Sabtu, 19 Juni 2010
Multitasker atau Singletasker?
Menganggap mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan adalah metode terbaik? Ubah kebiasaan ini, karena multitasking justru menghabiskan waktu dan tidak produktif!
Tak banyak yang menyadari bahwa sebetulnya kita adalah seorang multitasker , atau orang yang melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Di kantor misalnya, tak jarang kita menerima telepon sambil membalas e-mail kolega. Di jalanan, kita memutar head unit sambil menyetir mobil. Di rumah, seorang ibu menyuapi anaknya sambil menata meja makan, dan sebagainya.
Pertanyaannya, apakah seorang multitasker lebih bagus dan lebih produktif ketimbang seorang singletasker , orang yang melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu?
Jawabannya, belum tentu, bahkan tidak sama sekali. Bisa jadi kita baru tersadar bahwa ternyata pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan bersamaan tadi tak satupun yang “selesai” bahkan dapat berujung fatal. Misalnya menyenggol mobil orang lain karena asyik mengutak-atik head unit sambil menyetir mobil di jalanan yang padat.
Fokus Menurun
Seorang multitasker ternyata juga lebih lemah dalam hal multitasking dan malah menurunkan kemampuan fokus terhadap suatu pekerjaan atau tugas yang seharusnya kita selesaikan. Menurut sebuah studi, performa seorang multitasker ternyata dinilai kurang dalam hal pekerjaan yang mereka tangani. Bagaimana mungkin bisa fokus menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas jika pada saat yang sama sibuk membalas e-mail dan telepon?
Sosialisasi Terganggu
Secara sosial, aktivitas multitaking juga akan mengganggu interaksi sosial seseorang. Contohnya, mendengarkan musik dengan ear phone sambil ngobrol dengan teman. Meskipun Anda mampu mengalihkan perhatian bolak-balik dari memilih lagu kemudian ke teman, dan seterusnya, namun secara fisik Anda tidak bisa fokus terhadap kedua aktivitas tersebut. Akibatnya, bisa jadi teman merasa diacuhkan.
Alasannya, rata-rata orang membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk kembali fokus terhadap pekerjaan yang dihadapinya, setelah perhatiannya teralihkan oleh aktivitas lain.
Membagi Jadwal
Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menghentikan aktivitas multitasking dan fokus hanya pada satu pekerjaan pada waktu tertentu. Awalnya mungkin tak mudah, apalagi kalau sudah terbiasa untuk ber-multitasking .
Misalnya, buatlah pembagian waktu, seperti 2 jam untuk sebuah aktivitas atau pekerjaan. Buatlah batasan waktu 2 jam untuk menyelesaikan proposal, kemudian 1 jam berikutnya untuk membalas e-mail , dan 2 jam berikutnya untuk meeting . Ini akan membuat Anda untuk tidak tergoda untuk mengintip e-mail pada saat Anda membuat proposal.
Jangan lupa untuk beristirahat sekitar 20 menit setelah selesai dengan satu aktivitas. Setelah itu, barulah Anda memulai pekerjaan lainnya.
Namun, Anda harus mendisplinkan diri. Yakinkan bahwa setiap menit yang Anda habiskan untuk suatu pekejaan memang benar-benar produktif. Ingat, tak ada bos yang mengawasi di belakang bahu Anda. Jadi, semuanya tergantung Anda sendiri.
Hindari Multitasking
Jauhkan diri dari interupsi. Misalnya, tutup e-mail atau Facebook saat menyelesaikan proposal kerja.
Buatlah deadline yang lebih pendek untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Anda akan takjub melihat betapa hasilnya lebih bagus dan waktu yang dihabiskan pun lebih cepat ketimbang ketika melakukannya secara bersamaan.
Untungnya Singletasking
Lebih fokus melakukan setiap pekerjaan, nyaman karena tak merasa dikejar-kejar waktu atau tergoda mengalihkan perhatian untuk aktivitas lainnya. Tak stres lagi, kan?
Produktivitas meningkat karena singletasking akan memaksa untuk tetap fokus menyelesaikannya, seberat apapun itu.
Efisiensi waktu karena dengan melakukan singletasking, Anda memiliki jadwal tak tertulis yang mau tak mau harus Anda taati. Tak ada tempat lagi untuk “diinterupsi” dengan aktivitas lain.
Lebih sabar. Penyebabnya jelas, karena Anda tak lagi merasa diburu oleh tugas lainnya. Jadi, Anda bisa dengan tekun menyimak penjelasan klien, membalas e-mail dengan detail, dan sebagainya.
Hasto Prianggoro/berbagai sumber

