Minggu, 10 Mei 2009
Digosipkan Teman Sekantor (2)
Mohon maaf, jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, dari sisi organisasi pengukuran kinerja menjadi tak jelas, dan atasan tak punya cukup wibawa pada anak buahnya. Bahkan, seringkali juga menjadi bahan gosip empuk bagi para bawahan.
Erosi kewibawaan menyebabkan rasa percaya dan saling menghormati, trust & respect tak berkembang. Sehingga tak ada kebiasaan menghormati privacy orang lain dan tak ada budaya keterusterangan. Bisik-bisik dan bicara di belakang punggung orang lalu menjadi kesenangan yang menyita waktu.
Oleh karena tak terbuka, maka orang ini tak merasa harus bertanggung jawab atas apa yang ia katakana atau perbuat, dan bahkan bila tertangkap sekalipun - dalam arti ketahuan belangnya saat di konfrontasi atau diadakan cek dan ricek - tipe seperti ini bisa sekali memasang muka tak berdosa dan menyangkal. Pokoknya, munafik abis!
Lingkungan seperti ini pastilah tidak sehat bagi mereka yang berangkat dari rumah dengan niat untuk bekerja optimal dan tak mau merendahkan diri untuk menjadi penggosip. Tetapi apa daya, niat baik terkadang harus tenggelam untuk sementara, bila mayoritas memang berbudaya gosip.
Tetapi, saya ingin menyarankan agar Anda tak perlu menjadi bagian dari mereka, karena walau sementara tenggelam atau hal-hal piositif hanya sayup-sayup sampai, bila tiba waktunya, kebenaran akan nyaring sekali gaungnya! Dan, bila ini terjadi, mereka yang dibuat menderita oleh mayoritas yang ngawur tadi akan merasakan buah kesabaran yang amat manis. Maka, jangan jadi penggosip, ya, Bu N?
Sepintas kita bisa mengatakan, „Ah, Bu N ini, kok, mengada-ada sih? Yang begitu, kan, bukan masalah berat." Tidak selalu demikian. Mereka yang punya kepribadian kuat, bisa leluasa bicara dan menyampaikan unek-unek, berani tampil berbeda dengan lingkungan bila ia merasa dirinya benar, tak punya masalah dengan tekanan kelompok seperti itu.
Tetapi group pressure mudah sekali berdampak pada mereka yang memang tak pede dari sananya, merasa butuh dukungan dari geng (kelompok), nyaman bila mengadopsi nilai-nilai kelompok, walau sebenarnya tahu hal itu tak benar, dan makanya lalu rentan bila dijadikan obyek perhatian yang memunculkan perbedaan dirinya dengan lingkungan.
Coba tengok bila ada berita pemogokan di teve, bagaimana cara mereka yang sudah di luar mengojok-ojok temannya untuk ikut? Saya tak mempersoalkan demonya, tetapi dinamika yang membuat orang akhirnya ikut, itu adalah keputusan yang sangat psikologis sifatnya. Oleh karena yang lain begitu, tak enak bila tak melakukan hal yang sama. Namanya bisa indah-indah. Solidaritas, kompak, sehati, senasib sependeritaan, dan sejenisnya.
Tetapi, tetap saja bila tak ada kebenaran di dalam nilai-nilai yang mendasari terbentuknya kelompok, hampir pasti norma kelompok yang dikembangkan pun tak akan membuat orang-orang dilingkungan itu akan nyaman. Inilah hal-hal yang membangkitkan eksklusifisme yang salah kaprah, menurut saya. Sebab, kompak dan sehati, tetap harus berada di atas landasan kebenaran, kejujuran, serta penghormatan atas orang lain, walau ia sedang berbeda pendapat dan pandnagan dengan kita.
Tak perlu takut lagi Bu N, tetap saja berlaku seperti sedia kala, dan kali ini dengan memasa bodohkan saja apa yang Anda dengar. Selama tak ada fakta, jangan buang waktu untuk memikirkannya! Bagaimana agar hubungan denagn suami dan anak-anak tetap harmonis, ya satu-satunya jalan adalah membangun rasa saling percaya, dengan bersikap terbuka dan saling menghormati.
Beri informasi sebanyak mungkin pada suami dan anak-anak, apa sih aktifitas Anda saat bekerja. Dengan siapa Anda bekerja sama, dan sampai lingkup mana tanggung jawab Anda. Kenalkan suami kepada atasan dan istrinya, sehinggan lingkungan kerja bukanlah barang asing bagi keluarga.
Mudah-mudahan Anda lebih happy dan tenang sekarang, tetapi juga jangan musuhi mereka yang menjahili Anda. Cukup membuat jarak, dan berinteraksi sebatas keperluan pekerjaan saja. Ini semua akan membuat penampilan Anda terasa lebih pede sehingga lingkungan perlu berpikir ulang bila mau menjahili Anda lagi. Salam hangat!
Asuhan: Rieny Hassan

