Membership
Lupa password?
Anak

Jangan Masukkan Ke Mulut, Ya, Sayang
Kamis, 12 Mei 2011
Anak 100 2

Iman DS/nakita

B ayi akan memasukkan segala sesuatu ke mulutnya. Melarangnya hanya akan membuatnya tak percaya diri. Kasih tahu saja dan jelaskan.

Tiap bayi pasti akan memasukkan jari atau benda-benda yang dipegangnya ke mulut. Hal ini berkaitan dengan refleks sucking atau mengisap yang diperoleh bayi sejak lahir. "Jadi, bila ada bayi yang tak bisa mengisap, mungkin ia mengalami suatu kelainan atau ada salah satu sarafnya yang tak berfungsi. Perlu bantuan dokter untuk mengatasinya," tutur Dra.Psi. Riza Kolopaking.

Selain itu, bayi bereksplorasi dengan seluruh indranya, termasuk indra pengecap. Itu sebab, tak jarang kita saksikan si kecil akan mengamati dulu benda yang dipegangnya, meraba-rabanya, lalu menjatuhkannya untuk mendengar bunyinya atau memasukkannya ke mulut. "Hal itu dilakukannya untuk memuaskan rasa ingin tahunya," kata psikolog pada RS Hermina, Bekasi ini.

Tak hanya itu, saat mulai tumbuh gigi pun, si kecil kerap memasukkan benda ke mulutnya untuk digigit-gigit karena gusinya terasa gatal. "Kita harus menyadari akan kebutuhannya ini." Dalam bahasa lain, kita perlu menyediakan mainan untuk digigit-gigit (teether).

AMAN DAN BERSIH

Yang jelas, Bu-Pak, kita harus memperhatikan lingkungan sekitar si kecil dan mengawasinya agar ia tak memasukkan sembarangan benda ke mulutnya, apalagi benda-benda berbahaya. Terlebih bila si kecil sudah bisa merangkak, tentu dengan mudah ia bisa mendapatkan apa saja yang tergeletak di lantai, bahkan sampai di kolong meja atau kursi. Jangankan benda, makanan yang tercecer di lantai saja bisa membahayakan si kecil kalau sampai dimasukkan ke mulutnya.

Jadi, pastikan lingkungan tempat bermain si kecil aman dari benda-benda berbahaya maupun makanan yang tercecer. Pastikan pula, mainannya aman. "Jangan ada yang tajam atau berujung runcing, juga jangan yang gampang patah," bilang Riza. Jangan pula ada mainan yang bentuknya kecil-kecil seperti manik-manik. "Kalau tertelan, kan, berbahaya sekali karena bisa menutup jalan nafasnya." Juga tak boleh yang berbulu karena kalau masuk mulut, bulu-bulu tersebut akan menempel di mulutnya.

Selain itu, kebersihan mainan juga harus dijaga. "Jangan sampai bayi memasukkan mainan kotor karena ia bisa terkena cacingan atau diare." Dianjurkan memilih mainan yang mudah dicuci semisal dari bahan plastik. "Namun, bukan berarti kita lantas jadi terlalu rigid, lo, anak tak boleh pegang ini-itu hanya karena harus bersih." Melainkan, ada waktu-waktu tertentu untuk membersihkannya, terutama yang sering ia masukkan ke mulut atau diisapnya. "Jadi, bila kita lihat di mainannya ada bekas makannya karena sering masuk ke mulut, maka mainannya sebaiknya dibersihkan dulu. Pun kalau tangannya kotor sesudah memegang mainan di lantai, dicuci lebih dahulu."

BERI PENJELASAN

Menurut Riza, bila si kecil terlalu banyak dilarang, dampaknya juga tak baik. "Hubungan orang tua dan anak jadi tak enak. Orang tua merasa kesal melihat anak sepertinya melakukan hal yang selalu tak disetujuinya. Sedangkan bagi anak sendiri, ia akan merasa, kok, aku salah melulu, hingga pada akhirnya akan mempengaruhi rasa percaya dirinya."

Bukan berarti kita tak boleh melarangnya, lo. Jika memang bendanya tak memungkinkan untuk dimasukkan ke mulut, tentu harus dilarang tapi dengan cara yang lembut dan disertai penjelasan, "Jangan, Sayang, ini kotor.", misal. Meski masih bayi, si kecil juga bisa mengerti, kok, asalkan kita tak bosan-bosannya menjelaskan.

