Membership
Lupa password?
Taman

Kenali Sifat Tanaman Hias (1)
Senin, 30 April 2012
Griya Tanaman

Foto: Ahmad Fadilah/Nova

Mengenali karakter tanaman hias yang akan ditanam, tentu akan membuat tanaman kesayangan tumbuh maksimal.

Menurut Ir. Slamet Budiarto , ada dua jenis tanaman hias, yakni tanaman hias dalam pot (pot plant ) dan tanaman hias landscape (landscape plant ). Karakter keduanya sangat berbeda. Pot plant  berkarakter kompak dan tampil indah saat sendirian. Sementara karakter tanaman landscape  lebih bagus ketika ditanam secara bergerombol.

Pot plant  terdiri atas tanaman hias berbunga indah dan tanaman hias berdaun indah. Sementara yang termasuk tanaman landscape  di antaranya rumput, tanaman border  (pagar), semak, tanaman peneduh, tanaman sebagai point of interest , serta bunga dan daun potong,” lanjut Manajer   Operasional Godong Ijo , Sawangan, Depok ini. Setiap tanaman juga punya syarat tumbuh tertentu. Namun, secara umum, syarat tumbuh tanaman ada tiga, yaitu penyiraman yang cukup/baik, pemberian pupuk yang rutin (rata-rata 2 minggu sekali), dan sinar matahari yang sesuai.

Tetap Butuh Perawatan

Tanaman hias yang berada di dalam pot alias pot plant  memerlukan karakter media tanam yang tepat. Biasanya, media tanam yang dibutuhkan berbentuk remah dan tidak padat. Dari segi ukuran, ukuran pot plant  ada yang di bawah setengah meter, namun ada juga yang mencapai satu meter.

Pot plant  dibagi lagi menjadi tanaman hias naungan dan tanaman hias tahan panas. Ini berkaitan dengan penempatannya. “Apakah tanaman itu tahan panas yang bisa ditempatkan di tempat yang panas, misalnya di halaman, atau tanaman naungan yang lebih suka ditaruh di teras atau awning  di mana matahari yang diterima tidak penuh atau hanya separuhnya,” jelas Slamet.

Yang termasuk tanaman hias naungan biasanya tanaman hias daun seperti anthurium , aglonema , atau philodendron . Sementara tanaman hias tahan panas misalnya adenium , eforbia  dan lain-lain.

Untuk tanaman landscape , syarat tumbuhnya pun serupa. Perbedaannya, air tak lagi menjadi faktor utama. Pasalnya, media tanamnya besar/luas, sehingga kekurangan air selama 1-2 hari pun tak masalah. “Namun, tetap saja butuh perawatan. Misalnya, enam bulan sekali ganti media atau gemburkan kembali tanah,” saran Slamet. Kebutuhan pupuk untuk tanaman landscape juga lebih sedikit dibanding tanaman hias di dalam pot. Ini semata-mata karena tanah sebagai media tanamnya sudah mengandung pupuk. Bahkan, dedaunan yang jatuh ke tanah pun lama-kelamaan akan menjadi pupuk.

Penyiraman taman

Penyiraman merupakan salah satu aspek perawatan tanaman yang wajib dilakukan. (Foto: Hasto/NOVA)

Sinar Hingga Siram

Menurut Slamet, kalimat, “Tanganku nggak ‘dingin’, kalau nanam  sesuatu pasti mati” adalah salah. “Menanam itu soal keterampilan, bukan soal tangan panas atau dingin,” tegasnya. Yang paling penting justru bagaimana kita mengenal karakter tanaman dan memperlakukannya. Salah satunya tidak mengabaikan hal-hal kecil yang ternyata penting.

Contohnya, tanaman yang mudah distek itu tanaman yang seperti apa, sih? Jawabannya, tanaman yang ketika dipotong mengeluarkan getah bening. Pengetahuan ini akan membantu seseorang ketika hendak melakukan perbanyakan, dengan stek, cangkok, atau biji.

Yang juga penting adalah pengetahuan tentang matahari, penyiraman, pemupukan, dan media tanam. Sinar matahari sangat penting bagi  tanaman namun eksposnya harus disesuaikan dengan jenis tanaman. Anthurium , misalnya, tidak bisa diletakkan di bawah sinar matahari langsung karena pasti akan gosong daunnya.

Penyiraman juga harus rutin dilakukan, jangan berlebih dan jangan kurang. “Yang penting, selama tanaman potnya bolong, berarti drainasenya mudah, sehingga air lebih cepat keluar,” ujar Slamet. Pemupukan juga harus rutin tapi Anda tak perlu repot-repot mengurusi takaran pupuk. Cukup gunakan NPK seminggu sekali, lalu taburkan merata di atas media supaya tidak mengumpul di satu tempat.

Media tanam juga harus diganti, minimal setahun sekali sebab setelah setahun, media tanam biasanya akan melapuk dan padat. Pot juga harus diganti dengan yang lebih besar, mengikuti pertumbuhan tanaman. Campuran media tanam juga bisa dibuat simpel, kok. “Tak perlu repot-repot menghitung perbandingan ukuran komposisinya,” lanjut Slamet. Cara termudah mengenali media tanam yang baik adalah dengan menggenggam campuran media tanam, kemudian buka kepalan tangan. “Kalau media tanam itu jatuh menggumpal, berarti belum bagus. Kalau setelah dilepas, media jatuh menyebar menjadi remah, berarti campurannya sudah bagus.”

Hasto Prianggoro / bersambung

Views : 5100

blog comments powered by Disqus