Minggu, 29 November 2009

Lelah Dihantui Cita-cita (2)

Foto: Ahmad Fadilah/NOVA

Bung Adi Yth.,

Saya sudah 21 tahun bersama-sama NOVA, dan dalam setiap kesempatan, saat saya bekerja memberi pelatihan ataupun ceramah di perusahaan-perusahaan, selalu saja ada bapak-bapak yang menceritakan bahwa NOVA adalah bacaan keluarganya. Istri, anak remajanya, dan ia sendiri, katanya, merasa banyak manfaat yang didapat dari NOVA.

Bukan satu lo, Pak. Bahkan, saya baru kembali dari Palembang, di kelas saya yang terdiri dari 30 orang, saya hitung ada 12 pembaca pria NOVA. Tentu saja, saya juga tak tahu angka pasti pembaca pria, tetapi dari apa yang saya ceritakan pada Anda, percayalah, NOVA sangat layak untuk dibaca oleh pria sekalipun. Anda sepakat, kan, dengan saya? Maka, setialah membaca NOVA Bung Adi.

Coba Anda ingat-ingat deh, saat Anda bersekolah dahulu, setamatnya dari TK, Anda ke SD, lalu ke SMP, lalu ke SMA, dengan mulus-mulus saja, kan? Paling-paling, kalau tak SMA ya SMK. Namun, pada jenjang berikutnya, pilihan jurusan studi yang tersedia bagai rimba belantara. Banyak, bahkan banyak sekali, dan semuanya terasa menjanjikan masa depan yang gemilang.

Tamatan SMA tak selamanya punya informasi yang cukup tentang jenis profesi apa yang kelak bisa digeluti setamatnya dari perguruan tinggi. Bahkan, tidak sedikit lulusan SMA yang masuk jurusan studi tertentu hanya karena sahabat-sahabatnya masuk situ. Atau kebetulan ada tetangga sekolah di situ, sehingga ada teman berangkat dan pulang sekolah.

Sudah masuk kuliah dengan bayangan yang kabur tentang masa depan pekerjaannya, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan pun ternyata juga bukan hal yang mudah. Saya menduga, lebih dari 50 persen para pekerja pemula, di usia Anda, pasti sedang menggeluti pekerjaan yang bukan merupakan impian dan cita-cita mereka. Apakah mereka bertahan? Tidak semua, tentu saja. Akan tetapi, mereka yang bertahan pastilah salah satu dari dua kelompok ini.

Yang pertama adalah yang setelah menggeluti pekerjaannya lalu mampu menjawab tantangan pekerjaan yang ada dengan mengoptimalkan potensi dirinya, lalu ia juga mendapat pengakuan dan umpan balik yang positif dari lingkungannya karena bekerja dengan prestasi yang baik.

Pelan tapi pasti, ia lalu mulai benar-benar cinta dan terlibat penuh dalam pekerjaannya. Kariernya naik, dan bila ditanya, ia akan menjawab, ”Yaaah, saya tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa saya bisa betah di sini. Akan tetapi, sejak awal saya memang mencoba realistis melihat kenyataan bahwa cari kerja yang seusai dengan minat dan harapan memang tidak mudah. Kenapa yang sudah ada di tangan ini tidak saya kerjakan saja baik-baik? ”Coba dan geluti dengan kesungguhan hati, maka rasa suka itu akan datang nantinya.”

Kelompok kedua adalah yang terus terpaku dengan keinginan dan cita-citanya, sehingga apa yang sudah ada di genggamannya tidak dianggap sebagai sesuatu yang berharga dan patut dipertahankan. Dengan kerangka berpikir seperti ini, pekerjaan akan terasa berat. Sisi susah, tidak betah, tidak menantang dan tidak-tidak yang lain, lalu mengemuka dan mengalahkan apa yang sudah diperoleh.

Sampai di titik ini, tidak ada baik ataupun buruknya, karena tiap orang, kan, punya hak untuk merasa IN ataupun tidak IN dalam apa yang jadi tanggung jawab pekerjaannya. Ini menjadi buruk ketika ia mulai menyalah-nyalahkan lingkungan dan hal-hal di luar dirinya. Yang terlalu sederhana-lah, yang tak sesuai dengan pendidikan-lah, yang gajinya kecil-lah. Semua ini bermuara pada perasaan-perasaan negatif yang membuat ia jadi tak tahan lagi bekerja.

Belum lagi, kalau dalam proses ini unjuk kerjanya lalu kena pengaruh rendahnya motivasi dan pelibatan diri, sehingga akhirnya atasan merasa dia bukanlah karyawan baru yang prospeknya baik. Tinggal tunggu saja deh, yang mana yang lebih dahulu. Permintaan berhenti dari si karyawan sendiri, atau dia yang tak bisa melampaui masa percobaannya dan diberhentikan oleh perusahaan.

