Membership
Lupa password?
Anak

Anak Aktif Dan "Nakal" Tak Berarti Hiperaktif
Rabu, 28 April 2010
Anak Aktif Bukan Hiperaktif

Iman Dharma/nakita

B anyak bergerak dan tak bisa diam barang sebentar pun, hanya salah satu dari banyak ciri anak hiperaktif. Apalagi ciri lainnya dan apa yang harus kita lakukan?

Doni (3) aktif luar biasa. Tak pernah dapat duduk manis untuk waktu lama, sangat usil, senang marah-marah, dan gampang ngambek . Ibunya khawatir, jangan-jangan Doni hiperaktif.

Ternyata setelah dikonsultasikan ke ahli, Doni "normal-normal" saja. Psikolog Phineas Ekadiwira juga berpendapat begitu. Anak usia batita seperti Doni, kata Eka, memang lagi senang-senangnya bergerak dan suka bereksplorasi. "Rasa ingin tahunya besar sekali sehingga ia susah duduk diam. Maunya pergi ke sana-sini tanpa henti dan tak kenal lelah," ungkap psikolog dari Klinik Perkembangan dan Bimbingan Anak RS Husada Jakarta.

CIRI-CIRI

Jadi, apa bedanya dengan hiperaktif? Perilaku hiperaktif, terang Eka, merupakan reaksi hiperkinetik yang ditandai dengan ketidakmampuan memusatkan perhatian atau konsentrasi, aktivitas berlebihan (hiperaktivitas), dan reaksi yang terlalu cepat tanpa dipikir lebih dulu (impulsif). Ada pula yang tak disertai hiperaktivitas. Jadi, anak sulit memusatkan konsentrasi tapi tak banyak gerak, bisa lamban, sering melamun, dan sebagainya.

Cara lebih gampang untuk menentukan ciri anak hiperaktif adalah ia tak bisa mengontrol gerakannya. Duduk pun tak bisa tenang. "Kalau kita suruh duduk, paling cuma tahan 5 menit lalu terlihat gelisah. Entah duduknya goyang-goyang atau merosot ke bawah hingga terjatuh dari tempat duduknya."

Si kecil pun terkesan tak kenal lelah. Seakan energinya digerakkan oleh mesin. Kalau anak lain akan diam sesudah capek berlarian, si hiperaktif paling hanya minum sebentar, lalu bergerak lagi. Mulutnya pun tak bisa diam, terus saja berkicau. "Pokoknya, ada saja kegiatannya. Dan biasanya, apa yang dilakukannya tak satu pun yang diselesaikan. Ia akan cepat sekali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya dan meninggalkan begitu saja kegiatan sebelumnya."

Ia juga tak sabar menunggu giliran, senang menyerobot, juga sering terburu-buru dalam berbicara. Daya konsentrasinya rendah dan seolah tak mau mendengarkan perkataan orang tua. Jika mendengarkan, matanya seperti tak memperhatikan orang yang berbicara.

Tak hanya itu. Ia juga mudah terangsang dan mengalihkan perhatian, sehingga sulit untuk memusatkan perhatian, kurang toleran terhadap rasa frustrasi, dan kurang dapat mengontrol diri lantaran mudahnya terangsang disamping karena impulsifitasnya. Tuntutannya pun harus segera dipenuhi.

Di sisi lain, suasana hati anak hiperaktif juga amat mudah berubah. Baru beberapa menit terlihat gembira, tiba-tiba jadi marah-marah lalu ngambek. Akibatnya, sulit bagi kita untuk mengajarkannya berdisiplin. "Nah, karena temperamennya inilah, kadang kita sulit membedakan, apakah perangainya seperti itu atau ia hiperaktif."

Kadang, lanjut Eka, anak hiperaktif juga ditandai dengan perkembangan motorik dan bahasanya yang agak terbelakang. Misalnya, ia sulit berpakaian lantaran gerakannya yang terlalu aktif.

TUNGGU SAMPAI 6 BULAN

Nah, apakah si kecil Anda memperlihatkan ciri-ciri seperti di atas? Kalau ya, sebaiknya jangan buru-buru memvonis si kecil hiperaktif. "Lihat dulu, apakah tingkah superaktifnya itu bertahan hingga lebih dari 6 bulan atau tidak. Sebab, bisa saja ia cuma sekadar kelebihan energi. Yang seperti ini, biasanya cuma bertahan sebulan lalu ia akan kembali normal."

Perhatikan pula baik-baik, apakah perilaku aktifnya berlebihan dan tak sesuai usia perkembangan. Caranya, bandingkan ia dengan anak lain sebayanya. "Kalau tidak bisa diamnya si kecil dirasa berbeda dengan anak sebayanya, mungkin itu bisa dianggap sebagai tanda adanya perbedaan," kata Eka.

Lihat juga apakah ia bisa duduk manis lebih dari 5 menit saat menonton film kesukaannya? Sebab, anak hiperaktif biasanya cuma melirik sebentar ke teve, lantas perhatiannya beralih ke hal lain lagi. Selanjutnya lihat apakah gejala itu muncul di rumah, di tetangga, di tempat umum seperti pasar swalayan dan sebagainya, maupun dalam hubungannya dengan teman bermainnya. Sebab, bila hanya muncul dalam satu lingkungan dan tak muncul di lingkungan lain, berarti bukan hiperaktif. Tapi kalau benar hiperaktif, maka perilakunya itu juga dilakukan di segala situasi, sepanjang hari dan pada setiap kesempatan. Pendeknya, benar-benar tak kenal tempat dan waktu.

