Membership
Lupa password?
Anak

Jadilah Orangtua yang Pantas Diteladani
Jumat, 21 Juni 2013
Ayah

Ilustrasi

Seperti apa sih, pola asuh yang baik dan ideal? Apakah yang permisif, atau overprotektif? Menurut psikolog dari RS Royal Taruma, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, “ Pola asuh yang baik adalah pola asuh yang disesuaikan dengan usia anak, karena berpengaruh pada kematangan fisik, kognitif, emosi, dan kepribadian anak.”

Berikut beberapa tips mendidik anak yang baik, seperti disampaikan Jovita:

1. Ayah dan ibu harus kompak memilih pola asuh yang akan diterapkan kepada anak. Jangan plin-plan dan berubah-ubah agar anak tidak menjadi bingung.

2. Jadilah orangtua yang pantas diteladani anak dengan mencontohkan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai anak dipaksa melakukan hal baik yang orangtuanya tidak mau melakukannya. Anak nantinya akan menghormati dan menghargai orangtuanya, sehingga setelah dewasa akan menyayangi orangtua dan anggota keluarga yang lain.

3. Sesuaikan pola asuh dengan situasi, kondisi, kemampuan dan kebutuhan anak. Pola asuh anak balita tentu akan berbeda dengan pola asuh anak remaja. Usahakan anak mudah paham dengan apa yang kita inginkan tanpa merasa ada paksaan, namun atas dasar kesadaran diri sendiri.

4. Kedisiplinan tetap harus diutamakan dalam membimbing anak sejak mulai kecil hingga dewasa agar anak dapat mandiri dan dihormati, serta dihargai masyarakat. Hal-hal kecil seperti bangun tidur tepat waktu, membantu pekerjaan rumah orangtua, rajin belajar, merupakan salah satu bentuk pengajaran kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak.

5. Kedepankan dan tanamkan sejak dini agama dan moral yang baik pada anak agar ke depannya dapat menjadi orang yang saleh dan memiliki sikap dan perilaku yang baik.

6. Komunikasi dilakukan secara terbuka dan menyenangkan dengan batasan-batasan tertentu. Ini agar anak terbiasa terbuka pada orangtua ketika ada hal yang ingin disampaikan atau hal yang mengganggu pikirannya. Jika marah, orangtua sebaiknya menggunakan ungkapan yang baik dan dapat dipahami anak.

7. Hindari tindakan negatif pada anak seperti memarahi anak tanpa sebab, menjatuhkan mental anak, sering berbohong pada anak, membawa pulang stres dari kantor, enggan mengurus anak, terlalu sibuk dengan pekerjaan,  dan lain sebagainya.

Hasto


blog comments powered by Disqus