kalau si anak tak pernah diajak nonton di bioskop oleh orang tuanya, tentunya tak akan mengerti. "Ia akan merasa dirinya ketinggalan dan tak bisa mengikuti pembicaraan tersebut." Mungkin dalam pikirannya akan juga terlintas, "Kok, aku enggak nonton . Kok, dia sudah nonton ."

Itulah mengapa Ike lebih cenderung menyarankan orang tua mengajak anak menonton di bioskop setelah si anak usia TK, sekitar 5 tahunan. "Kalau di bawah usia itu, selain lingkup pergaulan si anak belum terlalu luas, ia pun belum bisa diharapkan dapat menangkap jalan cerita atau adegan-adegan film. Karena konsentrasinya masih belum penuh."

WAKTU TAYANG

Jika orang tua tetap ingin mengajak anaknya yang usia batita menonton di bioskop, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Yang pertama ialah waktu tayang. Hal ini penting karena sangat berbeda dengan menonton di rumah. "Kalau menonton dengan laser disc di rumah, kan, waktunya bisa ditunda-tunda atau dipotong. Misalnya, anak mau mandi dulu, maka filmnya bisa dihentikan sementara, lalu nanti disambung lagi." Filmnya pun berdurasi singkat-singkat, sekitar 10-15 menit. Setelah selesai lalu ceritanya berganti lagi.

Sedangkan di bioskop waktu tayangnya berdurasi lama. Kira-kira 1,5 sampai 2 jam. Agak sulit bagi anak dalam waktu yang lama berada di bioskop tersebut. "Anak kecil, kan, belum mampu untuk duduk diam dengan tenang dan manis dalam waktu lama. Karena itulah seringkali terjadi ada anak yang menangis atau karena kecapaian dia menjadi tertidur," terang Ike.

Dalam memilih jam tayangnya pun harus tepat. Jangan sampai si anak diajak menonton yang jam tayangnya malam hari, pukul 7 ke atas. Karena malam hari adalah waktu anak beristirahat. "Sebaiknya pilih waktu di siang hari."

Kemudian suasana di bioskop. "Ruangan yang gelap, layar yang besar, suara-suara yang keras dan menggema bisa membuat anak jadi cemas. Apalagi bagi anak yang agak penakut." Sedangkan untuk suasana lingkungan bioskop yang ramai, biasanya tak masalah. Karena anak sejak kecil pun mungkin sudah terbiasa diajak ke tempat-tempat yang ramai orang seperti mal dan supermarket. Hal itu tak akan membuatnya takut.

Saran Ike, anak harus dijelaskan tentang suasana di dalam bioskop. Misalnya, "Nanti kalau di bioskop kamu duduk diam dengan manis. Kamu duduk di tengah, di antara Mama dan Papa. Kalau nanti kamu mau pipis atau mau sesuatu bilang sama Mama atau Papa. Kamu di sana tak perlu takut. Karena lampunya nanti akan dimatikan, sehingga ruangnya jadi gelap. Suara-suara di dalamnya juga akan terdengar keras. Itu nggak apa-apa."

Penjelasan ini sangat penting karena anak tak punya pengalaman tentang itu. "Ia harus disiapkan. Kalau tidak, bisa jadi ia akan terkaget-kaget, takut dan bahkan menangis keras."

Sementara soal fisik anak, hanya dilihat apakah ia sehat atau tidak. Kalau soal makanan dan minuman, bisa dibeli di kantin bioskop.

JELASKAN CERITANYA

Dari segi cerita, tentunya harus sesuai dengan usia anak. Bukan tema-tema orang dewasa dan juga tak banyak unsur kekerasannya. "Meski ada film-film untuk segala usia, seringkali banyak ditemui adegan-adegan kekerasan dan juga tokoh-tokoh dengan wajah yang seram. Anak bisa takut," tutur Ike.

Disamping itu, tuturnya lebih lanjut, pada anak ada yang dinamakan observational learning . Maksudnya, anak mengamati tingkah laku orang secara nyata, apakah itu tingkah laku orang tua, pengasuhnya atau orang di sekitarnya. "Nah, dalam menonton, anak bisa mengamati melalui modeling. Jadi tak hanya meniru tingkah laku orang di sekitarnya, tapi bisa juga meniru perilaku tokoh-tokoh yang ada dalam film."

