Senin, 14 Desember 2009
Usaha Terus-Menerus Kena Tipu(1)
Bu Rieny yth,
Saya adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara, yang sebetulnya secara ekonomis mampu, Bu. Bahkan dapat dikatakan saya yang paling kuat ekonominya, ketika suami masih “jaya”. Ketika itu, saya baru berumur 20 tahun, sementara suami 28 tahun. Dengan semangat tinggi, saya mengelola usaha dan membawahi 30 karyawan, namun akhirnya saya terserang penyakit ginjal.
Terpaksa suami saya mengelola sendiri usahanya. Nah, dari situlah awalnya malapetaka kami. Ia ditipu karyawannya sampai berpuluh juta, Bu. Saya lalu mencoba bangkit dengan membuka usaha lain, tetapi Bu Rieny akhir-akhir ini kok kami ditipu terus secara beruntun dan terakhir malah seluruh barang di toko kami dikuras maling.
Dulu jika ada musibah, saya punya tempat mengadu yaitu ibu saya. Namun beberapa waktu lalu, beliau meninggal dunia sehingga saya benar-benar merasa seorang diri, Bu. Saudara kandung saya, tak seorang pun yang peduli pada kami. Padahal di kota kecil tempat saya tinggal, berita kemalingan toko saya sudah diketahui oleh semua orang. Saya pun sudah menelepon kakak kandung saya dan menceritakan musibah ini sambil menangis-nangis, tapi dia tetap tidak datang menengok. Padahal jarak rumahnya tak sampai 1 km dari rumah saya. Percaya nggak, Bu Rieny? Saya merasa benar-benar ditinggalkan saudara, Bu.
Sementara saya harus tetap membayar bunga pada bank dan membayar utang pada grosir. Akhirnya, saya sampai tak berani keluar rumah, Bu. Rasanya semua orang memperhatikan saya. Tolong sekali Bu Rieny, berilah saya jalan untuk mengatasi masalah saya ini. Barangkali saja Allah menurunkan petunjuk melalui Ibu.
Terima kasih.
Ny. Menderita – Somewhere
Ny. Menderita Yth,
Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Ibu sekeluarga. Terus terang, saya agak “ngeri” membayangkan besarnya harapan yang Anda metakkan di”pundak” saya. Kalau modal, jelas saya tak punya ya, Bu. Namun mungkin saya bisa mengingatkan Ibu bahwa para pengusaha sukses itu juga pernah terkena musibah, ditipu orang atau malahan berganti-ganti usaha sebelum bertemu satu yang mantap ditekuni. Jadi Ibu tidak “sendiri” kok di dunia ini.
Bob Sadino, pengusaha terkemuka di Jakarta yang memiliki Ken Chick’s memulai usahanya dengan mempertaruhkan semua uangnya untuk membeli taksi. Taksinya disopiri sendiri dan beberapa saat kemudian berakhir dengan hancurnya mobil tersebut akibat tabrakan. Lalu, ia dan istrinya mulai berjualan telur dari satu rumah orang asing ke rumah lainnya.
Oleh: Dra. Rieny Hasan

