Membership
Lupa password?
Anak

Gemar Buka-Buka Dompet
Senin, 17 Januari 2011
Anak 80 3

Rohedi/nakita

J angan menganggapnya lancang apalagi berniat mencuri. Perilakunya itu merupakan bagian dari proses perkembangannya. Jadi, wajar saja, ya, Bu-Pak.

Rasanya tak ada anak usia batita yang tak pernah bongkar-bongkar dompet/tas orang tuanya maupun orang lain semisal tamu. Kebanyakan orang tua cenderung memandang negatif perilaku tersebut. Dianggapnya, tak sopan dan lancang. Bahkan, ada pula yang sampai berpikir anak berniat mencuri. Tak heran bila orang tua malunya bukan main kala anaknya "ketangkap basah" buka-buka dompet/tas orang lain.

Padahal, kita sebenarnya tak perlu malu, apalagi sampai berpikiran negatif. Soalnya, "batita masih benar-benar polos. Niatnya buka-buka dompet atau tas sama sekali bukan lantaran ia lancang, apalagi mengarah pada keinginan mencuri. Anak usia ini, kan, belum mengerti nilai uang, konsep besar-kecil, maupun penting dan berharga atau tidak," terang Yohana Ratrin Hestyanti, Psi. dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta. Jadi, enggak fair, ya, Bu-Pak, bila kita menuduhnya demikian.

Perilaku buka-buka dompet/tas, menurut psikolog yang akrab disapa Jo ini, disebabkan anak usia ini punya dorongan kebutuhan bereksplorasi yang sangat besar. "Saking besarnya dorongan ini, ia tak mempedulikan lagi apa objeknya. Semua hal dijadikannya sasaran bereksplorasi, termasuk dompet dan isinya." Pokoknya, sepanjang objek itu dianggap menarik, ia pasti ingin tahu lebih jauh tentang benda pilihannya itu. Entah dengan memegang, meraba, membuka, memencet, mendorong, menjatuhkan, atau membongkar. Itulah mengapa, dompet/tas tamu pun jadi sasaran eksplorasinya.

Selain itu, dorongan bereksplorasi juga tak kenal tempat dan waktu. Hingga, di mana pun dan kapan pun, jika ia sudah tertarik pada suatu benda, ia langsung mengutak-atiknya. Sampai-sampai, saat kita bertamu atau kedatangan tamu pun, ia bisa saja melakukan "kegemaran"nya buka-buka dompet/tas.

GALI RASA INGIN TAHUNYA

Jadi, Bu-Pak, perilaku si kecil yang demikian wajar adanya. Justru bila kita memahami kebutuhan anak usia ini semata-mata untuk bereksplorasi, anak jadi memperoleh banyak masukan dan keuntungan. "Paling tidak, kalau aware, kita akan berusaha memahami proses perkembangan anak. Termasuk mengenali ia memang tak berniat usil, apalagi mencuri karena ia hanya tengah memasuki fase untuk menggali pengetahuan seluas-luasnya," tutur Jo.

Dengan demikian, sikap positif kita makin merangsang si kecil bereksplorasi secara sehat. Hingga, kita pun tak serta merta menghardik, "Enggak boleh!" kala ia menggeratak dompet/tas, melainkan mencoba mengkomunikasikannya, "Adek sedang apa? Dompet Bunda bagus, ya? Adek suka? Adek lagi cari apa, sih, di situ?" Jadi, kita berupaya menggali rasa ingin tahunya sekaligus "mendorong"nya bahwa tindakannya buka-buka dompet bukan kesalahan.

Baru kemudian secara perlahan, terlebih jika usianya sudah 1,5 tahun, kita kenalkan ia pada konsep kepemilikan, "Ini, kan, dompet Bunda, bukan punya Adek." Jangan lupa, anak usia ini belum mengerti konsep kepemilikan. Itulah mengapa, kita tak boleh mengatakan "kegemaran"nya ini sebagai tindakan lancang atau tak sopan.

MINTA MAAF

Tentu ia harus diajarkan pula, ada hal-hal tertentu yang tak boleh dilakukannya semisal merusak. Jadi, kala ia mulai menunjukkan keinginan menekuk-tekuk KTP atau SIM, misal, kita harus memberinya peringatan, "Eit, enggak boleh, Sayang. Nanti rusak."

