Membership
Lupa password?
Anak

7 Kunci Pola Asuh Anak
Jumat, 02 November 2012
ibu dan anak

Ilustrasi

Pola asuh adalah gaya merawat anak yang dapat memberikan hal terbaik bagi anak maupun orangtua. Salah satu yang menjadi acuan pola asuh paling diminati para orantua adalah attachment parenting atau pola asuh terikat orangtua-anak. Bagaimana menerapkannya? Berikut beberapa hal pokok yang perlu diterapkan untuk menjalankan pola asuh terikat.

1. Ikatan Lahiriah

Cara bayi dan orang tua memulai hubungan satu dengan yang lain dapat menjadi awal dari sebuah pola asuh. Pada minggu-minggu pasca kelahiran merupakan periode sensitif, dimana ibu dan bayi secara unik ingin menjadi dekat satu sama lain. Merawat sendiri bayi setelah lahir, secara alami akan mendorong kedekatan ibu dan anak secara biologis, intuitif, serta didapat kualitas pengasuhan terbaik bagi ibu dan anak. Dimana ibu dan anak yang merupakan pasangan biologis ini akan saling memenuhi kebutuhan, baik bayi yang berkebutuhan tinggi akan ibunya maupun ibu yang selalu siap memberikan yang dibutuhkan oleh bayi.

Terkadang komplikasi medis Ibu dan bayi terpisah sementara waktu. Ini jangan dijadikan masalah besar. Ketika kondisi Ibu telah memungkinkan, Ibu dapat mengejar proses bonding sesegera mungkin. Dimana bonding merupakan hasil dari serangkaian langkah-langkah yang dilakukan seumur hidup bersama anak. Semakin lama ini dilakukan, akan menjadi semacam lem instan yang mengukuhkan hubungan ibu-anak selamanya.

2. Menyusui

Menyusui juga merupakan latihan dalam membaca perilaku bayi. Menyusui membantu Anda membaca isyarat serta bahasa tubuh bayi, yang merupakan langkah pertama mengenal bayi. Menyusui memberi bayi dan ibu awal yang baik bagi kehidupan kelak. Dimana ASI mengandung nutrisi bangunan otak unik yang tidak dapat diproduksi oleh pabrik. Menyusui juga mendorong produksi kimia tepat antara ibu dan bayi, dimana aktivitas ini dapat merangsang tubuh memproduksi prolaktin dan oksitosin yang memberi dorongan pada ibu.

3. Mengganti Pakaian Bayi Sendiri

Seorang bayi belajar banyak dalam pelukan seorang Ibu. Bayi tak terawat tidak akan terlalu rewel dan lebih tenang (tidak sering terjaga maupun menangis). Perilaku ini ditunjukkan oleh bayi yang belajar banyak dari lingkungannya. Saat Ibu memakaikan pakaian maupun mengganti popok bayi sendiri, ini juga akan meningkatkan sensitivitas orangtua. Bayi yang dekat dengan orangtua, lebih dapat dikenali dengan baik. Kedekatan ini mendorong terjadinya keakraban.

4. Tidur Dekat Bayi

Menjadi rekan tidur bayi terutama di malam hari akan menambahkan sentuhan orangtua terhadap bayi. Ini sangat bermanfaat, khususnya bagi orangtua yang sibuk di siang hari untuk terkoneksi kembali dengan sang bayi di malam hari. Apalagi malam hari adalah waktu yang menakutkan bagi anak kecil sehingga tidur dekat orangtua meminimalkan kecemasan dan membantu bayi belajar tidur dengan tenang.

5. Hargai Bahasa Tangisan Bayi

Sebuah tangisan merupakan sinyal keberlangsungan hidup bayi sekaligus perkembangan sebagai orangtua. Menanggapi tangisan bayi secara sensitif dapat membangun kepercayaan orangtua-anak. Dalam hal ini, bayi percaya orangtuanya responsif terhadap kebutuhannya. Orangtua pun secara bertahap belajar percaya pada kemampuannya secara tepat memenuhi kebutuhan bayi. Hal ini meningkatkan komunikasi orangtua-anak. Kelak, bayi menangis hanya untuk berkomunikasi, bukan memanipulasi.

6. Jangan Sok Melatih Bayi

Attachment parenting mengajarkan Anda menjadi orangtua yang cerdas, terutama gaya pengasuhan yang kaku dan ekstrim. Gaya kuno ini umumnya mengajarkan untuk menandai jam atau menjadwal bayi ketimbang memberi kenyamanan bagi bayi. Pengasuhan ini hanya memberi pencapaian jangka pendek, namun merugikan dalam jangka panjang. Ini bukanlah investasi yang bijaksana. Gaya ini justru membuat jarak antara orangtua dan bayi sehingga menjauhkan dari pemahaman akan anak.

Mengembangkan pola asuh sebenarnya cukup dilakukan secara insting orangtua. Jika Anda telah merasa cukup terkoneksi dengan bayi, cukup lakukan bongkar pasang pola asuh. Tetap lakukan yang masih efektif bagi bayi, serta buang pola asuh yang kurang tepat dengannya.

7. Keseimbangan

Memberi terlalu banyak pada bayi, hanya akan mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan pernikahan Anda. Anda perlu belajar menempatkan keseimbangan dalam pengasuhan sehingga mampu responsif secara tepat terhadap bayi. Ketahui kapan harus berkata "ya" dan kapan harus berkata "tidak," dan memiliki kebijaksanaan untuk mengatakan "ya" pada diri sendiri ketika Anda memerlukan bantuan. Dan ingat, pola asuh ini sangat individual pada masing-masing orangtua. Anda tak perlu memaksakan pola pengasuhan orang lain maupun orangtua Anda sendiri pada anak.

Laili/ dari berbagai sumber


blog comments powered by Disqus