Dikhawatirkan, bila filmnya mengandung hal-hal negatif, anak akan meniru hal negatif pula. Lain halnya bila anak meniru yang positif seperti tolong menolong. Itulah mengapa Ike minta, sebelum mengajak anak menonton, orang tua mesti tahu bahwa di film pasti ada tokoh dengan perilaku baik dan buruk, dan bahwa anak pasti akan menirunya. Nah, tugas orang tualah untuk mengarahkan si anak pada perilaku-perilaku yang baik.

Alangkah baiknya bila orang tua sudah mengetahui lebih dulu tentang film yang akan ditonton, apakah patut atau tidak ditonton oleh anak. Entah dengan bertanya pada tetangga atau kerabat yang sudah mengajak anak menonton film tersebut atau menontonnya sendiri lebih dulu, dan sebagainya.

Selanjutnya yang harus dilakukan orang tua ialah menjelaskan pada si anak tentang film tersebut. Mulai dari judulnya, nama tokoh-tokohnya sampai jalan ceritanya. "Semuanya perlu dijelaskan karena film terdiri dari adegan-adegan yang cukup panjang bagi anak. Tak semua anak bisa cepat menangkap jalan ceritanya. Nah, pada anak yang lambat ini, tentunya ia malah jadi bingung dengan hubungan antar setiap adegan tersebut." Tapi bila sebelumnya si anak sudah diberi "bekal", maka ia akan mempunyai gambaran tentang film yang akan ditontonnya.

Bila setelah dijelaskan ternyata si anak malah tak tertarik untuk menonton, pinta Ike, ya, orang tua jangan memaksa. Lain halnya bila si kecil memang berminat.

TRAUMA

Bila akhirnya si kecil tertidur saat menonton, saran Ike, sebaiknya dibawa pulang saja. Kendatipun filmnya belum usai. "Toh, dengan tetap berada di bioskop juga tak ada gunanya. Karena tujuan yang diharapkan orang tua dengan mengajaknya menonton tadi jadi tak tercapai." Lagipula, si anak bisa tiba-tiba terbangun. Hal ini akan membuatnya terkaget-kaget dengan suasana bioskop. Si anak pun tak akan mengerti dengan jalan cerita dari film tersebut.

Begitupun bila si anak takut karena tiba-tiba terdengar suara ilustrasi musik yang keras atau ada hal menyeramkan. "Biasanya anak akan mencari tangan orang tuanya. Nah, orang tua sebaiknya menenangkan si anak." Tapi kalau si anak sampai menangis saking takutnya, maka orang tua harus menyadari akan kepentingan si anak. "Sebaiknya orang tua membawa si anak keluar. Karena dengan si anak menangis berarti ia merasa tak nyaman."

Jangan orang tua malah membujuk atau memaksa si anak agar tetap menonton. Selain akan mengganggu konsentrasi si anak dan orang lain yang tengah menonton, juga bisa membuat anak trauma. "Anak jadi takut melihat suasana atau situasi yang gelap."

Namun trauma pada anak bukan selalu berarti ia tak mau lagi diajak ke bioskop, melainkan ketakutan dan perasaan tak nyaman itulah yang timbul. Padahal seharusnya perasaan seperti itu dihindari.

USAI MENONTON

Yang tak kalah penting ialah menanyakan perasaan si anak setelah menonton. Misalnya, "Bagaimana perasaan kamu tadi waktu melihat ayah Simba (film Lion King, red.) mati? Kalau Ibu tadi sedih sekali."

Selain itu, orang tua juga memberikan masukan tentang nilai-nilai. Misalnya, "Kamu lihat musuh Simba tadi, apakah dia jahat? Mana yang baik?" Atau, "Kamu lihat, kan, tadi, Simba sangat lucu dan suka menolong. Kamu pun kalau berteman harus seperti itu, saling tolong menolong dan bersahabat."

Ingatlah, anak belajar dari apa yang dilihatnya. Namun anak bisa saja salah pengertian atau salah tangkap. Nah, dengan membicarakan film tersebut seusai menonton, maka orang tua bisa segera meluruskannya atau menjelaskannya bila ada yang tak dimengerti anak.

Dedeh Kurniasih/nakita


blog comments powered by Disqus