Tapi jangan gunakan nada tinggi atau keras saat mengingatkannya, ya, Bu-Pak. Jangan pula panik atau heboh saat melihat ia menggeratak. "Bila kita teriak, ia pasti kaget atau malah menangis," ujar Jo. Dampaknya buruk, lo, buat si kecil bila kita kerap lepas kontrol seperti itu. "Anak jadi merasa tak nyaman dan takut."

Jika lepas kontrolnya cuma sesekali, saran Jo, minta maaf pada anak. "Maaf, ya, tadi Mama karena kaget jadi bentak Adek, deh. Mama nggak bermaksud memarahi Adek, kok, Mama cuma khawatir dompet atau kartu-kartu penting Mama rusak." Permintaan maaf dan penjelasan seperti ini membuat si kecil kembali merasa "terangkat", hingga dampaknya tak sedemikian buruk.

Anak seusia ini, terang Jo pula, justru lebih gampang menangkap apa yang kita sampaikan bila menerangkannya dengan mimik hangat/ramah dan bahasa sederhana. Terlebih bila dibarengi gerakan tangan maupun kepala semisal melambai atau menggeleng.

Lain hal bila si kecil mengarah pada tindakan berbahaya atau merugikan, "orang tua perlu bersikap tegas." Katakan "tidak", lalu segera cari objek penggantinya. Kartu ATM bohong-bohongan atau uang-uangan yang tak kalah menarik, misal, hingga ia bisa teralihkan dari kartu-kartu penting dan berharga yang ada di dompet.

JANGAN IKUT NGOTOT

Bila si kecil tetap ngotot mempertahankan alias tak mau diberi objek pengganti, Jo minta kita tak terpancing menunjukkan sikap frontal atau sama-sama ngotot. "Makin kita ngotot, ia makin asyik menikmati negasi atau penolakannya." Sama halnya meng-cut dengan mengatakan, "Pokoknya enggak boleh!", yang juga harus dihindari. Soalnya, anak usia ini cenderung menunjukkan penolakan yang kuat. "Bila dilarang, malah seperti disuruh, kan? Makin dilarang, ia justru kian gencar melakukannya dan membuat kita terpancing untuk jengkel serta mencapnya dengan sebutan si bandel atau sebutan negatif lainnya."

Harus diingat pula, larangan-larangan yang kelewat sering malah memupus keinginan anak bereksplorasi. Lantaran ia merasa tak aman dan nyaman. Nah, jangan salahkan si kecil bila akhirnya ia jadi takut atau merasa terancam, hingga keingintahuannya terhenti dengan sendirinya. Selain itu, banyak larangan dan dimarahi terus cenderung mengembangkan rasa malu, serba ragu, dan tak berani melakukan apa-apa. Jika sudah begini, bukankah ia tak bisa memanfaatkan masa bereksplorasi dan mengembangkan rasa ingin tahunya secara maksimal? Akhirnya, tahapan perkembangan lain pun ikut terhambat.

Sebaliknya, bila kita selalu sabar dan mampu kontrol diri, kita bisa segera tersadar untuk memberi reaksi yang pas. Misal, dengan memposisikan diri bersimulasi sebagai pembeli dan penjual. Hingga, si kecil pun akan mengembalikannya dengan suka rela. Cara lain, carikan pengganti berupa benda lain yang tak berbahaya namun tetap menarik buat anak; bisa berupa makanan seperti permen dan cokelat, atau berupa mainan maupun bahan bacaan. Jadi, tak perlu dilarang, ya, Bu-Pak. Wong, ia cuma ingin tahu, kok.

KENALKAN PRIVASI

Solusi yang lebih mudah untuk mengatasi "kegemaran" buka-buka dompet/tas tentulah tak meletakkan benda tersebut di tempat yang mudah dijangkau si kecil. Atau, bila memungkinkan, "belikan saja dompet sederhana yang ada gambar-gambar berkarakter lucu sesuai seleranya." Katakan padanya, "Ini dompet Ibu. Untuk Adek, nanti Ibu belikan yang baru yang ada gambarnya. Adek suka gambar Hello Kitty, kan? Nah, kita cari dompet yang ada gambar Hello Kittynya, ya." Dengan begitu, selain keinginannya terpenuhi, ia pun belajar mengenal mana miliknya dan mana yang bukan.

