Membership
Lupa password?
Anak

Bila Si Kecil Enggan Minum Susu
Kamis, 03 Juni 2010
Anak Enggan Minum Susu

Iman Dharma/nakita

T ak usah panik bila anak ogah minum susu. Segera cari tahu penyebabnya. Jangan justru memaksanya.

"Anak saya umur 2 tahun susah sekali minum susunya. Sampai-sampai berat badannya turun. Saya bingung sekali. Bagaimana, ya, caranya agar anak mau minum susu? Benar nggak, sih, anak harus minum susu?" begitu keluh sejumlah pembaca nakita.

Bagi anak usia di atas setahun, terang DR.H.M.V. Ghazali MBA.MM, , kebutuhan terhadap susu memang masih ada. Tapi bukan berarti anak usia di atas setahun harus minum susu. "Tidak minum susu pun, anak bisa tetap sehat. Asalkan kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineralnya terpenuhi. Susu hanya untuk menyempurnakan bila kemampuan ekonomi memungkinkan."

Sebenarnya, tutur dokter spesialis anak dari Kid's World ini, sejak usia 4 bulan pun, susu bukanlah makanan wajib. Karena si bayi sudah memerlukan makanan tambahan, seperti biskuit, bubur susu, atau buah. Bahkan harus sudah diperkenalkan dengan makanan padat lain seperti nasi tim di usia 6 bulan ke atas.

Lain halnya bila usianya masih di bawah 4 bulan, "Susu sangat bermanfaat. Justru kalau tak diberikan susu, maka pertumbuhan bayi akan tertinggal. Dan susu yang terbaik ialah ASI. Karena itu, minimal sampai umur bayi 4 bulan harus diusahakan ASI saja sebagai makanan pokoknya."

ADA SESUATU DI MULUT

Jadi, Bu, Pak, tak usah panik jika si kecil ogah minum susu bila usianya sudah di atas 4 bulan. Yang perlu dilakukan ialah mencari tahu penyebabnya. Apakah si anak diberi makanan yang keliru komposisinya? Misalnya, makanannya terlalu banyak manis-manis sehingga kadar glukosa darahnya sudah terkejar. Akibatnya, ia ogah minum susu dan bahkan, juga menolak kala disuruh makan. Lantaran ia merasa kenyang. "Bila gizi makanan anak tak seimbang antara lemak, protein, vitamin dan mineral, anak merasa tak lapar. Komposisi makanan yang tak berimbang itulah yang mengkondisikan anak jadi kenyang," jelas Ghazali.

Yang perlu diwaspadai, jika gizinya baik dan si anak pun sehat namun tiba-tiba ia menolak minum susu, mungkin ada sesuatu di mulutnya. Misalnya, sariawan, radang gusi, atau mau tumbuh gigi. Barangkali juga anak mengidap suatu penyakit yang menyebabkan ia tak nafsu dan tak mau makan, termasuk minum susu. Atau mungkin ada gangguan-gangguan di saluran pencernaan, mulai dari gangguan absorpsi makanan, sehingga makanan yang diberikan tak diserap.

Sementara pada bayi usia di bawah 4 bulan, lebih banyak dikarenakan faktor fisik atau anatomi yang terganggu. "Misalnya, pilek dan hidung tersumbat, sehingga anak bernafas sekaligus menelan di mulut. Ia tak bisa minum banyak," tutur Ghazali. Bisa jadi juga karena alergi, rhinitis, sehingga sulit diberi susu. Belum lagi jika ada gangguan di selaput lendir mulut atau di saluran cerna. Begitupun bila si bayi sudah terkena kontaminasi dengan penyakit sub klinis.

Jadi, minumnya tak bisa dipaksakan, harus dicari penyebabnya lebih dulu. Jika lantaran komposisi makanannya yang keliru, maka harus dibenahi. Tapi bila dikarenakan penyakit dan perlu bantuan dokter, ya, harus diobati dulu untuk menghilangkan penyebabnya.

TRAUMA PEMAKSAAN

Bisa terjadi pula, anak ogah minum susu justru lantaran faktor psikologis. Misalnya, ada anak yang mau minum susu di rumah neneknya, tapi di rumah tak mau. "Adanya suasana yang berubah akan mempengaruhi nafsu makan anak juga," ujar Ghazali.

Bahkan ada anak yang sampai "takut" berlebihan bila melihat botol susu. Setelah diselidiki ternyata ia bukan tak mau susu, tapi trauma pada pemaksaan yang dilakukan babysitter saat harus minum susu. Si pengasuh hanya mencari jalan pintas, ingin segera selesai pekerjaannya. Ia tak mengerti cara tersebut salah, karena pemaksaan, misalnya, dengan cara menjejali susu pada mulut si anak, akan menyisakan trauma. Sehingga lama-lama anak akan membenci makan dan menganggap susu suatu ancaman. Minum susu dibayangkan sebagai suatu penyiksaan.

"Trauma ini bisa terbawa sampai anak besar, lo," ujar Ghazali. Itulah mengapa setelah lepas dari usia bayi, tak sedikit anak yang ogah minum susu. Disamping, pada usia ini anak juga sudah punya rasa bosan dan ia bosan minum susu. Atau karena lingkungan keluarga,misalnya karena di dalam keluarga cuma ia sendiri yang minum susu dan lainnya tidak. Untuk faktor psikologis ini, penanganannya dilakukan secara kasus per kasus. Tak bisa disamaratakan karena tergantung penyebabnya.