Hal lain yang perlu diperhatikan, jika bayi tertarik pada suatu benda atau objek tertentu, ia akan bolak-balik menghampiri benda itu. Misal, bolak-balik ke arah taman gara-gara tertarik pada bebatuan berwarna. "Daripada melarang, lebih baik kita kunci pintu ke arah taman dan ambil beberapa batu yang bisa dimainkannya." Ingat, perhatikan ukurannya, jangan terlalu kecil yang memungkinkan tertelan olehnya. Tentu saja, batu itu harus dicuci bersih lebih dulu. Atau, bila kita tak ingin ia memasukkan ke mulut, katakan, "Jangan masuk mulut, ya, hanya boleh dipegang!" Pokoknya, beri kesadaran pada si kecil untuk tak memasukkan ke mulut dengan alasan yang jelas. Selanjutnya, usai bermain, biasakan mencuci tangannya.

Cara lain, bisa juga dengan mengalihkan perhatian si kecil dari benda tersebut. "Gantilah benda itu dengan yang lebih bermanfaat seperti wortel bayi untuk digigit, jeruk yang sudah dibuang bijinya untuk diisap-isap, atau biskuit maupun makanan lain yang tentunya sudah boleh dikonsumsi oleh bayi seusianya."

Nah, Bu-Pak, sekarang udah enggak bingung lagi, kan, menghadapi si kecil yang "hobi" memasukkan apa saja ke mulutnya?

 
Takut Jadi Kebiasaan Ngempeng

Tak jarang orang tua khawatir, kebiasaan bayi memasukkan ibu jarinya ke mulut akan berlanjut hingga besar. Menurut Riza, kekhawatiran tersebut tak perlu ada bila orang tua segera tanggap. "Memasukkan jari ke mulut ini, kan, awalnya refleks, lalu ia merasa keenakan hingga diteruskan. Nah, bila orang tua tak memperhatikan atau didiamkan saja, tentu akan berlanjut hingga si anak besar."

Jadi, bila kita lihat si kecil ada kecenderungan mengempeng sebelum tidur, misal, jangan kita malah biarkan saja agar cepat tidurnya Melainkan, alihkan dengan hal lain seperti ditimang-timang atau didongengkan sambil dielus-elus kepalanya. Dengan cara ini, kata Riza, anak dimanipulir untuk tak jadi mengempeng. Begitupun bila anak mengempeng kala bermain, "tarik perlahan tangannya, lalu berikan biskuit atau makanan lain yang bisa digigit atau diisapnya."

Tahap Oral

Mengacu pada teori Sigmund Freud, pakar psikioanalisa, kegemaran bayi memasukkan segala sesuatu ke mulutnya merupakan tahap awal perkembangan kepribadian. Freud menyebutnya tahap oral, karena sumber kepuasan bayi terletak pada mulutnya. Dengan demikian, kebutuhan oral ini harus dipuaskan. Misal, bayi menangis karena haus harus dipuaskan dengan menyusui.

Soalnya, "dengan terpenuhinya kebutuhan refleks itu, juga akan timbul kedekatan dengan ibunya dan rasa aman. Kalau bayi sudah merasa aman, tentu ia akan tenang, senang, dan nyaman. Nah, rasa aman dan kedekatan ini merupakan salah satu syarat pertumbuhan anak dari segi psikologis," terang Riza. Itulah mengapa, ada program pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, selain tentu saja lantaran cuma ASI-lah makanan terbaik buat bayi.

Dengan demikian, bila kebutuhan oral semasa bayi tak terpenuhi, berarti tak ada kedekatan dengan ibu dan makannya pun tak cukup. Akibatnya, ia jadi rewel karena merasa tak aman, hingga berdampak ke depannya nanti ia tak punya rasa percaya pada orang lain atau lingkungannya. "Jadi, bila masa ini tak dilalui dengan baik, ada hal-hal klinis yang berpengaruh pada masa dewasanya," tandas Riza.

 
 Dedeh Kurniasih/nakita

Views : 2742

blog comments powered by Disqus