Selain itu, tak ada salahnya si kecil dikenalkan pada konsep privasi dan sopan santun. Apalagi anak usia batita sudah mulai bersosialisasi. Misal, "Ini tas Tante Dina. Jangan dibuka-buka, ya, Dek." Hal ini juga mengajarkannya menghormati milik orang lain dengan tak mengusik atau mengambilnya. Dengan demikian, ia pun dibiasakan untuk bersibuk dengan "harta"nya sendiri, hingga tiap kali kedatangan tamu tak lagi mengadul-adul dompet atau isi tas si tamu.

"Anak usia ini akan cepat teralihkan, kok, kalau diketahui, perilaku menggeratak dompet/tas sama sekali tak ada kaitannya dengan dorongan mencari perhatian. Sekalipun perilaku tersebut ditunjukkan kala kita kedatangan tamu. "Bukankah ketika tak diawasi dan tak dilibatkan dalam pembicaraan, anak akan mencari keasyikan sendiri?" ujar Jo. Jadi, tekannya, perilaku si kecil yang demikian semata-mata lantaran tak ada kegiatan lain yang menarik perhatiannya. "Anak usia segini, kan, memang ingin menjelajah dunia, makanya enggak bisa diam."

Namun Jo tak bisa memastikan, apakah anak akan berhenti menggeratak bila rasa ingin tahunya terpuaskan dengan penjelasan dan pendampingan orang tua. "Ini proses alam dan umumnya akan berhenti dengan sendirinya, meski tiap anak bisa berbeda pada usia berapa akan berhenti." Cepat-tidaknya kebiasaan ini hilang sangat tergantung pada banyak aspek, diantaranya minat atau ketertarikan anak. "Makin banyak bidang minatnya, makin mudah ia meninggalkan kebiasaannya." Misal, sekarang ia lagi getol-getolnya menirukan ibu berdandan atau mengenakan lipstik. Kali lain, ia gemar main masak-masakan; sementara minggu-minggu berikutnya tergila-gila main sekolah-sekolahan, dan seterusnya. Faktor lain, beragamnya tokoh peniruan yang tak terbatas pada sosok ibu atau bapaknya saja.

Dengan kata lain, "kegemaran" buka-buka dompet/tas bisa jadi lantaran proses peniruan juga. Si kecil pasti pernah, dong, melihat kita atau orang lain membuka dompet atau mengeluarkan uang saat membayar belanjaan. "Nah, lewat proses imitasi atau peniruan inilah, ia ingin melakukan hal yang sama," tandas Jo.

Bagaimana, Bu-Pak? Sekarang kita jadi makin bisa memahami kelakuan si kecil, kan?

MENGOSONGKAN BENDA

Ada beberapa hal yang bisa membantu kita memahami si kecil dalam kaitan dengan "kegemaran"nya buka-buka dompet/tas, yaitu:

* Kemampuannya mengosongkan benda-benda yang dijumpainya ternyata lebih dini dimiliki ketimbang kemampuannya mengembalikan isi benda tersebut ke tempat semula.

* Baginya, kegiatan membongkar dan mengosongkan semacam itu bukan bahan lelucon yang boleh ditertawakan, melainkan "kerja" serius yang akan membantu mereka memahirkan keterampilan motorik halusnya dan mengembangkan kemampuan berpikirnya.

* Baginya, mengisi atau mengembalikan sesuatu ke tempat asalnya merupakan keterampilan yang lebih sulit dan tak terlalu memberi kepuasan ketimbang mengosongkan sesuatu. Jadi, jangan pernah berharap ia memasukkan benda-benda tertentu semahir ia mengeluarkan benda yang sama.

* Pahami ada masanya bagi si kecil sebelum ia mampu mengendalikan dorongan untuk mengobrak-abrik benda-benda "terlarang".

* Membongkar atau mengosongkan segala sesuatu merupakan pengalaman belajar yang berharga baginya, meski sangat menjengkelkan atau bahkan merugikan orang lain.

* Mengingat pentingnya tahapan ini, beri kesempatan pada anak untuk mengosongkan dompet tanpa bentakan atau larangan. Bila keberatan, sediakan benda serupa yang jauh lebih murah.

 

Th. Puspayanti /nakita

Views : 845

blog comments powered by Disqus