Nah, bila si kecil ternyata benar hiperaktif, sebaiknya segera konsultasikan ke psikolog anak. Sebab, kalau didiamkan saja, bisa berlanjut sampai si anak beranjak dewasa. "Memang kalau sudah dewasa, ia bisa mengontrol tingkah lakunya tapi umumnya ia akan menemukan masalah dalam pekerjaan. Cepat bosan, jenuh, tugasnya tak pernah selesai, dan antisosial."

PENYEBAB

Tapi bagaimana seorang anak bisa menjadi hiperaktif? Menurut ahli, bisa karena faktor neurologis, yaitu bagian pengendalian dan pengaturan motoriknya yang kurang matang sehingga anak tak bisa mengendalikan gerakan-gerakannya, juga karena faktor genetik, lingkungan (misalnya kekurangan oksigen saat kehamilan atau kelahiran, trauma lahir, defisiensi gizi, dan lainnya), atau faktor bawaan setelah kelahiran.

Pola asuh yang salah juga bisa jadi penyebab. Misalnya, anak berasal dari keluarga yang tak disiplin. "Mau apa saja, diizinkan. Akhirnya, ia tak bisa kontrol diri," ungkap Eka. Kendati demikian, lanjutnya, "Penyebab hiperaktif tak dapat dibedakan secara kasat mata karena semuanya terlihat dalam perilaku yang sangat aktif." Semuanya baru bisa diketahui setelah didiagnosa psikolog. "Juga lewat pemeriksaan pemetaan otak atau brain mapping sehingga akan diketahui bagian-bagian mana yang kurang matang. Selanjutnya, si anak akan dirujuk kepada ahli yang bersangkutan."

Jika penyebabnya adalah pengasuhan yang salah, "Tugas orang tua untuk melakukan introspeksi. Beri tahu dia tentang batasan mana yang boleh dan tidak."

SALURKAN ENERGI

Satu hal ditekankan Eka, "Jangan sekali-kali mencap anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas, atau bodoh. Soalnya, anak akan merasa ia betul bodoh, malas, atau nakal." Nah, kalau sudah begitu, anak akan berpikir, "Biarin, sekalian saja aku melakukan hal-hal yang demikian."

Yang juga penting, jangan menghukum anak karena perilakunya yang hiperaktif. Eka mengingatkan, perilaku hiperaktif bukanlah kesalahan si anak. Yang terjadi adalah kegagalan pemusatan perhatian dan pengendalian diri sejak lahir. "Ia tak bisa mengontrol dirinya karena kemampuan otaknya terbatas. Kalau ia dihukum, ia akan heran mengapa dihukum padahal tak melakukan kesalahan."

Yang terbaik ialah, "Terima ia apa adanya. Ia perlu dibantu untuk mampu memusatkan perhatiannya, sehingga kelak ia dapat menyesuaikan diri pada lingkungannya dengan lebih baik." Nah, salah satu caranya, dengan menyalurkan energinya secara lebih efektif. Misalnya lewat olahraga. "Dengan begitu energi anak tersalur tanpa harus merusak barang atau mengganggu orang lain."

Perlu pula diperhatikan faktor makanan si anak. Jika sumber makanan yang dikonsumsinya cukup memadai untuk ia bergerak terus, maka ia akan kelebihan energi. "Tak ada salahnya si anak berdiet. Terutama untuk makanan dan minuman yang menjadi sumber energi instan. Seperti cokelat, madu, permen, es krim, kafein, teh, minuman ringan, kismis, anggur, atau makanan-makanan yang mengandung gula lainnya." Berilah ia makanan yang asupan kalorinya hanya cukup untuk tumbuh kembangnya saja, sehingga tak banyak energi yang tersisa.

Bantulah ia melakukan relaksasi. Ketika ia mulai gelisah, minta ia untuk menarik napas pelan-pelan lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut. Lakukan hingga 10 kali. Selanjutnya, minta ia membayangkan hal-hal yang indah atau yang disukainya. "Ini bisa menghilangkan stres anak,"kata Eka.

Sedangkan untuk membantu si kecil memusatkan perhatian, ajak ia bermain puzzle atau permainan "Simon says ". Dalam permainan ini, orang tua berkata, "Simon says... ketuk pintu!" dan si anak harus mengetuk pintu. Kalau salah, ia mendapatkan hukuman. Lewat permainan ini, "Anak dilatih untuk mendengarkan respon verbal yang diucapkan orang lain dan berkonsentrasi pada perintah-perintah orang lain."

Permainan lain ialah tepukan tangan. Minta anak untuk mengangkat tangannya. Kalau ia tidak segera mengangkat tangannya, maka tangan tersebut ditepuk. "Ini juga melatih anak untuk memusatkan perhatian agar jangan sampai tangannya kena pukul."

Jangan lupa untuk memberikan umpan balik positif atau penghargaan. Bila ia berhasil memusatkan perhatian selama 15 menit, misalnya, ia akan mendapat 1 kartu. Jika ia berhasil mengumpulkan 20 kartu, maka ia boleh minta sesuatu. Jika berhasil mengumpulkan 100 kartu, ia akan mendapat hadiah lebih besar lagi. Dengan demikian, anak bersemangat untuk memperbaiki perilakunya dan melatih konsentrasinya sehingga lama-lama akan jadi terbiasa. Tentunya penghargaan tak melulu harus berupa hadiah. "Pujian atau ciuman juga bisa dijadikan sebagai penghargaan dan ia pasti akan senang menerimanya."

Indah Mulatsih/nakita

Views : 10211

#Tag :


blog comments powered by Disqus