Membership
Lupa password?
Interior

Rumah Bernuansa Jepang, Kenangan di Negeri Samurai
Kamis, 17 Januari 2013
griya

Foto: Daniel Supriyono/NOVA

Tak hanya pernak-pernik yang menjadi bukti cinta Keluarga Erawan Setyanto terhadap Negeri Sakura. Unsur tradisional pun dituangkan langsung dirumahnya.

Kisah keluarga Erawan Setyanto dengan negeri Jepang bermula sekitar tahun 1988. Saat itu, Rukky Erawan mengikuti sang suami, Erawan Setyanto yang bertugas ke Negeri Sakura, tepatnya di Yokohama. “Waktu itu habis menikah, saya langsung dibawa Bapak ke sana,” kata Rukky.

Di negeri Musashi itu pula, Rukky hamil, meskipun kemudian ia melahirkan buah hati satu-satunya di Bandung.Hingga sekarang, hubungan emosi keluarga Erawan Setyanto dengan Negeri Matahari Terbit itu sangat kuat karena mereka masih sering pergi ke sana. Kecintaan akan Jepang pun menular kepada anak tunggalnya. “Jepang sudah seperti rumah kedua bagi kami,” lanjut Rukky.

Puas Setelah Renovasi

Keluarga yang tinggal di bilangan Jakarta Selatan ini kemudian membeli rumah di sebelah rumah mereka. Rumah ini lalu digabungkan dengan rumah awal sekaligus direnovasi menjadi ruangan bernuansa washitsu (rumah tradisional Jepang).

Pengerjaan renovasi memakan waktu kurang lebih sembilan bulan. “Prosesnya lumayan lama karena ada beberapa elemen yang ukurannya tidak pas dengan bidang tembok yang sudah ada.” Salah satunya, ukuran kusen pintu menuju ke garasi yang ternyata lebih besar dari temboknya. “Tembok terpaksa dipangkas sedikit di bagian atas agar kusen pas,” ujarnya.

Namun, semua penantian dan kerja keras itu lunas terbayar. Rukky mengaku menyukai hampir semua sudut ruangan bernuansa Jepang di rumahnya. “Kalau sedang santai, biasanya kami menghabiskan waktu di ruangan utama di bagian tengah,” katanya.

Ruang Pengajian

Kayu atau kusen penyangga yang tidak simetris menjadi salah satu ciri Tokonoma. (Foto: Daniel Supriyono/NOVA)

Ruang Pengajian

Tadinya, terdapat tiga kamar tidur di rumah baru yang disatukan dengan rumah lama ini. Salah satu kamar tidur lalu dijadikan ruang kerja bernuansa Jepang. Selama proses renovasi, ternyata ia dan suaminya tidak meminta bantuan arsitek. “Saya dan Bapak yang merancang ruangan-ruangannya, termasuk membuat Tokonoma ,” ucap Rukky.

Tokonoma , lanjut Rukky, adalah sebidang ruang yang menjadi titik pusat di washitsu dan biasanya digunakan untuk keperluan yang bersifat sakral. Rukky sendiri menggunakan Tokonoma sebagai area membaca Alquran.

Salah satu ciri Tokonoma adalah kayu penyangga yang bentuknya khas. “Ukuran dan posisi kayu penyangga ini tidak simetris. Tinggi-rendahnya tidak sama,” kata Rukky yang menjadikan ruangan utama ini sebagai ruang keluarga dan ruang pertemuan, termasuk menggelar pengajian rutin bersama kerabat dan tetangga.

Pesan ke Jepang

Selain Tokonoma di ruang utama, ruang tamu dan garasi juga kental nuansa Jepang. Di ruang tamu misalnya, diletakkan bunga Sakura yang dibawa langsung dari Jepang. Sementara di teras kecil di depan pintu utama, tergantung lampion-lampion khas Jepang, lengkap dengan wind chime .

Kusen pintu dan jendela pun bergaya rumah tradisional Jepang dengan aksen kotak-kotak (shoji ). Ia langsung memesannya dari pabrik YKK di Jepang. “Lebih kokoh dan bahannya berbeda,” kata Rukky.

Shoji di Jepang, lanjut Rukky, menggunakan material kayu tapi ia sengaja menggantinya dengan material semacam metal yang kuat. “Itu pun harus menunggu selama beberapa bulan. Sementara kertas penutup pintu dan jendela diganti dengan kaca dengan stiker, karena alasan keamanan,” ujarnya.

Koleksi Pernak-pernik

Rukky memang hobi mengumpulkan aneka pernak-pernik setiap kali bepergian ke luar negeri, termasuk Jepang. “Sudah sejak dulu saya kumpulkan, jadi tinggal dipindah-pindahkan saja,” ujar Rukky yang rutin membersihkan sendiri koleksinya ini.

Maka tak heran jika beberapa nuansa Jepang lain juga mewarnai ruangan. Antara lain, lampu yang dibeli di Jepang, gorden khas Jepang (noren ), partisi, pintu geser, serta beberapa pernik lain. Ornamen dan suvenir khas negeri Jepang menghiasi hampir setiap sudut ruangan.

Samurai yang ada di Tokonoma juga langsung dibawa dari Jepang. Ada kisah tersendiri tentang samurai ini. “Di airport Narita, Bapak sempat ditanya-tanya pihak imigrasi, ‘Kenapa bawa samurai?’ Untunglah akhirnya lolos karena samurai ini, kan, cuma pajangan, bukan senjata tajam,” kenang Rukky.

Hasto Prianggoro

Lokasi: kediaman keluarga Erawan Setyanto, Tanjung Barat,Jakarta Selatan, Foto-foto: Daniel Supriyono/NOVA


blog comments powered by Disqus