Selasa, 15 Desember 2009
Usaha Terus-Menerus Kena Tipu (2)
Kini? Supermarketnya didatangi oleh orang-orang kaya dan asing dari seluruh Jakarta, Bu. Bob Sadino sendiri malah sudah menjadi “Publick figure” yang diundang kiri-kanan untuk memberi ceramah sampai main film. Hidupnya tentu saja “bergelimang uang”, Bu. Tetapi saya yakin ia memang layak menikmatinya, karena semua itu merupakan hasil jeri payah dan jatuh bangunya selama ini.
Daftar ini panjang sekali, Bu, kalau mau dicari, namun manfaat inti yang dapat ditarik adalah kenyataan bahwa hidup memang tak selamanya berlangsung “mulus”. Ya, mengucapkan “hidup seperti roda pedati, ada naik ada turun” memang mudah. Tetapi menjalankannya, sakit sekali Bu.
Toh, life goes on ya Bu, hidup berlangsung terus dan harus diarungi. Karena itu, tak ada kiat lain kecuali menumbuhkan harapan dibarengi kerja keras untuk memulai semuanya dari awal lagi. Yang penting, kalau selama ini Ibu dan suaminya mampu menjaga “kepercayaan”, maka orang lain tentu mau membantu.
Soal saudara kandung? Ah, itu mah cerita lama, Bu. kalau Ibu mau tidak sakit hati, ikuti deh saran saya ini. JANGAN PERNAH BERHARAP bahwa saudara kandung akan memahami seluruh keinginan dan harapan kita. Tidak usah uang kok Bu, perhatikan sesama saudara saja, harus diakui kini mulai menjadi “barang langka”.
Menurut pengamatan saya, kalau orangtua masih ada memang beliau-beliau itulah faktor pengikatnya. Kita bertemu karena masing-masing mengunjungi rumah “gadang”nya. Begitu keduanya tiada, berkumpul bersama saja sudah merupakan kemewahan, Bu. Baik karena kesibukan maupun prioritas hisup yang ditetapkan masing-masing pribadi.
Akan makin sakit hati kalau Ibu mengharapkan mereka akan melakukan hal-hal yang Ibu lakukan terhadap mereka. Karena itu, saran kedua, jika Ibu lakukan sesuatu untuk saudara kandung, apakah itu memberinya perhatian, barang atau bahkan pinjaman, hati Ibu harus otomatis disiapkan bahwa semua itu Ibu lakukan secara IKHLAS. Jangan sekali-kali mengharap ada di antaranya yang akan berbuat sama seperti yang Ibu lakukan. Dengan demikian hati akan menjadi “enteng” dan pikiran dapat di”biasa”kan untuk menjadi saudara-saudara kandung seperti “pasukan cadangan” yang selalu siap menolong kita.
Bahkan sering saya amati, kawan dekat atau tetangga malah punya peluang lebih besar untuk memahami kesulitan dan masalah kita. Baik karena frekuensi pertemuan yang lebih banyak maupun karena kedekatan rumah. Meski saya menyarankan demikian, tidakberarti saya menganjurkan Ibu untuk “memutuskan” persudaraan lho, Bu. Ikhtiar dari pihak Ibu tetap saja harus dijalankan, tetapi sekali lagi yang IKHLAS (dalam arti jangan mengharapkan imbalan apa-apa). Bukankah Tuhan itu tidak pernah tidur, Bu?
Saya kok yakin sekali, kebijakan yang kita buat akan diberiNya ganjaran. Mungkin jalannya tidak terduga, tetapi justru melalui jalur-jalur yang tak pernah kita duga itu dia muncul. Terakhir, ibu pasti ingat kan, Allah tak pernah tertanggungkan oleh umat-Nya.
Jadi, sebagai orang beriman, Ibu pasti (dan mesti) kuat ya? Tentu saja, Ibu boleh menulis surat lagi, saya selalu senang menerimanya. Salam manis untuk Ibu sekeluarga.
Oleh: Rieny Hasan

