Membership
Lupa password?
Anak

“Mama, Kok, Pilih Kasih?”
Selasa, 07 Desember 2010
Anda dan Anak

Foto: Adrianus Adrianto

Sindroma anak emas merupakan hal jamak dan nyaris terjadi pada setiap keluarga, baik keluarga tradisional maupun modern sekalipun. Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari kedekatan emosi, komunikasi yang nyambung, penurut, atau karena status dan kondisi anak (anak bungsu, anak sakit-sakitan, satu-satunya anak perempuan/lelaki dalam keluarga), dan sebagainya. Biasanya, orang tua akan merasa lebih suka atau lebih nyaman berdekatan dengan anaknya yang easy-going , kooperatif, atau “tak banyak ulah”.

Namun, hampir semua orang tua tak mau disebut menganakemaskan anaknya atau pilih kasih. Mereka akan bilang bahwa mereka memberi perlakukan yang sama kepada semua anak-anaknya. “Hubungan saya dengan Si Sulung sangat dekat karena kami mirip. Kami lebih mudah saling memahami, tapi tidak berarti saya pilih kasih, lho,” aku seorang ibu.

Kedekatan hubungan antara orang tua dengan anak emasnya tentu tak bisa lepas dari perhatian anggota keluarga lain, khususnya anak-anak lain. Ini yang harus dicermati. Pasalnya, bisa-bisa anak yang tidak difavoritkan orangtua akan merasa menjadi “anak tiri” dan menganggap orang tua pilih kasih.

Akibat lebih buruk, perasaan ini akan terus tersimpan di dirinya hingga dewasa dan menciptakan hubungan yang kurang baik dengan orang tua maupun dengan saudaranya yang menjadi anak kesayangan.

A Can Do Attitude

Sebetulnya, apa sih, untungnya menjadi anak emas? Salah satu keuntungannya adalah anak akan tumbuh  dengan rasa percaya diri yang tinggi karena ia merasa telah memenangkan pertarungan memperebutkan perhatian orangtuanya. Dengan keyakinan diri semacam ini, anak akan memiliki “a can do attitude ,” bahwa apapun bisa ia lakukan, tak ada yang tidak.

Akan tetapi, ada juga sisi tidak untungnya menjadi anak emas. Anak emas akan tumbuh dalam sebuah situasi di mana mereka akan selalu memperoleh apa yang mereka inginkan, tanpa pernah memperoleh konsekuensi negatif. Pokoknya semua keinginan mereka selalu dikabulkan. Dan, orang tua mereka membuat standar berbeda untuk dia dan anggota keluarga lainnya.

Ketika Bill Clinton menjadi presiden AS, banyak orang bertanya-tanya, kenapa ia mengambil risiko mengencani Monica Lewinsky, yang bukan siapa-siapa? Jawabannya sederhana: karena dia adalah anak emas ibunya. Untuk tetap menjaga “hubungan” dengan sang ibu, dia memelihara sifat “apa yang saya mau” ini, tanpa pernah memperhitungkan konsekuensinya.

Jadi, tugas orangtua adalah tetap memberikan standar yang sama antara anak kesayangan dan anggota keluarga lainnya. Dengan begitu, anak kesayangan pun akan tetap bisa memperoleh pengalaman yang sama dengan anggota keluarga lain, dan tahu konsekuensi negatif yang bisa timbul akibat tindakannya.

Mau Mendengar

Apa lagi yang harus dilakukan orang tua agar tak dianggap pilih kasih? Orang tua harus mau mendengar. Ya, meskipun ini bukan hal yang mudah, apalagi jika persepsi anak berlawanan dengan kemauan orang tua.

Jadi, metode terbaik untuk menghindari “konflik” akibat sindroma anak emas ini adalah dengan mendengarkan, mengenali, dan memahami reaksi berbeda dari setiap anggota keluarga. Juga, berlakukan aturan yang sama untuk semua anggota keluarga.

Pada keluarga yang sehat, perbedaan ini bisa dieksplor bersama-sama tanpa masalah ketika orang tua menerima persepsi anak, tanpa menyalahkan anak. Anak, sesuai usianya, juga akan mampu tumbuh dan memahami dan menghormati sikap dan keinginan orang tua.

Dengan cara ini, jangan heran jika anak akan justru meneriaki kakaknya dengan candaan, “Kakak kan, anak kesayangan Mama..!”

Beri Cinta

Setiap orang tua pasti akan mencintai anak-anaknya, tak peduli apakah anak itu anak kesayangannya atau bukan. Sayangnya, seringkali orang tua tidak mampu menunjukkan cinta dan perhatiannya yang besar itu kepada setiap anaknya. Akibatnya, ketika orang tua dekat dengan salah satu anaknya, tudingan pilih kasih pun muncul dan anak lainnya akan merasa tersisihkan.

Jadi, cobalah lebih tunjukkan cinta dan perhatian Anda pada anak-anak. Mengajak anak melakukan hobinya, mendampinginya saat anak butuh bantuan, memperhatikan hal-hal kecil yang seringkali luput dari perhatian, akan membuat anak merasa dicintai dan diperhatikan ayah-ibunya.

Individu atau anak yang merasa dicintai, dihargai, dan diakui oleh orang tuanya biasanya tidak akan merasa begitu terganggu, sekalipun dia bukanlah “anak emas” di keluarganya. “Ibu dan kakak perempuanku lengket banget. Kayak pot dan bunganya. Jelas bahwa ibu lebih suka dia. Tapi, aku tahu ibu sangat mencintaiku juga, jadi buatku tidak masalah, kok,” kata seorang anak tentang sang ibu.

 Hasto Prianggoro/berbagai sumber

Views : 2296

blog comments powered by Disqus