Rabu, 1 Desember 2010
Haruskah Berhenti Kerja ? (2)
Perlu Evaluasi
Banyak hal yang harus dilakukan setelah istri berhenti bekerja. Salah satunya adalah melakukan evaluasi, apakah keputusan dan komitmen yang diambil sudah tepat. “Evaluasi sangat penting, enggak harus menunggu sampai 6 bulan atau setahun, misalnya. Begitu muncul unek-unek, langsung saja lakukan evaluasi,” kata Tara. Jika istri merasa ada yang mengganjal, sebaiknya diungkapkan ke suami agar bisa dicari jalan tengahnya.
Evaluasi juga merupakan ajang introspeksi kedua belah pihak, sejauh mana mereka menjalankan komitmen dan kesepakatan yang sudah diambil. Jika ternyata apa yang sudah dilakukan tidak sesuai dengan komitmen, tak ada salahnya meninjau kembali komitmen tadi.
Di dalam rumah tangga, suka atau tidak suka, masing-masing pasangan dituntut menjadi sosok yang ideal. Masing-masing memiliki harapan, keinginan, dan kebutuhan akan pasangannya. “Nah, evaluasi ini penting untuk menjaga solidnya rumah tangga, sekaligus menjaga harapan tadi. Rumah tangga yang baik dan solid adalah rumah tangga yang komunikasinya bagus, bukannya yang malah saling menyalahkan.”
Sisi Positif
Keputusan berhenti bekerja tentu melewati serangkaian proses yang melibatkan suami maupun istri. “Proses ini merupakan proses belajar dan adaptasi yang baik bagi suami istri. Mereka jadi lebih tahu apa yang diinginkan dari masing-masing pihak. Yang penting, diskusi harus berakhir win-win solution ,” jelas Reynitta. “Pasalnya, tidak semua orang mau mengalah dan mengikuti apa kata pasangannya.”
Sebenarnya, banyak keuntungan yang didapat dari Istri di rumah atau bekerja dari rumah. “Misalnya, rumah bisa lebih terkontrol, waktu untuk anak-anak dan suami juga lebih banyak, apalagi kalau anak-anak sedang dalam tahap membutuhkan perhatian kita,” lanjutnya.
Justru Pilihan Sendiri
Dua perempuan muda ini tengah berada di puncak kariernya. Alih-alih meneruskan ke jenjang yang lebih menjanjikan di perusahaannya, mereka malah memilih hengkang.
Ini murni pilihan sendiri yang didukung penuh oleh suami. Lantas, apa yang melatarbelakangi keputusan ini?
Leila Safira, 37, mantan PR Manager perusahaan kosmetik
Sebagai PR Manager sebuah perusahaan kosmetik terkemuka, aku memang dituntut untuk bisa meningkatkan sales (penjualan). Tapi, ketika penilaian kerja hanya terbatas pada mengejar target sales, tanpa melihat performance dan aspek lainnya, itu sangat bertentangan dengan idealismeku.
Akhirnya aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Untuk apa aku kerja kalau tidak memiliki passion? Pengunduran diri ini memang sudah kurencanakan sejak awal, tapi niatnya baru akan kulakukan dua tahun lagi di saat anakku masuk SD. Karena kupikir, saat itu dia pasti sangat membutuhkan perhatian lebih dariku. Suamiku sangat mendukung keputusanku ini. Dua tahun ini dia melihat aku bekerja lebih banyak stresnya daripada senangnya. Jadi, “Let’s do it!” katanya.
Fifi Alvianto, 25, mantan Motion Graphic Desainer TV Swasta Lokal
Mengundurkan diri dari pekerjaan sebenarnya tidak pernah terpikir olehku.
Tadinya aku cuma mau ambil cuti besar saja paska keguguran yang kualami pertengahan tahun ini. Saat cuti itulah aku melihat, fashion blog (hijabscraf.blogspot.com) yang kurintis bersama sahabatku sudah berkembang pesat dan sangat menyita waktuku.
Hingga kemudian aku memutuskan untuk resign dari kantor agar bisa fokus mengurus website ini. Penghasilanku dari website ini memang tidak seberapa jika dibanding dengan gajiku di kantor dulu, tapi ini lebih menyenangkan. Enggak menyangka juga kalau melalui website ini kami akan mengeluarkan buku tentang fashion. So, rasanya aku tidak menyesal sudah memilih resign.
Hasto, Ester

