Membership
Lupa password?
Anak

Boleh Menangis, Asal...
Kamis, 24 November 2011
Anak Menangis

Foto: Getty Images

Tinggalkan prinsip mengabaikan anak yang menangis dengan metode yang lebih bijak dan efektif.

Pernahkah Anda melihat seorang anak menangis sambil berteriak di sebuah mal karena dia menginginkan mainan yang dipajang di toko? Memang ada beberapa anak yang menggunakan tangisan sebagai “senjata” untuk mendapatkan keinginannya. Kadang, karena sudah kehabisan akal, ada ibu yang tidak memedulikan (mengabaikan) anak, bahkan sampai memukulnya. Bukannya jera dan diam, tangisan dan teriakan anak malah semakin kencang sampai mengundang perhatian orang lain.

Kedua sikap tadi mungkin tidak sama baiknya dengan sikap anak. Tapi, sebagai manusia yang lebih dewasa, ibu atau ayah harus bisa menanganinya dengan cara yang lebih bijak. Jadi, bagaimana seharusnya menangani tingkah laku anak-anak seperti itu? Patricia Henderson Shimm , pendidik dan penulis mengatakan, orangtua justru harus lebih tenang dan tidak gelisah. “Jangan sampai frustasi saat menangani persoalan ini, karena jika tidak keadaan malah akan menjadi lebih buruk,” ujar Patricia.

Misalnya, ketika anak menangis sambil melempar botol minumannya, orangtua bisa berkata kepada anak, “Kamu boleh saja menangis. Ibu tahu kamu sedih karena Ibu tidak membelikan mainan itu, tapi jangan sampai melempar barang. Kalau botolmu itu mengenai orang lain bagaimana?”

Cari Tahu Alasannya

Nah, untuk memahami tindakan tepat saat anak “mengamuk”, pahami beberapa hal penting. Seperti contoh di atas, tunjukkan pada anak kalau orangtua mengetahui alasan anak menangis. Misalnya, anak sedih tidak dibelikan mainan, anak marah karena tidak bisa main dengan teman-temannya, atau yang lainnya.

Jelaskan juga kepada anak mengapa orangtua tidak mengabulkan keinginan anaknya. Misalnya, anak ngotot ingin membeli mainan baru. Jelaskan kepadanya, kalau mainan yang diinginkannya sudah ada di rumah atau hari itu bukan jadwal anak untuk membeli mainan baru. Atau jika kondisi ini terjadi di rumah, pandu anak dengan tegas agar ia pergi ke kamarnya. “Kamu harus tetap berada di kamar sampai kamu tenang!” Tunjukkan kalau Andalah pemimpinnya!

Ekspresikan Diri

Jangan batasi anak untuk mengekspresikan dirinya. Izinkan ia untuk merasakan apa yang dia rasakan. Ketika anak menangis tak henti, seringkali orangtua membentak anak untuk diam. Saat Anda membentaknya, perasaan anak malah akan semakin tersakiti. Anak akan berpikir, kalau ayah atau ibunya memang tidak mengerti perasaannya sama sekali. Di sisi lain, ketika anak menangis seperti itu, orangtua jangan menertawakannya. Tunjukkan lewat mimik wajah kalau Anda sangat tidak suka dengan perbuatannya.

Jangan Memukul

Ingatlah prinsip, “Boleh marah, asal jangan merugikan orang lain”. Saat anak meraung-raung sambil melempar atau merusak barang, katakan kepadanya kalau tindakannya sangat merugikan dirinya atau orang lain. Misalnya, bisa saja buku yang dia lemparkan rusak atau mengenai orang yang sedang lalu-lalang. Jelaskan kepada anak, “Kalau bukumu rusak, berarti Ayah harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli buku yang sama. Bukankah itu namanya pemborosan?”

Beritahu anak kalau perbuatannya yang mengundang perhatian banyak orang bisa mempermalukan dirinya. “Coba lihat, semua orang memandangmu. Apa kamu tidak malu? Ibu saja malu, lho.” Biasanya dengan begini, anak-anak akan merendahkan suara tangisnya.

Begitu juga dengan orangtua, saat ibu atau ayah kehabisan akal mengatasi anak seperti itu, jangan pernah memukul anak. Pemukulan bukanlah solusi. Selain bisa merusak anak secara fisik itu juga bisa merusak mentalnya. Belum lagi harga dirinya tercoreng atau anak mengalami trauma jika pemukulan itu dilakukan di depan orang banyak.

Buat Aturan

Sebelum bepergian, buatlah kesepakatan dengan anak, apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan di tempat tujuan. Misalnya, Anda ingin mengajak anak ke supermarket untuk belanja bulanan. Jangan sungkan menyebutkan list  belanja kepada anak. Tanyakan kepada anak, apakah ada kebutuhannya yang masih kurang. Jangan lupa buat perjanjian berapa lama Anda semua akan menghabiskan waktu di supermarket itu. Supaya anak tak bermain terlalu lama di sana.

Setelah membuat aturan, buat juga kesepakatan jika di antara orangtua dan anak ada yang mengingkari peraturan itu. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah dan menutup peluang anak meminta hal yang lain kepada Anda. Jika di awal Si Ibu sudah mengatakan “tidak”, sebaiknya ibu konsisten dengan sikap itu. Jangan sekali-kali mengikuti kehendak anak karena tidak tahan melihat ia menangis. Kalau Anda melakukan ini, Anda akan “kalah” selamanya darinya.

Selesaikan dengan Damai

Saat anak selesai menangis, dekatilah ia dan duduk di sampingnya. Jika memungkinkan, minta anak untuk datang kepada Anda. Perlahan-lahan diskusikan apa yang sudah terjadi. Apa alasan anak menangis, mengapa ibu atau ayah tidak bisa menuruti kemauan anak, mengapa anak tidak mau mengerti, menjelaskan kalau ia tidak seharusnya bersikap destruktif, apakah suatu saat ibu/ayah akan mengabulkan permintaannya (besok, dua minggu lagi, atau bulan depan), dan lain-lain.

Jelaskan juga kepadanya, dampak negatif dari kemarahannya. Seperti, tubuhnya menjadi letih karena menangis dan berteriak, ia dan orangtua menjadi malu (terhadap publik), dan Anda juga bisa menyisipkan pesan kerohanian, “Coba kamu ingat-ingat lagi, ketika sedang menangis dan marah pasti kamu berkata-kata dan berpikir yang tidak baik, kan. Padahal Tuhan tidak suka dengan pikiran yang buruk.”

Ketika anak mampu mengendalikan sikapnya dan jujur dengan apa yang dirasakannya, puji dia. Katakan kepadanya, kalau apa yang dia lakukan adalah hal yang benar. “Ibu senang kamu sudah tidak menangis dan marah-marah lagi. Itu tandanya kamu sudah semakin besar.” Setelah itu, jangan sungkan untuk meminta maaf kepada anak. Misalnya, “Ibu juga minta maaf, ya, karena tidak bisa membelikanmu mainan itu sekarang. Kamu bisa mengerti, kan?”

 Ester Sondang/dari Berbagai Sumber


blog comments powered by Disqus