Membership
Lupa password?
Anak

Inilah Alasan Anak di Bawah Umur Dilarang Menyetir
Jumat, 13 September 2013
anak menyetir-forumnova.tabloidnova.com

Foto: Forumnova.tabloidnova.com

Fenomena anak-anak berusia di bawah 17 tahun sudah mengendarai kendaraan sendiri memang bukan baru-baru ini saja ditemukan. Dengan alasan kepraktisan, orangtua membolehkan anaknya memiliki dan mengendarai kendaraan roda dua maupun empat di jalan raya. Padahal, menurut Ana Surti Ariani, Psi. , Psikolog anak dan keluarga, hal ini justru akan membahayakan Si Anak dan orang lain.

“Karena ada hal-hal yang membedakan pada anak remaja. Diberlakukannya aturan pemilik SIM minimal berusia 17 tahun itu tentu bukan tanpa alasan,” ujar psikolog yang akrab disapa Nina ini.

Apa saja hal-hal yang membedakan tersebut? Simak penjelasan yang dipaparkan Nina berikut.

1. Faktor Fisik

Secara fisik, kendaraan roda dua maupun roda empat didesain untuk ukuran tubuh orang dewasa. Pengukurannya berdasarkan rata-rata panjang kaki dan tangan orang dewasa. Sementara remaja, apalagi anak yang tergolong praremaja, umumnya belum memenuhi ukuran rata-rata tersebut.

Oleh karena tinggi badan belum setara dengan desain kendaraan, maka ketika anak menyetir, menjadi tidak ergonomis. Akibatnya, pengendara akan merasa mudah lelah dan hilang kesigapan sehingga berbuntut membahayakan diri maupun orang lain.

2. Faktor Kognitif

Tak dapat dipungkiri, kemampuan berstrategi anak di bawah usia yang ditentukan tersebut pun terbilang masih di bawah orang dewasa. Hal ini akan berpengaruh salah satunya dalam hal perhitungan.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Yakni: kapan waktu yang tepat untuk menyalip kendaraan di depan, kecepatan berapa yang harus diambil saat hendak menyusul mobil depan, dan sejauh jarak apa seharusnya dipertahankan antara kendaraannya dengan kendaraan yang ada di depannya.

Sementara remaja belum memiliki daya analisis sedetail itu sehingga sering terjadi salah perhitungan. Saat perhitungannya salah, akan banyak kemungkinan tak diinginkan yang bisa terjadi.

3. Faktor Emosi

Sementara secara emosi, anak remaja pun masih cenderung labil alias belum terlalu piawai mengendalikan kendaraannya. Ia masih bisa terpacu untuk “panas-panasan” atau mudah dipanas-panasi. Misalnya, disalip sedikit saja ada kemungkinan anak terprovokasi dan tanpa pikir panjang langsung berniat balas menyalip kendaraan lain. Contoh lainnya ketika ia melihat kendaraan lain yang memacu tinggi kendaraannya. Si Anak akan merasa “tersaingi” dan ikut-ikutan. Hal ini pun bisa memicu kejadian-kejadian yang tak diinginkan.

Annelis Brilian


blog comments powered by Disqus