KANDUNGAN SUSU

Celakanya, kala si anak ogah minum susu, yang sering terjadi justru orang tua memaksa.Bahkan tak jarang disertai ancaman, "Ayo, minum susu, nanti kalau tidak disuntik dokter!" atau diancam akan ditinggalkan, tak boleh ikut, dan lainnya. "Memperlakukan anak seperti itu sama sekali tak benar. Kalau anak tak mau, ya, tak mau saja. Jangan membuat anak merasa tak nyaman. Hanya karena demi kepuasan sang ibu, yang terlalu ambisius terhadap berat badan anak atau terlalu membandingkan dengan anak lain, sehingga bersifat pressure atau memaksa," jelas Ghazali.

Memang pada susu formula terdapat kandungan zat-zat yang dibutuhkan anak seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Bahkan ada pula yang ditambah zat tertentu semisal suplemen zat besi, zat yang membuat anak lebih pintar, atau zat untuk daya tahan lebih kuat, dan sebagainya. Sehingga para ibu pun "ngotot" harus memberikan susu tersebut.Apalagi jika anaknya juga sulit makan, semakin dipaksalah si anak minum susu. Karena dianggapnya susu tersebut bisa menggantikan gizi yang dibutuhkan anak dari makanan.

Padahal, "Kebutuhan gizi anak tak akan terpenuhi oleh susu-susu tersebut. Sebetulnya semua itu cuma tambahan atau suplemen. Belum tentu anak memerlukan zat tersebut," tegas Ghazali. Jikapun diperlukan, zat-zat tersebut sudah diperoleh dari makanan lain, seperti zat besi dari bayam dan hati ayam. Jadi, sangat tidak benar bila dianggap dengan minum susu bersuplemen berarti gizi anak sudah terpenuhi.

Orang tua, lanjut Ghazali, sebenarnya dapat dengan mudah menghitung kebutuhan gizi anak. Misalnya, anak umur 7 bulan, standar normalnya harus memiliki berat 8 kg dengan tinggi 67,5 cm. Ia membutuhkan 800 kalori per harinya. "Nah, mungkinkah mengandalkan susu? Berarti dalam satu hari ia harus minum susu 1,3 liter. Tentu saja mustahil anak seusia itu minum sebanyak itu. Kan, perutnya tidak muat."

TERGANTUNG KEBUTUHAN

"Kesalahan" lain yang dilakukan para ibu ialah cenderung berpatokan pada aturan minum yang tertera di kaleng kemasan susu. Jika si anak minum susu dalam jumlah yang kurang dari yang tertera di kaleng, dikatakan anaknya kurang atau ogah minum susu. Padahal, "Keterangan yang tertera itu sifatnya umum. Harus dilihat apakah anaknya besar dan kecil, apakah ia cukup memperoleh makanan padat. Karena itu semua mempengaruhi jumlah susu yang diminum. "

Mungkin saja, kata Ghazali, aturan yang tertera itu merupakan strategi bisnis semata. Artinya, ada kemungkinan takaran yang diberikan merupakan penggunaan maksimum agar susu cepat habis. "Jadi, bila anak sudah makan makanan padat, mungkin saja susu yang diperlukan tak sampai pada penggunaan yang maksimum."

Sebetulnya berapa banyak jumlah susu yang diperlukan dilihat berdasarkan kebutuhan anak. Antara lain dari berat badan. Misalnya, berat badan anak 4 kg. Ia membutuhkan 400 kalori. Tergantung jenis susu yang diminum, kira-kira 670 cc per hari. Itu bisa dibagi tiga jam sekali atau kapan anak mau. Begitu berat badan berubah, maka kebutuhan susu pun berubah.

Lainnya ialah makanan padat. Misalnya, bayi usia 7 bulan dengan berat 8 kg sudah mendapatkan satu kali nasi tim, buah sekali, biskuit sekali, bubur susu satu kali. Maka mungkin kebutuhan susunya tinggal 400 cc. Padahal mungkin waktu umur 4 bulan dia bisa 600-700 cc. Jadi, semakin banyak makanan padat diberikan, maka makin sedikit kebutuhan susunya.

Hal lain ialah tingkat metabolisme karena aktivitasnya. Anak yang banyak bergerak tentunya akan cepat lapar dibanding anak yang pasif. Karena anak yang aktif banyak mengeluarkan energi sehingga ia memerlukan asupan makanan lebih banyak lagi.

Jadi, bila anak ogah minum susu, yang terbaik ialah memenuhi kebutuhan gizinya dari makanan lain. Tentunya harus sesuai dengan persyaratan gizinya. Kalau tidak, akan berdampak pada tumbuh-kembang si anak. Misalnya, syarat yang tak terpenuhi ialah kalori atau lemak, maka berat badannya akan turun. Bila yang tak terpenuhi ialah protein, mungkin jangka panjangnya kepandaian si anak berkurang, proses pertumbuhannya yang membutuhkan protein jadi terhambat. Jika mineral yang kurang maka pembentukan gigi dan tulang yang akan terganggu.

Nah, Ayah-Ibu, bukan cuma susu yang bisa memenuhi kebutuhan si kecil. Jadi, kalau ia ogah minum susu, tak perlu cemas. Apalagi sampai memaksanya. Kasihan, kan!

Dedeh Kurniasih/nakita


blog comments powered by Disqus