Kalau Bung Adi mengatakan setiap kali bekerja selalu merasa tidak cocok, berapa kali sih, Anda sudah mencoba? Tiga kali? Bahkan 10 kali pun sebenarnya adalah sebuah pembuktian bahwa Anda bukan pembelajar yang baik dari pengalaman sebelumnya. Karena, kalau Anda mampu mengambil hikmah dari pekerjaan yang pernah Anda geluti, dan semudah itu diterima, mestinya Anda adalah sosok pandai yang kurang punya fleksibilitas dan penyesuaian diri yang memadai, serta kurang sabar dalam menapaki masa awal pekerjaan Anda.

Saya sering sekali memberi pelatihan pada para karyawan baru, dan mendengar cerita betapa di tempat kerjanya itu meja pun mereka tak punya. Sehingga sebulan pertama bekerja, mereka hanya bisa duduk kalau ada karyawan lama yang sedang rapat, dinas luar kota, atau ke kamar mandi.

Akan tetapi, seorang peserta yang memang ceria dan optimis bercerita bahwa karena ia selalu gembira, maka setiap ada meja kosong, teman-temannya pegawai senior yang akan berteriak, “Heeei, ada kapling kosong nih, buruan kemari.” Baru setelah bulan kedua dia mendapat laptop dinas dan pada akhir bulan ketiga, punya meja yang permanen. Tidak semua perusahaan seperti ini tentunya, akan tetapi, sebagai pemula akan baik sekali bila kita memang membiasakan diri untuk tidak terpaku pada meja, kursi, ataupun deskripsi pekerjaan yang langsung tersaji di hadapan kita.

Tunjukkan bahwa kita adalah pekerja yang tahan banting, siap untuk bersusah-susah dahulu, bersenang kemudian, dan lebih penting lagi, menjadikan para senior sebagai sumber belajar, sehingga mereka dengan suka cita akan membantu kita melewati masa-masa awal yang tak pernah mudah ini.

Bung Adi, rasanya saya sudah pernah cerita di rubrik ini tentang seorang direktur sebuah perusahaan pakan ternak yang bonafid di Indonesia. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi pilot, sehingga ia rajin olahraga, menjaga mata agar tak pakai kacamata, tidak merokok, dan sangat pandai di sekolah. Ia diterima di sekolah penerbangan, tetapi pada penerbangan latihan yang terakhir sebelum dilantik, ia melakukan sesuatu yang dirasanya benar, tetapi dianggap salah oleh sang instruktur.

Ia mengalami kekerasan yang berakhir dengan pecahnya gendang telinga, sehingga impiannya buyar karena pilot tak boleh tuli. Singkat kata, ia sempat sangat down, tak mau melakukan apa-apa. Namun, berkat dorongan motivasi ibunya, ia bangkit lagi. Apalagi, dalam sidang yang digelar atas permintaan orang tuanya, dinyatakan bahwa keputusan yang ia ambil itu ternyata benar dan sang instruktur lalu mendapat peringatan keras. Maka, ia tetap bisa merasa puas karena tak bersalah.

Akhirnya, ia kuliah lagi, merintis karier lagi di jalan yang sangat jauh dari impiannya, dan saat bertemu saya di sebuah pelatihan, ia adalah TOP Eksekutif di tempat kerjanya, dan ia bisa berkata, “Sekarang saya disupiri pilot, Bu Rieny. Keliling dunia!”

Yang ini adalah lelucon bung Adi, akan tetapi darinya kita bisa memetik pelajaran bahwa kegagalan demi kegagalan adalah hal yang bisa terjadi pada setiap orang di muka bumi ini. Dan ini bukanlah sebuah kartu mati yang lalu membuatnya tidak bisa sukses di tempat lain. Bersikap realistis, menggeluti apa yang ada di hadapan mata dengan sungguh-sungguh dan rasa syukur pada Allah atas apa yang telah Ia limpahkan pada kita, serta fleksibilitas untuk menyesuaikan cita-cita dengan kenyataan yang ada, adalah kunci keberhasilan yang akan membawa Bung Adi ke keberhasilan hidup nantinya.

Berhentilah berkeluh-kesah, nanti Anda tak punya waktu untuk melakukan hal-hal konstruktif bagi masa depan Anda yang pastinya gemilang itu. Kalau Anda pandai di sekolah, maka IQ tinggi itu adalah aset berharga Anda, walau BUKAN satu-satunya. Di dunia kerja dan dunia tempat kita hidup, IQ tak pernah cukup untuk mendukung keberhasilan hidup, Bung. Kita harus fleksibel, tetapi tetap fokus. Ceria tetapi serius mempertahankan endurance dalam bekerja.

Lamar lagi, ya. Kali ini, bila diterima jangan timbang-timbang lagi seberapa dekat pekerjaan ini dengan gambaran yang ada di benak Anda tentang pekerjaan. Menggelutinya sepenuh hati, insya Allah akan memberi Anda pengalaman baru yang menyenangkan, dan mudah-mudahan kali ini Bung Adi bisa menemukan banyak kegairahan kerja.

Salam hangat.

Oleh: Dra. Rieny Hasan

Dilihat : 1354 orang
  • Rating :
  • 3/5 (17 votes)
blog comments powered by Disqus