Jumat, 1 Januari 2010

Inilah Ciri-ciri si 'Gila Kerja' (2)

Foto: Dok. NOVA

2. Seorang workaholik punya kebutuhan untuk mengontrol semua hal.
Ia lebih suka mengerjakan segala sesuatu seorang diri, sebenarnya. Lazimnya karena ia memang bekerja lebih keras dari para pekerja lainnya. Ia akan dengan segera menduduki posisi manajerial. Di sini akan segera terlihat, sukar sekali baginya mendelegasikan tugas pada orang lain. Ia merasa akan lebih efisien kalau pekerjaan dilakukan seorang diri. Maka, bila diminta bekerja dalam tim, biasanya, ia akan kurang mampu menyesuaikan diri dengan kelompoknya.

3. Hanya puas dengan kesempurnaan
Bila Anda harus bekerja sama dengannya, jangan berharap ia mudah puas akan hasil pekerjaan Anda! Kritik mereka biasanya “merembet” ke hal-hal kecil dalam pekerjaan ataupun diri Anda. Sebagai pasangan hidup kritiknya pun cenderung pada hal-hal kecil yang untuk orang kebanyakan sebenarnya sepele saja, tetapi untuknya lalu terlihat penting sekali.
Karena ia sendiri menetapkan standar yang tinggi untuk keberhasilan tugasnya, dapat diduga kalau ia tak mudah puas dengan apa yang telah dicapai oleh teman sekerja ataupun bawahannya. Makanya ia selalu menuntut orang untuk menampilkan kinerja sebenarnya kriterianya tidak realistik.

4. Seorang workaholik biasanya sukar menjalin hubungan yang mendalam dengan orang lain.
Walaupun tahu bagaimana cara mempertahankan minta dan daya juang untuk mencapai cita-cita pekerjaannya, biasanya ia sudak tak punya “daya” untuk mempertahankan kelangsungan kehangatan dan kedalaman hubungan dengan istri, teman dekat, dan orang-orang terdekat di lingkungannya.

Lebih mendasar lagi, yang ada dalam benak seorang workaholik adalah kepercayaan di dasar hatinya, ia memang tak bisa bersandar, atau mengharap pada siapa pun di dunia ini, kecuali pada dirinya sendiri! Pada awalnya, kita bisa saja melihatnya sebagai individu yang agak-agak “misterius” atau penyendiri. Tetapi setelah kita bergaul cukup mendalam, segera terasa sesungguhnya ia memang dingin dan sukar menjalin komitmen (keterikatan) yang didasari oleh perasaan kesetaraan (perasaan ia memiliki “derajat” yang sama dengan orang lain karena ia memang merasa “lebih dari orang lain”).

Kondisinya berdampak paling serius terhadap ikatan erkawinan (atau pacaran) karena biasanya ia memandang CINTA sebagai sesuatu yang tidak ada granisnya (bahwa kalau tidak ada garansi tertentu. Ia akan juga mendapat sejumlah itu dari pasangannya). Karena itulah, secara tidak sadar, ia selalu membentengi dirinya agar tidak terlalu dalam terlibat dalam mencintai oranglain.
Padangan hidupnya biasanya kan merasakan gejala ini sebagai perasaan dengannya karena ia sebenarnya “takut” kehilangan kontrol atas dirinya kalau ia terlibat terlalu dalam dengan pasangan hidupnya.

Dok. NOVA

Dilihat : 1370 orang
  • Rating :
  • 0/5 (0 votes)
blog comments powered by Disqus